Monday, September 1, 2025

Chronic Pain

 


Dulu punya teman yang setiap harinya tubuhnya nyeri. Sungguh aku sering sedih mendengar ceritanya.

Qadarullah, aku kini mengalaminya. Sakit di dasar tengkorak yang on off menjalar ke wajah hingga jari tangan kanan. Sakit di middle back, lower back, turun ke lutut.

Aku ngga tahu kapan semua ini dimulai. Apakah akibat akumulasi kejadian terjatuh. Pernah terpelanting di bagian leher saat makin trampolin. Pernah terjatuh di pantat saat duduk di yoga swing. Pernah terjatuh dari pull up bar yang longgar. Pernah terjatuh keras di lutut.

Kalau case di punggung sih sudah pernah sampai ke MRI, walaupun perjuangan menuju mendapat rujukan MRI kok ya susah banget ya.  Ke dokter tuh disuruh ronsen fisio ronsen fisio begitu melulu. Capek hati gan bolak balik ke RS tapi kaya ga ada kemajuan action.  Datang ke klinik yang jualannya operasi tulang belakang, baru deh dapat rujukan MRI, itupun setelahnya diprospek untuk tindakan. Intinya ada penyempitan saluran tulang belakang, herniated disc, dan degenerasi. Tapi itu cuma bagian punggung yaa, belum yang leher. Ya Allaah perjalanan mencari tahu aja udah perjuangan banget. Sebenernya dengan bekal MRI itu bisa balik ke faskes 1 lalu dapat penawaran operasi. Tapi kok jadi takut sendiri haha. Sebenernya paling pengen tahu apa yang terjadi padaku, setelahnya aku bisa cari penanganan2 lain. Akhirnya engga operasi karena tetap aja operasi punya risiko dan memotong fascia yang penting dalam tubuhku ini. Sementara aku masih bisa beraktivitas walaupun menahan sakit. Gapapa deh gapapa dehhh masih bisa kutahan.

Intinya sih, sampai saat ini sakitnya sudah bertahun tahun menetap. Ada waktunya flare, ada waktunya mereda. Saat mereda pun tetap terasa ada yang nyeri. Tapi waktu flare... ya Allaah... ada momen momen rasanya ga pengen bangun. Bisa bangun sih tapi luar biasa rasa badan. Dari luar seperti orang sehat yang malas gerak. Saat sakit kepala flare, rasanya migren, seperti ditusuk tusuk di beberapa bagian kepala, dan jika intensitasnya tinggi, bisa mual luar biasa. Titik terberat sakit kepalaku terjadi di 2017, ketika aku sedang sendirian di kos Bandung saat sedang mengikuti training. Ya Allah sungguh saat itu aku mikir sedang sakaratul maut. Mual hebat ga sanggup berdiri tegak, bisanya meringkuk tegang di kasur, rasa ditusuk2 intens dan goyang banget rasanya. Mana sendirian pulaa. Saat ini terasa ada benjolan di leher yang selalu sakit saat disentuh. Ada titik di leher yang nyerinya menjalar ke tangan, dan pernah saat fisio, pijatan di daerah tersebut sesaat membuat mual hebatnya muncul dan pusiiing sekali kaya mau pingsan. Apa ini ya? Kalau dari cari tau sendiri sih gejalanya mirip dengan deskripsi Occipital Neuralgia. Tapi ya engga boleh self diagnosis dong. Adapun yang saat ini banget aku alami adalah rasa berat di leher dan bahu, pegal dan panass kalo duduk bentar doang. Agak rilis kalo direbahin. Tapi ya itu rebahan lama lama takut di judge malas.

Masalahnya, berat sekali memulai kembali perjalanan mencari diagnosis. Lelahhh dan high cost. Mau memulai lagi deh tapi pas engga sibuk. Terus hidupku ngga pernah ga sibuk mikirin hidup wkwk..

