(pindahan dari rikariza.multiply.com, saat Raul berumur 2+ tahun)
Latar Belakang
Call me over reacted atau apa lah. Mungkin aku terlalu khawatir, but I just follow my feeling, feeling keibuan. Dulu mutusin cepet cepet speech therapy buat raul krn blm mengucapkan sepatah katapun di usia 15 bulan. Orang orang tua bisa bilang ‘ ah gakpapa, dulu si x blablabla’ Sekarang aku mutusin Raul masuk sekolah di usia yg dulu tidak pernah aku pikirkansebelumnya: 2 tahun. Dulu banget, aku mikir kaga usahlah pake PAUD2 sgala. Langsung masuk TK aja, kasian kecil2 skolah.
Tp skarang aku jadi berpikir, harus sekarang, sebelum 3 tahun!
Raul adalah anak yang cerdas, banyak bicara, banyak bertanya, tapi hanya pada kami, anggota rumah yang sama. Pada orang lain, he just won’t interact.
Ahhh biasa ituuu….
Biasa atau tidak, aku hanya membandingkan dengan teman teman sebayanya, yang SEMUA suka berkomunikasi, walaupun belum bisa bicarapun sudah suka towel towel, ekspresi sayang, ,iseng, atau apapun lah itu.
Turunan kali. Rika juga dulu kaya gitu, kata mamaku.
Exactly! I know who I am now dan aku sadar betul kekuranganku dalam berinteraksi. Aku akan menyesal jika aku tidak mengantisipasi ‘kekurangan turunan’ ini, karena kekurangan ini sering membuatku tidak nyaman. Raul harus dikondisikan untuk mengenal orang lain, diberikan kesempatan, diberikan ‘fasilitas’. Usia <3 tahun: kata MBa Eva praktisi hipnoparenting, gunung kesadarannya masih di bawah laut semua, di mana permukaan laut adalah batas alam sadar dan bawah sadar. DI bawah 3 tahun, logikanya belum bermain, semua diserap sebagai kebenaran, sehingga aku ingin memilihkannya lingkungan yang steril. Aku memang ngga sering2 mengajak Raul main dgn anak tetangga, krn sesekali kulihat anak2 yg lebih besar suka bawa pistol2an, dan melakukan adegan ‘power ranger’ like lainnya. Tapi kalau kondisi lagi ‘aman’, Raul biasa kuajak main sama tetangga. Tp lingkungan itu kurang kondusif karena aku berada di sana, dan da cenderung ‘nempel’ kek perangko dan ngajak pergi.
Ok, he has to go to a different community, without me in it. He has to learn to trust other people Pada saat aku memutuskan (stlh diskusi dgn ayah tentunya) Raul sekolah, sudah akhir tahun, dan biasanya kelompok bermain memulai ‘tahun ajaran’ nya di bulan Januari, sehingga aku hanya sempat observasi 4 sekolah (3 sempat trial, yg satu ogah krn emang dari awal dah ga nyaman)
Dari 3 trial, Raul terlihat paling nyaman di Montessori. Yang 2 lainnya, wahh hysteria deh sepanjang 2 jam. Walaupun trial tetep ditemenin, Raul bener2 mogok dan nangis jejeritan, kecuali di Cahaya Montessori. Nah, utk Montessori sendiri aku baru trial 1 tempat. Waktunya sudah terlalu mepet untuk observasi lagi, sehingga pilihannya adalah, to go to this Montessori, or not. Raul sudah 2 tahun 3 bulan. AKu ingin sblm usia 3 tahun, Raul difasilitasi dgn baik untuk mengenal lingkungan yang lain.
About Montessori, that specific montessori
Memang sih blm membandingkan dgn Montessori lain, tp aku suka dgn para fasilita
tornya. Walaupun bukan spesifik montesori islam, tp ternyata nuansa islami nya kental. Jam bermain di Montessori agak2 membuatku kaget. Jam 8 sampai 11.30, dilanjutkan makan siang dan solat jadi sampai 12.30. Unlike other preschool yg hanya 1.5 – 2 jam. Pada suatu kesempatan aku bertemu dan berbincang dgn kepseknya, yang crita puanjaaaang lebarrrr. I really like this woman, ramah, dan terlihat sangat berdedikasi dan serius terhadap pendidikan anak. Di sini lah aku dapet jawaban mengenai lamanya waktu bermain.
Pertama2 mengenai hari bermain yang ‘minimal’ 3 hari, dan harus berturut turut, ga boleh loncat2 harinya. Menurutnya, sangat penting bagi anak untuk dikenalkan dengan keteraturan, karena defaultnya, anak kecil itu sebenarnya tidak suka perubahan. Contohnya, perubahan dari menyusu menjadi tidak menyusu (disapih), pasti rewel. Perubahan dari tidur sama ibunya, menjadi tidak tidur dengan ibunya, dan perubahan2 kebiasaan lainnya. Scara tidak langsung, itu mempengaruhi ‘mood’ nya dalam menerima informasi. Jadi, apabila hari senin dia harus bangun pagi, lalu hari selasa dia boleh bangun siang, lalu rabu disuruh bangun pagi lagi, bisa jadi mood nya jadi jelek. (pembentukan kebiasaan yg kurang baik utk diterima si spongebob yg menyerap segalanya bukan?)
Tdk seperti preschool lain yang begitu masuk lalu disambut dengan ‘opening’, jreeeenggg… acara dimulai, mari kita ini, mari kita itu, ayo kita main ini, ayo kita main itu, di skolah Raul begitu masuk jam 8, kondisinya sangat santai. Anak masuk, salam sama guru, lalu dipersilakan do what he want. Sama lah kayak kita kalo ngantor, dateng jam 8 kan males tuh kalo langsung disuruh kerja. Maunya ngopi2 dulu, browsing2 liat berita, ya ga. Baru deh jam 9 ada morning circle, itupun suasanya santaii banget. Anak kecil needs time to adjust, apalagi yang seperti Raul. Karena konsepnya adalah belajar bebas, seorang anak tentunya butuh ddiberi waktu untuk bereksplorasi, melihat sekeliling dan menentukan hal apa yang membuatnya tertarik, hal apa yg ingin ia pelajari . Lalu, anak sekecil Raul sukaaaaa sekali merepetisi, mengulang ulang apa yang dia lakukan. Misalnya memotong buah2an kayu. Setelah semua selesai, maka dia akan ulangi, bukan hanya 1 kali, tapi bisa jadi 5 kali atau lebih! That is how he learn, dengan mengulang ulang aktivitas. Kesempatan untuk mengulang ini mungkin sulit didapatkan di tempat yang waktunya hanya 1.5-2 jam. Selain itu anak jg butuh waktu untuk observasi orang orang lain yang ada di dalam ruangan itu. Apalagi Raul, yang biasanya butuh waktu observasi yang cukup lama.
Di sekolah Raul jg ingin menanamkan hal hal yang memang ga mungkin dicapai dalam 2 jam, apalagi Cuma 1-2x seminggu. Misalnya aja nih main tuang menuang air. Di sini wadah air pake kaca beneran, kalau terjadi tumpah ya anak diarahkan utk bertanggung jawab, disediakan lap dll. Di sini jg terjadi interaksi anak yang lebih kecil dgn kakak2nya, sehingga anak yang kecil bisa mencontoh kakaknya dalam menyelesaikan masalah, dan kakak2nya diberi kesempatan untuk benar2 act like an older one, mengayomi, membimbing, gitu deh.
Ehm… lalu mengenai biaya, si ibu bilang hal yang kurang lebih gini, fasilitas pendukung di skolah metoda ini memang tinggi biayanya, that is unavoidable. Ya iya sih, apa yg bisa dilakukan oleh skolah swasta macem ini, subsidi juga ngga ada, pendidikan dini jg bukan kewajiban pemerintah. Tapi ketika kita menemukan cara utk memberikan yg terbaik utk anak, tentu kita akan mengerahkan segala effort untuk mewujudkan itu, termasuk dgn effort finansial. Bahasa kasarnya: “Jgn pelit deh ma pendidikan anak, kalo dah nemuin yang terbaik dan cocok, just do your best to cover that issue” Jreeeeng, membuatku termenung. Pendidikan memang bukan hal yang main main yah. Duit orangtua larinya kemana sih, pendidikan dan kesehatan anak tentunya kan. Di sekolah ini, hal itu bisa dibicarakan. Dia bilang, kalo ada masalah, mari dibicarakan. Aku ngga tau arahnya kemana, mungkin kalau anak ga mampu bisa dapet keringanan. Tapi malu kali lahhhh ngambil jatah orang yg punya SKTM. *heuheu… mari kita meyakini bisa dapat uang banyaaakkkk, hoahahahah*
About Montessori, other MOntessori
Tadi menemukan Montessori lain di seputaran Jakarta yang ternyata ‘kok lebih murah ya’. Diliat liat schedule nya, ternyata ada yang 2x seminggu, dan waktunya maksimal 3 jam, kecuali yg TK emang lebih lama. Hmmm jadi agak agak bingung dan bertanya Tanya, apa yg terjadi ya dgn konsep montesori yang dijelaskan bu kepsek di sekolah Raul. Sudah diputuskan sihh 1 taun ke dpn Raul stay di skolahnya yang sekarang aja. Tapi ke depan teteup nyari opsi yang lebih murah sihhh. Mangkanya pengen juga trial ke tempat lain dan melihat apa sebenarnya bedanya, kenapa kok bisa hanya 2 jam, bahkan ada yang senin – rabu- jum’at. *mau yg terbaik tapi murah*
Merembet ke yang lain
ayaya… isu pendidikan ini membawaku pada isu SD, SMP, dan SMA. Sekarang sekolah swasta yang menawarkan berbagai metoda canggih ada di mana mana. Kinda drives me crazy, huhuhu… lieur. Masalahnya adalah, sekolah yang ‘bagus’ belum tentu cocok anak. SD Montessori jg ada lho, tapi makkkk ga percaya deh dengan biayanya. Bener bener fantastico, hikss. Liat aja nanti dehh kalo ada rejeki yake Montessori, kalo ngga ya cari alternative lain. Tapi untuk SMP SMA, aku tergodaaaa dengan isi ceramah Yusuf Mansur. “Mau pendidikan setinggi apapun, di bidang apapun, yg penting anak membawa al Quran dalam dirinya. Lulus dari Darul Quran, bisa ke luar negri, ke a, b, c, bisa tenang, krn dia membawa Al Quran. Hoaaaaa keren banget deh ngiklannya pak ustad, tp emang bener2 bikin pengen. Siapa coba yg ga tergoda punya anak ahli AlQuran.amiiiin… Kalo kata beliau, jgn khawatir anak mendalami alquran trus ga bisa survive hidupnya ke depan. Allah penggenggam segalanya. Yah intinya mah, pelajari ilmu Allah, sedekah yang rajin, jaminan dehh rejeki ga akan seret. Amin
Cape nulis
Wednesday, November 28, 2012
(a.k.a CLODI) Mommiluna Premium-Eco Cloth Diaper (buat yang kecil kecil)
Here it goes, Enphilia sister brand, namanya Mommiluna (clodi). - yayayaya saya memang tidak suka istilah clodi, tapi berhubung clodi sudah menyebar bagaikan odol dan aqua, ya sudahlah saya pakai saja si clodi haha-. Tadinya Mommiluna ini akan digunakan untuk brand terkait ibu, entah itu nursing dress, menstrual pad, atau apa lah. Ide brand nya sebenarnya karena suka dengan salah satu produsen produk anak yang menggunakan karakter dan cerita dari tokoh yang dicreate.
jadi.. Clodi Mommiluna itu maksudnya penggambaran mommy dan anak perempuannya bernama luna. Kenapa Luna? Yah intinya sudah nyari kombinasi macam macam dan mommiluna lah yang sounds chic. Luna sendiri juga nyambung dengan istilah untuk 'bulan' .. kan nantinya pengennya ada produk menstrual pad entah kapan (jiahh.. maksa ya? tapi nyambung kaan hehe).
Tapi karena saya mau launching produk popok (clodi) ekonomis yang ngga mau di brand Enphilia, dan masa iya sih ngeluarin banyak banyak merk, jadinya Mommiluna juga dipakai deh untuk popok (clodi) modern (selain diaper bag organizer dan nursing cover). Ribet kah punya multi brand? Hooh ribet. Tapi karena branding Cilipopo juga udah kadung identik dengan produk tertentu, jadi ngga mau dicampur campur. Orang orang tampaknya sudah mengaitkan Cilipopo bagaikan menyebut Aqua atau Odol (yah walaupun belum sebeken itu yahh hihi...). Contohnya 'aku pakai Cilipopo lho... enak deh bla bla'
Batin saya Cilipopo nyang manaaa?