Aku jadi ingat seorang sahabat yang akhirnya meninggal karena autoimun. Aku mendengar cerita bahwa di akhir hidupnya itu dia diperlakukan seperti orang yang malas, dimarahi oleh sekitarnya karena malas mengerjakan tugas tugas harian. Mengingatnya bikin hati ini sedih. Walaupun aku merasa ini bukan autoimun, tapi bisa relate. Sakit yang aku alami - jika tidak sedang bersamaan dengan vertigo - tidak membuat muka menjadi pucat. Mungkin wajah dan ekspresi terlihat sehat sehat saja. Terlihat sperti orang sehat males gerak, beneran. Tapi sungguh... sakit ini kalau sedang terasa banget, membuat enggan menggerakkan tubuh. 

Tapi anyway, aku ingat ada beberapa hadis yang menunjukkan betapa sakitnya seorang muslim adalah penggugur dosa. Kata beberapa ustadz jg, sebenarnya berobat itu tidak wajib. Ketika kita sakit, kita boleh memilih berobat atau bersabar. Hal itu memberi sedikit penghiburan. Harus tetap semangat melawan, agar bisa tidak tampak malas di depan orang lain yang sehari hari berhubungan denganku. Harus semangaat karena mudah mudahan rontok dosa dosaku berhubung amal juga kecil di hidup ini.

Aku sendiri menanggapinya tergantung sikon ya. Kalau sakit kita ternyata membuat orang repot, jadi ngga kerja karena ngurusin kita, lebih baik berobat kaan minimal ikhtiar dulu. Aku niat ikhtiar kok cuma belum belum aja nih cari momen wkwk. Terus terang malas lho menghadapi rata rata dokter. Dokter baik, care, teliti, pintar,  itu adaa dan aku kekepiiiin walaupun ya Allah rata rata high cost. Tapi ya jujur aja kok jarang nemu ya. 

Setiap hari aku berdoa Allah mengizinkan aku sembuh, tapi meanwhile aku berusaha menerima semoga Allah gugurkan dosaku. Aku pengen sembuh supaya bisa gercap dalam hidup, kerjaan cepet selesai, bisa perform jadi istri, bisa berform jadi anak, bisa perform jadi ibu.


“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya,”(HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571)

 

Monday, October 31, 2016

Yoga lagi..

Sesekali posting nyampah ah..
Sampah satu arah, kalo nyetatus di fb bisa lempar lempar komen soalnya.

Saya termasuk yang senang yoga yang populer di Indonesia telah mengalami penyempitan makna, menjadi hanya exercise. Saya pro yoga as an exercise. Kalo saya dapet manfaat ketenangan batin, well it's a bonus. I do not seek spiritual benefit in yoga, not my main purpose lah.  Kalau ada yang bilang 'yoga sempit makna' ini bukan yoga, i do not care hahaha. You call me not a yogi? Fine. I am not. I'm just doing this standing, forward bending, plank, downward dog, or even  challenging pose like headstand or arm balance so that I look cool.  

MUI udah membuat rekomendasi bahwa yoga dibolehkan sebatas exercise. Di Malaysia malah pake fatwa haram, lalu diberi keterangan kecuali yang hanya exercise.

Nah kalo memang pengen memasyarakatkan yoga, kenapa sih malah mulai nyebar nyebarin yoga yang ada religious root nya? Saya masih agak agak ngerti kalo diajarin begituan di teacher training, untuk memahami sejarah. Tapi not for my personal practice. Fine lah kalau situ mau practice yang seperti itu.  Tapi kalau nyebar nyebarin di ruang yang lebih umum, ahhh bikin saya males. Yang begini ni yang bikin saya speechless kalau ditanya sama temen saya mengenai apa pendapat saya mengenai hukum yoga. Daripada pusing, saya bilang aja udah ngga usah yoga, cari olahraga lain, walaupun saya tetep melakukan olahraga yang 'yoga-inspired'  karena saya merasa sudah set my boundary dan strict dengan itu. Saya juga tetap ngajarin prenatal yoga, dengan boundary saya itu. This is my private standard.

Sayang sekali, yoga yang saya pelajari dan praktekkan(latihan nafas dan fisik), banyak sekali manfaatnya untuk terapi kesehatan. Di batas ini saya benar benar merasa yoga pantas untuk disebarkan, sehingga banyak orang bisa merasakan manfaatnya. Should I make a new name for it?? Supaya tidak tercampur campur dengan yoga yang versi lain??