Tapi yaa begitu lah, daripada image branding nya terbelah, saya bikin tjap Mommiluna aja dulu (aja dulu?). Ini pun akhirnya terdengar seperti identik dengan perempuan. Ndilalah 3 motif launching juga motif cewe semua. Yahhh tampaknya butuh brand lain nih (ohhh sungguh ibubil).
Nahh begini nih penampakan Mommiluna Premium-Eco Cloth Diaper alias clodi.
[caption id="attachment_131" align="aligncenter" width="300"]
3 Motif Mommiluna[/caption]
[caption id="attachment_130" align="aligncenter" width="300"]
Packaging Clodi Mommiluna[/caption]
Ini cucok banget buat masuk toko offline, tinggal cantolin deh ke display.
Cantik yahhh??? Hihihi
Kalo ada yang merasa punya toko baby offline dan mau kerjasama, ada penawaran menariiik, langsung aza drop comment ke rumahpopok@gmail.com
jadi.. Clodi Mommiluna itu maksudnya penggambaran mommy dan anak perempuannya bernama luna. Kenapa Luna? Yah intinya sudah nyari kombinasi macam macam dan mommiluna lah yang sounds chic. Luna sendiri juga nyambung dengan istilah untuk 'bulan' .. kan nantinya pengennya ada produk menstrual pad entah kapan (jiahh.. maksa ya? tapi nyambung kaan hehe).
Tapi karena saya mau launching produk popok (clodi) ekonomis yang ngga mau di brand Enphilia, dan masa iya sih ngeluarin banyak banyak merk, jadinya Mommiluna juga dipakai deh untuk popok (clodi) modern (selain diaper bag organizer dan nursing cover). Ribet kah punya multi brand? Hooh ribet. Tapi karena branding Cilipopo juga udah kadung identik dengan produk tertentu, jadi ngga mau dicampur campur. Orang orang tampaknya sudah mengaitkan Cilipopo bagaikan menyebut Aqua atau Odol (yah walaupun belum sebeken itu yahh hihi...). Contohnya 'aku pakai Cilipopo lho... enak deh bla bla'
Batin saya Cilipopo nyang manaaa?
Tapi yaa begitu lah, daripada image branding nya terbelah, saya bikin tjap Mommiluna aja dulu (aja dulu?). Ini pun akhirnya terdengar seperti identik dengan perempuan. Ndilalah 3 motif launching juga motif cewe semua. Yahhh tampaknya butuh brand lain nih (ohhh sungguh ibubil).
Nahh begini nih penampakan Mommiluna Premium-Eco Cloth Diaper alias clodi.
[caption id="attachment_131" align="aligncenter" width="300"]
[caption id="attachment_130" align="aligncenter" width="300"]
Ini cucok banget buat masuk toko offline, tinggal cantolin deh ke display.
Cantik yahhh??? Hihihi
Kalo ada yang merasa punya toko baby offline dan mau kerjasama, ada penawaran menariiik, langsung aza drop comment ke rumahpopok@gmail.com
Thursday, November 15, 2012
Kunjungan ke Tunas Bangsa
Awalnya berniat berkunjung ke panti asuhan saat ultah Raul ke 4. Tapi yaa karena banyak agenda, nggak jadi jadi juga. Minggu ini, spontan si ayah ngajakin ke panti asuhan. Karena tidak banyak referensi mengenai panti asuhan, kami seisi rumah berkunjung ke panti asuhan balita tunas bangsa, tempat yang sama yang pernah aku kunjungi bersama teman teman milis popok kain (popok-kain@yahoogroups.com) saat sosialisasi popok kain.
Niatnya sih simply ingin mengajak bersama sama bersyukur terhadap kondisi diri sendiri, terutama mengajarkan Raul (dan Rara) untuk bersyukur, masih punya orangtua. Tapi emang jadi agak ribet sih karena kami cuma boleh mengintip dari balik jendela, itu pun pada jam besuk tertentu.
Beberapa jam sebelum jam besuk kami sudah sampai. Karena tidak bisa menengok dengan alasan anak anak sedang tidur (bisa gituhh bayi segitu bermacam macam diatur waktu tidurnya? aneh juga ya haha) Ya sudah kami nunggu deh. Sambil nunggu, kami belanja barang yang kira kira diperlukan anak anak itu. Suamiku tanya ke pengurusnya,... berhubung ini panti asuhan pemerintah, kami berasumsi segala hal relatif terpenuhi. Kami tanya apa kira kira yang kurang.
Pengurus bilang memang sumbangan banyak, tapi sesekali kekurangan juga, misalnya susu (formula) dan pampers. Oh sungguh sedih hatiku, kalau disuruh nyumbang kedua benda itu. Di akhir percakapan terkorek juga bahwa beberapa bayi alergi susu sapi sehingga harus minum susu soya. Walaupun sedih rasanya harus menyumbang susu soya, ya sudah... nggak mungkin juga aku sumbang asi untuk bayi sebanyak itu.
Sambil nunggu jam besuk kami pergi ke sebuah hipermarket, masuk ke gang bagian sufor. Actually it was awkward for me. Aku menggendong bayi dan masuk gang sufor, lalu ditanya tanya anakku umur berapa, untuk memberikan saran susu yang tepat. Buat anak macem macem umur, begitu jawabku sekenanya. Aku dan suamiku terbengong bengong melihat itu susu susu kaleng yang harganya super super jleb maknyus deh. Kami akhirnya mengambil susu soya untuk usia di bawah 1 tahun saja, karena toh di atas 1 tahun susu sapi kan bukan hal krusial. Jumlah susu yang diambil cukup besar untuk kocek, tapi jumlahnya cuman sedikiiit. Ini juga sebentar habis, pikirku. Sedih juga ya. Sungguh bersyukur Allah memberi 2R rizki asi yang cukup, ahamdulillah wa syukurillah. Allah Maha Baik. Bukan hanya good for my babies, also good for my pocket, hwekekekek.
Hm.. teringat beberapa bulan lalu aku terpaksa membuang ASI yang kadaluarsa :((
(wahhhh baru inget kaga ada dokumentasi fotonya neehh)
Btw.. gedung tunas bangsa sedang direnov, jadi anak anak dan bayi sementara diungsikan ke panti jompo di sebelahnya. Wuih... sedih jg sepanjang jalur menuju kamar bayi lihat jompo jompo pada nongkrong di luar ruangan. Ruangannya itu kamar massal gitu deh isinya bed berjejer jejer. Huhu sedih aja liatnya, orang jompo tidur beramai ramai begitu.