Wednesday, November 18, 2015

Yoga Inspired


Ada seorang kawan yang bertanya pada saya mengenai yoga dari tinjauan syariat.
Sayangnya, saya cuma tahu mengenai rekomendasi MUI mengenai yoga. Kesimpulannya adalah yoga dibolehkan selama tidak melibatkan mantra dan meditasi. Definisi mantra dan meditasinya sendiri tidak dijelaskan (atau saya belum temukan?). Tapi dugaan saya, definisi meditasinya mirip seperti yang ada di sebuah kamus online yang pernah saya baca (yang mana beda definisi dengan saya, yang menganggap masak, leyeh leyeh di pantai, merajut, bahkan lari marathon, adalah meditasi)

Lebih dari itu, saya tidak memiliki kapasitas untuk menyebut yoga mubah atau haram, pun pengetahuan saya tentang yoga belum sekelas master. Namun saya ingin cerita apa yang saya tahu mengenai yoga, dan mengapa saya akhirnya memutuskan ikut kelas yoga, dengan batasan yang strict. Mohon yaaa jangan anggap tulisan ini untuk menyaingi fatwa ulama, juga menyaingi para yogi, karena saya belajar yoga baru kemarin sore juga.  
Seorang guru saya (yang juga mengajar yoga) bilang: Ya, yoga berpotensi membuat syirik, apabila kita tidak tahu batasannya.

Saya setuju. Seperti halnya kita ikut karate, kendo, dan aneka olahraga yang melibatkan aspek filosofi spiritual (mohon samakan dulu definisi spiritualnya. Spiritual pemahaman saya adalah segala hal tentang mengkoneksikan diri pada kekuatan yang lebih besar yang mempengaruhi diri kita. Silakan sebut tuhan, semesta, atau diri sendiri, you name it. Buat saya, kekuatan sumbernya dari  Allah). Tidak hanya olahraga, Pancasila dan UUD 45 juga merupakan ajaran spiritual, menggunakan definisi yang saya pahami.  Ketika kita mengikuti aktivitas spiritual, maka aktivitas ini akan 'rentan' dikaitkan dengan tuhan. Mengenai bagaimana persepsi aktivitas tersebut terhadap tuhan, itu sangat tergantung pada pemimpin aktivitas tersebut.  Kalau kita mengganti intensi ketuhanan kita dengan yang lain, ya tentu jatuhnya syirik.

Kita gali satu satu mengenai aspek yoga (saya ambil aspek aspek yang menjadi perhatian aja ya), supaya kita tahu mana yang jadi sumber kontroversi.

Asana (postur)
Ini yang banyak orang kenal dari yoga. Gerakannya sebetulnya sangat banyak ditemui di olahraga non yoga. Konon ada ribuan pose yoga. Dan yang nyebelin dari yoga adalah, ... semua postur tubuh yang pernah kita lakukan bisa jadi ada namanya dalam yoga, hehehe. Ya bayangin dong, berdiri tegak ala upacara aja merupakan pose yoga (tadasana/mountain pose), dan telentang tiduran juga pose yoga! (savasana/corpse pose). Jikalau asana yang menjadi sumber kontroversi dalam yoga, niscaya kita ngga bisa ngapa ngapain dalam hidup. Ya iyalah... kita ngga bisa leyeh leyeh telentang, soalnya itu pose yoga, hehe.. Bedanya, yoga ngajarin melakukan postur itu dengan benar dan setiap postur ada manfaatnya bagi tubuh, sehingga kita melakukan setiap postur itu dengan penuh kesadaran

Despite more than a century of research, we still don’t know much about the earliest beginnings of Yoga. We do know, though, that it originated in India 5,000 or more years ago. Until recently, many Western scholars thought that Yoga originated much later, maybe around 500 B.C., which is the time of Gautama the Buddha, the illustrious founder of Buddhism. But then, in the early 1920s, archeologists surprised the world with the discovery of the so-called Indus civilization—a culture that we now know extended over an area of roughly 300,000 square miles (the size of Texas and Ohio combined). This was in fact the largest civilization in early antiquity. In the ruins of the big cities of Mohenjo Daro and Harappa, excavators found depictions engraved on soapstone seals that strongly resemble yogi-like figures. Many other finds show the amazing continuity between that civilization and later Hindu society and culture. (http://www.swamij.com/history-yoga.htm)