*sedang menyadari banyak pengulangan kata 'sedih' di atas*
Memang bagian paling menyedihkan adalah melihat kamar bayi. Ituh 1 box bayi bisa diisi 3 bayi, kadang suka saling tumpang tindih, dan masing masing pada cuek (nindihin ataupun ketindihan) ! Apa coba yang dialami bayi bayi ini setiap hari? You can guess: mimik, pupup, pipis, ganti popok, bobo, mandi. Gitu aja kan tiap hari. Dan 1 kamar yang berisi 3-6 bayi hanya dijaga oleh satu orang pengasuh (atau 2 ya?). How on earth she can handle supplying psychological nutrition for those babies? Apakah beliau mengajak ngobrol bayi bayi ini? Apakah beliau bernyanyi dan membacakan buku untuk anak anak ini? Apakah dia selalu tersenyum? I'm not sure, dan sejauh yang saya lihat, memang tidak demikian. Bayi kalo nangis disumpel empeng atau botol, lalu dilatih untuk memegang botolnya sendiri (ini bayi 0-3 bulan lho!) Yaaa aku tidak sedang menyalahkan pihak pemerintah ya. Kurasa pemerintah sudah melakukan yang baik untuk saat ini. Sudah ada PAUD, playgroup dan semacamnya. Tapi kurasa masih ada gap yah terutama buat yang masih bayi dan belum dimasukkan ke PAUD.
Penutup: Bayi bayi tersebut terbuka untuk diangkat. Syaratnya rumahtangga>5 tahun, usia suami istri minimal 30 tahun. I'm not eligible yet, belum 30 dan masih punya bayi bua diurus. Semoga ke depan rizki tambah banyak dan bisa mempertimbangkan mengasuh anak dari situ.
Niatnya sih simply ingin mengajak bersama sama bersyukur terhadap kondisi diri sendiri, terutama mengajarkan Raul (dan Rara) untuk bersyukur, masih punya orangtua. Tapi emang jadi agak ribet sih karena kami cuma boleh mengintip dari balik jendela, itu pun pada jam besuk tertentu.
Beberapa jam sebelum jam besuk kami sudah sampai. Karena tidak bisa menengok dengan alasan anak anak sedang tidur (bisa gituhh bayi segitu bermacam macam diatur waktu tidurnya? aneh juga ya haha) Ya sudah kami nunggu deh. Sambil nunggu, kami belanja barang yang kira kira diperlukan anak anak itu. Suamiku tanya ke pengurusnya,... berhubung ini panti asuhan pemerintah, kami berasumsi segala hal relatif terpenuhi. Kami tanya apa kira kira yang kurang.
Pengurus bilang memang sumbangan banyak, tapi sesekali kekurangan juga, misalnya susu (formula) dan pampers. Oh sungguh sedih hatiku, kalau disuruh nyumbang kedua benda itu. Di akhir percakapan terkorek juga bahwa beberapa bayi alergi susu sapi sehingga harus minum susu soya. Walaupun sedih rasanya harus menyumbang susu soya, ya sudah... nggak mungkin juga aku sumbang asi untuk bayi sebanyak itu.
Sambil nunggu jam besuk kami pergi ke sebuah hipermarket, masuk ke gang bagian sufor. Actually it was awkward for me. Aku menggendong bayi dan masuk gang sufor, lalu ditanya tanya anakku umur berapa, untuk memberikan saran susu yang tepat. Buat anak macem macem umur, begitu jawabku sekenanya. Aku dan suamiku terbengong bengong melihat itu susu susu kaleng yang harganya super super jleb maknyus deh. Kami akhirnya mengambil susu soya untuk usia di bawah 1 tahun saja, karena toh di atas 1 tahun susu sapi kan bukan hal krusial. Jumlah susu yang diambil cukup besar untuk kocek, tapi jumlahnya cuman sedikiiit. Ini juga sebentar habis, pikirku. Sedih juga ya. Sungguh bersyukur Allah memberi 2R rizki asi yang cukup, ahamdulillah wa syukurillah. Allah Maha Baik. Bukan hanya good for my babies, also good for my pocket, hwekekekek.
Hm.. teringat beberapa bulan lalu aku terpaksa membuang ASI yang kadaluarsa :((
(wahhhh baru inget kaga ada dokumentasi fotonya neehh)
Btw.. gedung tunas bangsa sedang direnov, jadi anak anak dan bayi sementara diungsikan ke panti jompo di sebelahnya. Wuih... sedih jg sepanjang jalur menuju kamar bayi lihat jompo jompo pada nongkrong di luar ruangan. Ruangannya itu kamar massal gitu deh isinya bed berjejer jejer. Huhu sedih aja liatnya, orang jompo tidur beramai ramai begitu.
*sedang menyadari banyak pengulangan kata 'sedih' di atas*
Memang bagian paling menyedihkan adalah melihat kamar bayi. Ituh 1 box bayi bisa diisi 3 bayi, kadang suka saling tumpang tindih, dan masing masing pada cuek (nindihin ataupun ketindihan) ! Apa coba yang dialami bayi bayi ini setiap hari? You can guess: mimik, pupup, pipis, ganti popok, bobo, mandi. Gitu aja kan tiap hari. Dan 1 kamar yang berisi 3-6 bayi hanya dijaga oleh satu orang pengasuh (atau 2 ya?). How on earth she can handle supplying psychological nutrition for those babies? Apakah beliau mengajak ngobrol bayi bayi ini? Apakah beliau bernyanyi dan membacakan buku untuk anak anak ini? Apakah dia selalu tersenyum? I'm not sure, dan sejauh yang saya lihat, memang tidak demikian. Bayi kalo nangis disumpel empeng atau botol, lalu dilatih untuk memegang botolnya sendiri (ini bayi 0-3 bulan lho!) Yaaa aku tidak sedang menyalahkan pihak pemerintah ya. Kurasa pemerintah sudah melakukan yang baik untuk saat ini. Sudah ada PAUD, playgroup dan semacamnya. Tapi kurasa masih ada gap yah terutama buat yang masih bayi dan belum dimasukkan ke PAUD.
Penutup: Bayi bayi tersebut terbuka untuk diangkat. Syaratnya rumahtangga>5 tahun, usia suami istri minimal 30 tahun. I'm not eligible yet, belum 30 dan masih punya bayi bua diurus. Semoga ke depan rizki tambah banyak dan bisa mempertimbangkan mengasuh anak dari situ.
2R's Mini Library
Sejak awal mau tinggal di rumah ini, sudah cita cita membuat perpustakaan. Tapi yaah karena satu dan banyak hal, tetep aja buku buku pada kececeran di mana mana.
Tadinya buku buku Raul (punyanya mizan ada 2 judul, dan punya Grollier ada 1) aku taruh di rak 'montessori' Raul (dikasih kutip soalnya montessori jadi jadian, haha), tapi sayangnya rak itu sepertinya pantasnya ada di ruangan tertutup dan ber AC, debunya banyak, huhu.

Nahh setelah menemukan buku masa kecilku dijual 1 seri di pameran Mother and Baby Fair, yang kubeli tanpa pikir panjang (because I know these books are worth to have) - yaitu Widya Wiyata Pertama, mulai deh saya berpikir... I have to put these books in somewhere safe from dust. Ini set buku termehel yang saya beli (dan mencicil!). Jadi kukorbankan 2 buah lemari yang tadinya mau dibuat display dagangan tapi belum terpakai, untuk tempat buku. Aku letakkan di situ bersama beberapa buah buku value-nya Mizan dan bukunya Grollier.
Hmmm... gambarnya memang berantakan yaa... masih jauh memang perjalanan saya membuat Raul mau rapi. Rak montessori di lain ruangan pun nasibnya sekarat karena semua dicampur menjadi satu.
Tapi overall, cukup puas dengam mini lib ini karena beberapa hari ini, pojok ini jadi fun corner buat Raul. Apalagi sejak beli buku Widya Wiyata yang lebih lengkapp daripada yang dulu aku punya saat kecil. Flash back sedikit ke masa lalu, little me sukaa sekali baca buku buku pengetahuan ini, tanpa disuruh. Gambar ilustrasinya menarik, dan judulnya sangat memancing curiosity. Tapiii si tokoh anak kecil berambut baskom yang selalu bawa lup dalam buku itu ternyata sudah diganti oleh maskot yang lain, hiks... yang sekarang nggak selucu duluuuh. Oh well, nggak krusial sih, haha.
Makin menariknya, ... buku ini sudah dilengkapi oleh talking pen bernama Walter, so the books are really talking to us. Investasi yang berhargaa banget. Bisa dipake sampe nanti sudah besar. Bisa dipakai sejak bayi seumur Rara (6M) atau sejak lahir. Rara berbinar banget kalau dibacakan buku ini. Well aku kurang tahu juga sih motifnya apa, sepertinya sih nafsu banget ngucek ngucek halamannya, haha.
Ada kejadian menarik sih yang aku kurang tahu juga ada hubungannya apa tidak. Aku sempat membacakan buku mengenai alam dan membuka bagian guntur dan petir. Nah aku ceritakan lah ke Rara disertai Walter yang bercerita. Ada berbagai jenis suara petir di situ dan Rara cukup kaget karena suaranya yang menggelegar. Saking kagetnya sampai mau mewek. Tapi setelah diperdengarkan beberapa kali dia jadi terbiasa. Nahh... sorenya, hari mau hujan. Aku dan Rara sedang chit chat di taman. Lalu tiba tiba, jegeerrr... suara guntur (oh iya karena baca buku itu, aku jadi tahu perbedaan guntur dan petir. Apa hayo hehe). Nah aku sudah waspada aja kalau Rara kaget. Rara memang sedikit kaget, tapi kagetnya tuh yang antusias. Her face said "Heyyyy I know this sound!", lalu dia menoleh ke arahku dan malah ketawa tawa antusias. Begitu ada guntur lagi, die ketawa lagi. Haha, lucu deh sumpah. Aku cuma bilang aja ke Rara: "Iya Rara, ini suara yang kita dengar tadi waktu baca buku".
Raul sih beda lagi. Dia nggak berhenti henti baca halaman yang ituuu ituuu aja. Emaknya cuma bisa komentar "AYo dong Raul kita baca halaman yang lain". Tapi ya gitu lahh si die keukeuh sumeukeuh baca yang itu.
Kesukaannya baca halaman yang bernyanyi:
'this is the way we brush our teeth brush our teeth brush our teeth'
Satu lagi, halaman buku tempat terkenal yang menunjukkan gedung parlemen Inggris, karenaaah di situ ada suara jam tingtong, dan Raul terobsesi sekali melihat jam. Maknya ampe bosen :))
Hmmm senangnyaa hatiku naak, investasinya nggak sia sia apalagi anak anak seneeeng banget baca buku buku tersebut.
Mudah mudahan dikasih rizki bisa memperbesar lagi perpustakaannya.
Tadinya buku buku Raul (punyanya mizan ada 2 judul, dan punya Grollier ada 1) aku taruh di rak 'montessori' Raul (dikasih kutip soalnya montessori jadi jadian, haha), tapi sayangnya rak itu sepertinya pantasnya ada di ruangan tertutup dan ber AC, debunya banyak, huhu.
Nahh setelah menemukan buku masa kecilku dijual 1 seri di pameran Mother and Baby Fair, yang kubeli tanpa pikir panjang (because I know these books are worth to have) - yaitu Widya Wiyata Pertama, mulai deh saya berpikir... I have to put these books in somewhere safe from dust. Ini set buku termehel yang saya beli (dan mencicil!). Jadi kukorbankan 2 buah lemari yang tadinya mau dibuat display dagangan tapi belum terpakai, untuk tempat buku. Aku letakkan di situ bersama beberapa buah buku value-nya Mizan dan bukunya Grollier.
Hmmm... gambarnya memang berantakan yaa... masih jauh memang perjalanan saya membuat Raul mau rapi. Rak montessori di lain ruangan pun nasibnya sekarat karena semua dicampur menjadi satu.
Tapi overall, cukup puas dengam mini lib ini karena beberapa hari ini, pojok ini jadi fun corner buat Raul. Apalagi sejak beli buku Widya Wiyata yang lebih lengkapp daripada yang dulu aku punya saat kecil. Flash back sedikit ke masa lalu, little me sukaa sekali baca buku buku pengetahuan ini, tanpa disuruh. Gambar ilustrasinya menarik, dan judulnya sangat memancing curiosity. Tapiii si tokoh anak kecil berambut baskom yang selalu bawa lup dalam buku itu ternyata sudah diganti oleh maskot yang lain, hiks... yang sekarang nggak selucu duluuuh. Oh well, nggak krusial sih, haha.