Nah, kalau dari sumber di atas, ternyata gerakan gerakan 'yoga-like' sudah ditemukan jauh sebelum Hindu. Tapi memaaang, ilmunya dikembangkan di tanah Hindu, di India. Maka penamaan posturnya kadang malesin juga buat yang non Hindu seperti saya, hehe..  Misalnya aja ada yang namanya Shiva Dance, padahal ya gerakannya gitu gitu aja, tidak merepresentasikan penyembahan juga.
Yang sering jadi kontroversi juga, adalah Sun Salutation (menyapa matahari). Ini adalah sebuah penggabungan beberapa postur yang dilakukan mengalir, dan salah satu guru saya dalam latihannya menyebut ini sebagai 'cardio', karena gerakan ini memang fungsinya menaikkan aktivitas jantung dan memanaskan seluruh anggota tubuh. Entah kenapa disebut sun salutation, mungkin sekuens ini bagus dilakukan di pagi hari menjelang fajar. Mengapa kontroversial, karena dianggap penyembahan kepada Matahari. Banyak versi lah tentang asalnya. Saya memutuskan untuk mengabaikan ini, toh saya ngga pernah liat orang Hindu sembahyang di pura dengan gaya sun salutation. Malahan, sun salutation ini banyak yang membandingkan dengan gerakan solat. Yah yah... walaupun menurut saya itu cocoklogi juga. Gerakan gerakan dalam sun salutation (downward dog, cobra, standing forward bend, plank, itu gerakan yang juga ditemui di olahraga lain, bahkan merupakan gerakan stretching yang umum dilakukan di segala olahraga)

Pranayama (nafas)
Dalam yoga, nafas pegang peranan yang sentral, tidak seperti olahraga studio lain. Mungkin olahraga lain menganggap mengontrol nafas sebagai sekedar memenuhi kebutuhan hidup akan oksigen. Tapi dalam yoga, setiap teknik nafas punya manfaatnya masing masing. Contoh, ada nafas untuk detoksifikasi. Nafas yang stabil selama menahan sebuah postur, efeknya sangat menenangkan.
Dari sini saya tidak melihat ada yang perlu dipermasalahkan ya.. lewat aja ya...

Mantra
Saya pernah baca blog seorang yogi muslim yang ikut teacher training di luar negri. Sayangnya saya lupa siapa dan tidak menyimpan link blognya. Singkat cerita, ketika ada instruksi untuk baca mantra, beliau tidak mau ikutan. Lalu gurunya bertanya, dan beliau menjelaskannya alasannya. Gurunya bilang, sebetulnya mantra itu bukan apa apa, bebas aja kalau tidak mengucap mantra. Tapi yang ingin diambil manfaatnya adalah vibrasi pita suara saat nada rendah, itu memiliki manfaat untuk tubuh.
Di Indonesia sendiri, praktek ini sangat jarang ditemukan, kecuali instrukturnya sangat terpengaruh oleh pengajar yoganya di luar negeri. Mantra, MUNGKIN bisa ditemui di Indonesia di studio studio pribadi, yang memang gurunya sering belajar ke luar negeri dan belajar dengan guru guru yang menggunakan mantra. Ini salah satu batasan strict saya. Kalau background music nya pakai lagu mantra, saya akan bilang ke gurunya, saya ngga nyaman dengan lagu ini, walaupun mendengar lagu 'halleluya' juga tidak semerta merta membuat saya jadi Kristen. Saya belum pernah menemui guru yang menolak permintaan saya, hehe. Malah akhirnya ada juga yang akhirnya saya yang carikan koleksi musiknya.

Di Indonesia, kalaupun pake mantra, yang saya tahu artinya lebih ke pemberdayaan diri, semacam enlightement kalau kita punya kekuatan dan cahaya kebenaran dalam diri. Sekilas sih normal2 aja dan ngga ada hubungannya sama agama apapun. Paham Humanisme gitu lah. Tapi gimana ya... kebetulan saya prinsipnya Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah. Jadi apa apa dibalikin ke Allah, bukan pada diri sendiri. Jadi walaupun arti arti mantra itu seolah keren dan nggak nyebut dewa, I refuse to use it. Tapi ada pula muslim yang masih mengizinkan metafora2 gitu, yang menganggap istilah semesta sebenarnya maksudnya Tuhan, atau power within maksudnya tuhan, ya wallahu a'lam ya, saya pahami niatnya sama, itu aja, biar Allah yang menilai. Biasanya orang orang yang puitis suka begitu, misalnya menyebut "yang di atas" hehe. Kalau saya lebih suka nyebut Allah ngga usah pake metafora metafora segala. 

Meditasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (http://kbbi.web.id/meditasi), bermeditasi adalah memusatkan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu; bertafakur.
Jadi, apa yang dilakukan Rasulullah SAW di Gua Hira adalah juga meditasi (berkhalwat dengan Allah, merenung, bertafakur).
Maka, jika ada tokoh tertentu yang menganggap meditasi menyimpang, dugaan saya, kami menggunakan ruang lingkup definisi yang berbeda tentang apa itu meditasi. Maka, sebelum setuju atau tidak setuju dengan meditasi, tanyakan dulu definisinya, karena bisa jadi berbeda.

Meditasi menurut yang saya pahami memiliki makna yang sangat umum. Praktek meditasi dalam yoga (sepengalaman saya) adalah diam, memperhatikan dan mengizinkan lewat segala sensasi, bisa mendengarkan kicau burung lewat, mendengarkan angin, gerakan daun, dan menyadari sensasi dalam tubuh, misalnya merasakan degup jantung, kesemutan di bagian tubuh tertentu. Kalau mau lebih dalam lagi, bisa mengamati perasaan, misalnya kita sedang sedih, senang, dll.
Dari praktek yang saya pernah temui, saya merasa tidak ada yang salah dalam meditasi, karena teori parenting sekarang pun mengajarkan prinsip meditasi pada anak: mengenali rasa sakit, sedih, memberi nama pada perasaan, sehingga harapannya anak terlatih untuk peka dan jujur terhadap apa yang dirasakan.
Dalam perkembangannya, meditasi ini makin meluas lagi maknanya. Makan pun bisa jadi meditasi. Lari Marathon pun bisa jadi meditasi. Kegiatan apapun bisa jadi meditasi ketika kita menggunakan prinsip be here and now, grateful for the present, mengamati dan mengizinkan hadir semua rasa yang muncul.

Yoga Label
Saya tidak mau bilang kalau yoga sama sekali tidak ada kaitannya dengan Hindu. Secara sejarah, tentu ada kaitannya dengan budayanya. Nyatanya dalam praktek yang saya jalani, tidak ada hubungannya dengan cara ibadah. Tapi kalau Anda orang yang memang berpegang teguh bahwa label dan akar (asal muasal) itu penting, I respect it. Avoid yoga yang memang memiliki label 'yoga'. Seperti halnya MUI pernah mengharamkan Root Beer, bukan karena kandungan khamr nya, tapi karena label nya yang mengandung kata 'beer'. Jika MUI akhirnya menghalalkan Root Beer karena ganti nama menjadi RB, maka sudah lah tidak usah sebut olahraga ini bernama yoga, tidak usah sebut Karate, Kendo, Tai Chi, dll.

Sistem Yoga
Di luar sana juga banyak versi mengenai pengertian yoga. Kalau saya boleh mengumpamakan, ada yoga sekuler dan yoga way of life.

Way of life is the only straight way to your ultimate goal. It covers each tiny aspect of your life. You cannot combine way of live. Most of the time my way of life crosspath with these philosophies : Karate, Pancasila (Indonesian foundation philosophy) , Yoga included. When it happens, I allow those other ideas to walk along with mine, but it doesn't mean that we're heading to the same direction and destination. When it doesn't happen, I will walk my own way, the one way that I have chosen :)      (IG rika.widjono)