Makin menariknya, ... buku ini sudah dilengkapi oleh talking pen bernama Walter, so the books are really talking to us. Investasi yang berhargaa banget. Bisa dipake sampe nanti sudah besar. Bisa dipakai sejak bayi seumur Rara (6M) atau sejak lahir. Rara berbinar banget kalau dibacakan buku ini. Well aku kurang tahu juga sih motifnya apa, sepertinya sih nafsu banget ngucek ngucek halamannya, haha.
Ada kejadian menarik sih yang aku kurang tahu juga ada hubungannya apa tidak. Aku sempat membacakan buku mengenai alam dan membuka bagian guntur dan petir. Nah aku ceritakan lah ke Rara disertai Walter yang bercerita. Ada berbagai jenis suara petir di situ dan Rara cukup kaget karena suaranya yang menggelegar. Saking kagetnya sampai mau mewek. Tapi setelah diperdengarkan beberapa kali dia jadi terbiasa. Nahh... sorenya, hari mau hujan. Aku dan Rara sedang chit chat di taman. Lalu tiba tiba, jegeerrr... suara guntur (oh iya karena baca buku itu, aku jadi tahu perbedaan guntur dan petir. Apa hayo hehe). Nah aku sudah waspada aja kalau Rara kaget. Rara memang sedikit kaget, tapi kagetnya tuh yang antusias. Her face said "Heyyyy I know this sound!", lalu dia menoleh ke arahku dan malah ketawa tawa antusias. Begitu ada guntur lagi, die ketawa lagi. Haha, lucu deh sumpah. Aku cuma bilang aja ke Rara: "Iya Rara, ini suara yang kita dengar tadi waktu baca buku".
Raul sih beda lagi. Dia nggak berhenti henti baca halaman yang ituuu ituuu aja. Emaknya cuma bisa komentar "AYo dong Raul kita baca halaman yang lain". Tapi ya gitu lahh si die keukeuh sumeukeuh baca yang itu.
Kesukaannya baca halaman yang bernyanyi:
'this is the way we brush our teeth brush our teeth brush our teeth'
Satu lagi, halaman buku tempat terkenal yang menunjukkan gedung parlemen Inggris, karenaaah di situ ada suara jam tingtong, dan Raul terobsesi sekali melihat jam. Maknya ampe bosen :))
Hmmm senangnyaa hatiku naak, investasinya nggak sia sia apalagi anak anak seneeeng banget baca buku buku tersebut.
Mudah mudahan dikasih rizki bisa memperbesar lagi perpustakaannya.
Saturday, August 4, 2012
A Thought About Gentle Birth (2) - Home Birth
Etapiiiii…. Ternyata kesan awalku ttg GB itu salah lho. Itu memang kesanku setelah baca artikel artikel. Kesan awal GB harus begini dan bgitu. Ternyataaa setelah baca lebih dalam lagi, enggak kooo. Yang penting banyak baca, banyak tahu, sehingga nggak panikan, bisa memutuskan banyak hal berbekal keyakinan, bukan karena bingung dan terpaksa nurut.
Lalu kapan perlu intervensi? Kapan perlu induksi, sampai kapan harus menunggu setelah lewat HPL, apa boleh melahirkan normal setelah 2-3x SC, blab la bla… Aku jadi sadar nih, kenapa si forum ituh tidak pernah bisa memberi jawaban, karena memang tidak ada yang pasti. Aku mengambil kesimpulan, baca baca deh yang banyak, lalu kita bisa menentukan batasan terhadap diri kita sendiri, yang mungkin berbeda dengan orang lain. Kalau buatku pribadi, batasan kita harus pasrah terhadap intervensi adalah kondisi gawat janin, dan plasenta previa saat akhir kehamilan. Kalo hal hal yang lain, masih bisa lah kita cari wangsit dulu, hehe, ga ding, maksudnya memohon untuk diberi keyakinan oleh Allah, mau dibawa cenderung ke mana hati ini, tsaahhh.
Nah balik ke home birth, komen komen orang tuh biasanya 'iya tuh aneh aneh aja', atau menganggap wah ini ada aliran apaan lagi, tren apa lagi. Ya ya ya... barangkali memang lagi ngetren. Aku bukan orang yang gampang ikut tren. Tp tren yang satu ini buatku sangat pantas diperjuangkan dgn kondisi yang sulit mencari provider yang ideal saat ini.
Kurang lebih begini nih alasan sayah melakukan home birth
Jujur nih, home birth pada awalnya bukan pilihan. Kalau saja ada provider yang memuaskan dan terjangkau lokasinya, aku lebih baik ke rumah sakit. Ruangannya lebih nyaman ( di rumahku lagi berantakan abisss krn mau pindahan dan banyak stok dagangan), makan dilayani dengan terjamin, kalo emergency lebih cepat penanganannya.
Terlepas dari sgala macem alasan ilmiah atau kepercayaan, aku ingin menyampaikan testimoni, bahwa aku tidak menyesal melakukan home birth, dan aku bisa sangat jelas merasakan bedanya dengan proses kelahiran pertama. Yang kedua ini kondisi emosi sangat bahagia dan terkendali, apalagi didampingi ibu, suami, yang tidak ada kekhawatiran dan percaya sama aku. Percaya bahwa aku tidak mengambil pilihan salah, percaya bahwa aku bisa ngeden dengan benar (gak takut nyangkut dll), dan semua tim di rumah ngasih full support dan mengeksekusi INSTRUKSIKU (yapp… semua skenario ada di tanganku, yang lain Cuma actor yang ngikutin skrip dari aku aja). Low light room, sedikit kesejukan artifisial dari AC, aromaterapi, gymball yang bisa dijadikan tempat alternatif mencari kenyamanan saat kontraksi, lagu slow jazz yang aku pilih, anakku Raul yang bisa nengok nengok kapanpun dia mau. Semua ‘kebebasan’ ini .. just simply made me happy and in control. Keadaan ini, yang membuatku tersenyum ketika mengingatnya, mengingat momen momen penyambutan seorang anak manusia.
Last but not least... Allah lah yang punya kehendak. Allah lah yang mengatur semesta, memerintahkan seluruh elemen alam tunduk pada sunnah Nya. Laa haula wa laa quwwata illa billah..