Yoga yang way of life ini menganggap yoga sebagai suatu sistem spiritual (bukan relijius ya). Oh iya, olahraga yang spiritual banyak yah seperti Karate, Kendo, dll. Nah aspek yoga sebagai sistem ini banyaaakk sekali. Orang yang melakukan kegiatan sosial juga disebut melakukan yoga. Salah satu yogic lifestyle adalah menjadi vegetarian (ahimsa, non violence, tidak melakukan kekerasan pada binatang). So, orang yang tidak menjalankan sistem ini, ya tidak bisa disebut melakukan yoga. Walaupun ngaku ngaku yoga, tapi itu bukan yoga. Sudah otomatis batal, gagal jadi yogi.  Saya jelas gagal, karena saya meat lover, hehe. Yoga is not my way of life. Menurut definisi ini (yoga sebagai sistem), mau ngelakuin sekuens gerakan 'yoga-like'  sampe pingsan juga tidak akan disebut yogi, jika ada aspek filosofinya yang dilanggar (ya misalnya membunuh binatang buat dimakan itu tadi).

Tapi, tidak semua orang juga menganut pemahaman itu. Yang sekarang menyebar di seluruh dunia adalah hatha yoga, yang banyak latihan fisiknya. Tapi mereka menyebut diri bahwa itu yoga, anyway.  Kalau pakai definisi yang ini, sepertinya saya bisa masuk dalam kategori yogi.

Saya sendiri sih, tidak terlalu fokus menyebut diri mempraktekkan yoga, atau melabeli diri dengan yogi. Nggak penting buat saya, hehe..


Thursday, November 12, 2015

Self Healing

Sudah sering dengar ya istilah ini? Istilah ini memiliki asosiasi dengan fisika energi, atau psikologi energi, biasa dipakai untuk mengobati trauma (luka batin), bisa juga fisik. Yang saya pahami, pembahasannya cenderung nyambungnya dengan Chinese Medicine, karena banyak pakai istilah chi, meridien, sumbatan energi, dll. Saya sih cuma tahu sedikit istilah istilahnya ya, jadi tidak akan banyak cerita tentang itu.

Saya mulai kenal self healing saat belajar mengenai hipnoparenting dalam sebuah workshop. Di situ peserta diajari sebuah teknik yang namanya SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique), lalu saya sempat juga ikut preview seminar khusus SEFT. Di waktu yang lain, saya kembali kenalan dengan yang namanya Quantum Touch, dan TAT. Semuanya berprinsip membuka sumbatan energi di dalam tubuh. Terbukanya sumbatan sumbatan energi ini akan menimbulkan berkurangnya perasaan cemas, takut, dan segala perasaan negatif lainnya (termasuk sakit fisik).

Dalam beberapa forum, saya menangkap adanya pendapat tertentu seperti, "Kenapa harus belajar hal hal seperti itu jika dengan Al Quran dan shalat seharusnya hati menjadi tenang?". Terus terang saja, saya juga awal awal dulu mempertanyakan hal yang sama dengan diri sendiri. Saya mempertanyakan ini ketika sedang duduk hening dan menjalankan salah satu metoda self healing yang menggunakan teknik mengetuk ngetuk titik tertentu. Ada semacam bisikan dalam diri "What are you doing here? duduk hening 10 menit lebih untuk kesembuhan jiwa padahal tahajudnya juga belum bener. Kok ngga dipake tahajud aja?", membuat saya sempat membenturkan ibadah dengan teknik self healing.  Ada juga ungkapan semacam "Muslim yang baik seharusnya tidak mengalami depresi". Ada benarnya juga, walaupun itu tidak menggambarkan situasi dengan holistik. Kalau kita benar benar paham sepaham pahamnya dengan makna berserah diri (tidak hanya tahu pengertian dan dicamkan di otak, namun juga memohon pada Allah untuk memahamkan qalbu kita atas maknanya), atas perkenan Allah, Dia akan mengangkat sakit depresi tersebut. Tapi muslim yang baik juga tidak akan menghakimi orang lain bukan muslim yang baik, karena hanya Allah yang tahu, hehehe.

Seiring dengan menjalani keduanya, saya menjadi paham akan irisan keduanya.
Penyakit fisik dan jiwa sejatinya adalah satu. Fisik bisa mempengaruhi jiwa, sebaliknya kondisi jiwa juga bisa mempengaruhi fisik. Kalau badan kita ngedrop dan harus bedrest, tentu wajar kalau pikiran menjadi sumpek dan makin stress. Kalau hati resah dan banyak pikiran, kepala bisa migren, atau bisa disebut psikosomatis.