Lalu kapan perlu intervensi? Kapan perlu induksi, sampai kapan harus menunggu setelah lewat HPL, apa boleh melahirkan normal setelah 2-3x SC, blab la bla… Aku jadi sadar nih, kenapa si forum ituh tidak pernah bisa memberi jawaban, karena memang tidak ada yang pasti. Aku mengambil kesimpulan, baca baca deh yang banyak, lalu kita bisa menentukan batasan terhadap diri kita sendiri, yang mungkin berbeda dengan orang lain. Kalau buatku pribadi, batasan kita harus pasrah terhadap intervensi adalah kondisi gawat janin, dan plasenta previa saat akhir kehamilan. Kalo hal hal yang lain, masih bisa lah kita cari wangsit dulu, hehe, ga ding, maksudnya memohon untuk diberi keyakinan oleh Allah, mau dibawa cenderung ke mana hati ini, tsaahhh.
Nah balik ke home birth, komen komen orang tuh biasanya 'iya tuh aneh aneh aja', atau menganggap wah ini ada aliran apaan lagi, tren apa lagi. Ya ya ya... barangkali memang lagi ngetren. Aku bukan orang yang gampang ikut tren. Tp tren yang satu ini buatku sangat pantas diperjuangkan dgn kondisi yang sulit mencari provider yang ideal saat ini.
Kurang lebih begini nih alasan sayah melakukan home birth
- Alasan paling utama, saya tidak menemukan provider (blm ketemu jodoh aja kali ye) yang ada dalam jangkauan, dokter perempuan, bisa memfasilitasi waterbirth, mau terbuka mendiskusikan birth plan termasuk ttg penundaan pemotongan tali pusat, ngga harus ngantri berjam jam demi periksa 5 menit doang.
- Lokasi rumah saya dekat dengan sejumlah rumah sakit: RSB duren tiga, RS Asri, RS Medistra, RS Tebet, JMC, semua dalam jangkauan. Sudah menyiapkan database nomer teleponnya juga.
- Histori periksa kehamilan ada di 3 dokter, dan 2 bidan di 4 tempat berbeda. Jadi kalau emergency, tinggal pergi ke tempat yang rekam medisku paling banyak.
- Lokasi rumah saya tinggal ngesot ke bidan terdekat.
- Ada kendaraan yang siap untuk mobilisasi, jok dalam keadaan dikondisikan untuk bisa mengangkutku dlm kondisi rebahan.
- Histori melahirkan normal dengan mata minus 4 tanpa komplikasi, di rumah sakit yang cukup ternama, tanpa induksi, walaupun ngalamin trauma perlakuan.
- Posisi janin senantiasa bagus, kepala di bawah terus
- Tekanan darah normal terus. Rajin kontrol dan tiap kontrol bagus terus
- Percaya banget bahwa emosi ibu, suasana yang tenang, sangat berpengaruh terhadap kelancaran persalinan, dan kondisi emosi bayi. Percaya banget perlakuan salah atau tidak sesuai ekspektasi bayi bisa membawa trauma, trauma bawah sadar yang akan bermanifestasi menjadi karakter. Apa buktinya? Ngga punya. Paling paling testimoni atau cerita orang aja, contohnya cerita ttg past life regression (betul gak ya ini istilahnya), nggak ada (atau ngga tau) uji klinisnya, ok? It's just something that I believe.
Jujur nih, home birth pada awalnya bukan pilihan. Kalau saja ada provider yang memuaskan dan terjangkau lokasinya, aku lebih baik ke rumah sakit. Ruangannya lebih nyaman ( di rumahku lagi berantakan abisss krn mau pindahan dan banyak stok dagangan), makan dilayani dengan terjamin, kalo emergency lebih cepat penanganannya.
Terlepas dari sgala macem alasan ilmiah atau kepercayaan, aku ingin menyampaikan testimoni, bahwa aku tidak menyesal melakukan home birth, dan aku bisa sangat jelas merasakan bedanya dengan proses kelahiran pertama. Yang kedua ini kondisi emosi sangat bahagia dan terkendali, apalagi didampingi ibu, suami, yang tidak ada kekhawatiran dan percaya sama aku. Percaya bahwa aku tidak mengambil pilihan salah, percaya bahwa aku bisa ngeden dengan benar (gak takut nyangkut dll), dan semua tim di rumah ngasih full support dan mengeksekusi INSTRUKSIKU (yapp… semua skenario ada di tanganku, yang lain Cuma actor yang ngikutin skrip dari aku aja). Low light room, sedikit kesejukan artifisial dari AC, aromaterapi, gymball yang bisa dijadikan tempat alternatif mencari kenyamanan saat kontraksi, lagu slow jazz yang aku pilih, anakku Raul yang bisa nengok nengok kapanpun dia mau. Semua ‘kebebasan’ ini .. just simply made me happy and in control. Keadaan ini, yang membuatku tersenyum ketika mengingatnya, mengingat momen momen penyambutan seorang anak manusia.
Last but not least... Allah lah yang punya kehendak. Allah lah yang mengatur semesta, memerintahkan seluruh elemen alam tunduk pada sunnah Nya. Laa haula wa laa quwwata illa billah..
A Thought About Gentle Birth (1)
Akhir akhir ini mendapati fenomena kesan orang terhadap gentle birth (GB)agak agak mislead. GB memang identik dengan momen persalinan yang indah untuk ibu dan bayi, tapi lalu disambungkan dengan harus serba natural, harus normal, harus di air, harus menghindari intervensi medis dkk. Well, aku sebenarnya tidak heran, karena awalnya akupun berpikir begitu ketika membaca dokumen yang dibuat oleh promoter GB. Jujur aja, kesanku waktu itu, untuk mencapai GB, harus mengusahakan lotus birth, harus mengusahakan tidak digunting. Minimal mengusahakan. Kalau dari awal memilih yang tidak alami, maka tidak gentle, begitu lho pikirku dulu. Apalagi ketika aku sering mempertanyakan kapan sih harus mendapat penanganan medis, aku tidak pernah mendapatkan respon yang berarti, membuatku semakin berpikir bahwa penanganan medis itu tidak pernah jadi solusi, dalam konsep GB. Anyway, karena akhirnya aku jadi pelaku home birth¸aku pun jadi terusik dengan pandangan beberapa orang yang kupikir salah tentang homebirth. Tolong ya jangan keburu napsu bergosip. Bergosip itu memang asik tapi sih *lho*. Mereka pikir kalo home birth itu anti intervensi medis, mungkin berpikir pelakunya naturalist yang hardcore (nah yang ini nggak gue banget loh). Yang paling bikin gatel, kesan kalo pelaku HB itu kaum sok alami yang gak punya ilmu, sukanya googling sumber2 gak bisa dipercaya dan tidak mau menerima teknologi. Jangan jangan langsung identik ya kalo home birth itu biasanya nggak mau vaksinasi, nggak mau makan makanan kemasan, pelaku food combining yang saklek. Istilah pemberdayaan diri yang diusung pun kesannya jadi negatif. *sigh*. Aku jadi teringat mengenai pelaku pelaku kampanye lingkungan yang kemudian dianggap ‘berdosa’ karena ketahuan menggunakan plastik. Haduhhhh…. Manusia itu kan hidup juga perlu seimbang. Masak mau ramah lingkungan trus nggak mau naik mobil, kan repot itu, hakakakakk. Ya nggak papa tho make plastik, kan prinsipnya minimasi. *lhahhh jadi out of topic*
Dari sekian metoda yang identik dengan GB, banyak yang memang masuk akal buatku, dan patut diusahakan, seperti melahirkan di air yang bisa jadi peralihan yang lembut untuk bayi, sekaligus bonus nyaman buat ibu. Lalu misalnya lagi, berusaha mengambil posisi sesuai insting, memberikan kesempatan pada diri untuk bebas. Itu semua masuk akal kok, krn ketika mood kita bagus, melahirkan pun jadi lancar bukan? Tapi ada pula metoda yang katanya bermanfaat, tapi kubaca baca sampe jungkir balik juga aku merasa belum ada manfaatnya BUATKU, yaitu lotus birth. Bukan berarti tidak ada manfaatnya buat orang lain lho ya. Tapi segala macam alasan religius dalam lotus birth, tidak ada dalam pemahamanku.
Buatku plasenta hanya seonggok daging, yang memang sangatttt berjasa dan krusial dalam perkembangan janin, tapi statusnya ya sama saja dengan jantung, paru paru, hati, dll. Ketika keluar dari tubuh, it belongs to the ground. Lagipula tidak ada tuntunannya dalam keyakinanku kalau plasenta itu ‘saudara’nya bayi. Lotus birth is just not for me. Allah lah yang mengantarkan nutrisi kepada janin. Organ tubuh adalah ciptaanNya, yang harus disayangi dalam artian dirawat, olahraga, makan yang bagus, dll. Tapi kalau sudah di luar tubuh ya beda lagi urusannya. Oh well, mungkin ada manfaat lotus birth yang aku belum ketahui. Bukan tidak mungkin kok di kelahiran mendatang aku akan menerapkan lotus birth, jika sudah menemukan alasan yang cocok buatku.
Makanya.. waktu itu.. aku ngga mau terpaku pada GB yang harus begini dan begitu.(Maap iniii… bukan menyalahkan yang lotus lho ya, siapa tau punya alasan supaya tenang, bayi nggak dibawa2 kmana mana dll, monggo lhooo). I set my own limit. Maka dari itulah ngga berani melabeli diri ingin gentle birth. Pemikiranku waktu itu, kalau nggak gentle menurut pandangan ‘orang orang ini’, so what gitu lho. Makanya ketika aku memutuskan diri untuk home birth (dengan segala pertimbangan) dan ditawari untuk lotus birth oleh mbak bidanku yang cantik dan baik hati, akupun menolak dengan tanpa alasan yang panjang. Alasannya ya… nggak aja, hehehe. Nggak punya alesan untuk lotus, as simple as that kok.
(to be continued)
Dari sekian metoda yang identik dengan GB, banyak yang memang masuk akal buatku, dan patut diusahakan, seperti melahirkan di air yang bisa jadi peralihan yang lembut untuk bayi, sekaligus bonus nyaman buat ibu. Lalu misalnya lagi, berusaha mengambil posisi sesuai insting, memberikan kesempatan pada diri untuk bebas. Itu semua masuk akal kok, krn ketika mood kita bagus, melahirkan pun jadi lancar bukan? Tapi ada pula metoda yang katanya bermanfaat, tapi kubaca baca sampe jungkir balik juga aku merasa belum ada manfaatnya BUATKU, yaitu lotus birth. Bukan berarti tidak ada manfaatnya buat orang lain lho ya. Tapi segala macam alasan religius dalam lotus birth, tidak ada dalam pemahamanku.
Buatku plasenta hanya seonggok daging, yang memang sangatttt berjasa dan krusial dalam perkembangan janin, tapi statusnya ya sama saja dengan jantung, paru paru, hati, dll. Ketika keluar dari tubuh, it belongs to the ground. Lagipula tidak ada tuntunannya dalam keyakinanku kalau plasenta itu ‘saudara’nya bayi. Lotus birth is just not for me. Allah lah yang mengantarkan nutrisi kepada janin. Organ tubuh adalah ciptaanNya, yang harus disayangi dalam artian dirawat, olahraga, makan yang bagus, dll. Tapi kalau sudah di luar tubuh ya beda lagi urusannya. Oh well, mungkin ada manfaat lotus birth yang aku belum ketahui. Bukan tidak mungkin kok di kelahiran mendatang aku akan menerapkan lotus birth, jika sudah menemukan alasan yang cocok buatku.
Makanya.. waktu itu.. aku ngga mau terpaku pada GB yang harus begini dan begitu.(Maap iniii… bukan menyalahkan yang lotus lho ya, siapa tau punya alasan supaya tenang, bayi nggak dibawa2 kmana mana dll, monggo lhooo). I set my own limit. Maka dari itulah ngga berani melabeli diri ingin gentle birth. Pemikiranku waktu itu, kalau nggak gentle menurut pandangan ‘orang orang ini’, so what gitu lho. Makanya ketika aku memutuskan diri untuk home birth (dengan segala pertimbangan) dan ditawari untuk lotus birth oleh mbak bidanku yang cantik dan baik hati, akupun menolak dengan tanpa alasan yang panjang. Alasannya ya… nggak aja, hehehe. Nggak punya alesan untuk lotus, as simple as that kok.
(to be continued)
Rara 3 bulan kurang 8 hari
Rara di usia 2.5 bulan:
- sudah pamer social smile
- kepala sudah semakin kuat walaupun belum bisa tegak lama
- sukaaa banget diajak ngobrol. Kalo lagi mood ngobrol, bundanya bisa mati gaya bingung mau ngobrol apaan lagi. Begitu stop diajak ngobrol, eh mulai mewek lagi, xixixi.
- Paling suka dibacain zikir tasbih tahmid dan takbir, selalu tersenyum gembira kalo diajak zikir itu.
#enjoying motherhood#
Subscribe to:
Posts (Atom)