Al Quran (dan al hadits) adalah obat, itu hal yang saya yakini. Salah satu contoh saya dapati belum lama ini lewat social experiment memperdengarkan Al Quran pada yang tidak pernah tahu tentang Al Quran. Banyak yang  bilang hatinya menjadi tenang, bahkan ada salah satu yang menangis. Al Quran definitely has this healing effect. Tidak hanya obat jiwa, tapi obat fisik juga lho. Buktinya, ada doa untuk demam. Demam itu kan sakit fisik.  Tapi di sisi lain, Rasulullah juga memerintahkan umatnya untuk pergi ke tabib apabila sakit. Dari sini saya memahami bahwa dalam proses penyembuhan, ada media internal, dan ada pula media eksternal. Internal maksudnya 'ngoprek' qalbu, eksternal maksudnya intervensi faktor lingkungan.

Karena saya meyakini fisik dan jiwa sejatinya satu (buktinya orang sakit jiwa dikasih obat penenang juga, yang sebetulnya prinsipnya menginterfensi fisik, karena jiwa bukan materi yang bisa disentuh), maka ini berlaku pula untuk penyakit jiwa. Mari ambil contoh. Jika hati sedang sumpek karena deadline pekerjaan yang begitu ketat dan beban kerja yang terlau tinggi, maka media penyembuhan internalnya adalah dengan shalat dengan khusyuk dan membaca Al Quran. (Membaca Al Quran juga bisa disebut sebagai media eksternal, karena vibrasi suara dengan tone yang rendah juga menenangkan). Serahkan semua urusan pada Allah setelah kita melakukan yang kita bisa. Jika kita menyadari kita sudah mencapai batas kita, maka tidak akan ada beban, mau dipecat kek, dimarahin bos kek, tidak akan ada beban, karena kita sudah surrender. Adapun media eksternalnya adalah sejenak keluar ke ruangan terbuka, mencharge dirinya dengan alam dan melakukan gerakan gerakan yang bisa membuka sumbatan sumbatan energi yang membuat dia sumpek, misalnya dengan olah nafas dan gerakan olah fisik tertentu, atau sekedar menyepi ke pantai dan bercakap cakap dengan teman (kalau pakai istilah sekarang: butuh piknik). Self healing sebenarnya termasuk 'piknik' di sini, yaitu suatu media kesembuhan melalui hukum alam, sebab-akibat, seperti halnya minum obat untuk mengintervensi organ tubuh. Satu dan lainnya tidak saling bertentangan bukan? Segala ikhtiar melalui media eksternal ini sebenarnya tidak menyalahi sunnatullah.  Kalau kita stress dan banyak berdzikir di dalam kamar saja, tentu ini menyalahi sunnatullah juga.


Jadi, ini bukan masalah kurang dzikir atau kurang piknik. Bisa jadi kurang salah satu, atau keduanya. Kalau kita sudah merasa cukup piknik tapi masih galau, ya evaluasi media internalnya, bukan dengan piknik lagi, hehe

Satu hal yang pasti, we never heal ourselves. Allah, is the one who heals us.
Wallahu a'lam bis showab

Wednesday, November 4, 2015

Talents Mapping


Dari dulu saya selalu menyadari ada beberapa 'kelemahan' dalam diri. Karena waktu itu jamannya penggugahan motivasi, saya memilih untuk mendobrak diri saya, melakukan hal hal yang 'nggak gue banget' yang saya anggap bisa membuat diri saya jadi lebih baik. I tried hard, tapi hasilnya tidak saya lihat. Yang ada saya merasa energi saya habis dan lelah melakukan sesuatu, tapi tidak ada hasilnya. Rasanya... hmmm... sedih, semacam putus asa lah gitu (saya ngga mau bilang putus asa sih karena ngga sampai putus asa banget hehe)

Belakangan saya dapat info tentang Talents Mapping (TM) yang ditawarkan oleh Pathfinder Career Consultant, yaitu sebuah assessment untuk mengetahui mana bakat dan kelemahan bawaan kita. Manfaatnya adalah supaya kita dapat lebih fokus pada kelebihan kita, dan menggunakan kelebihan tersebut untuk mengelola kelemahan kita. Saya jadi tahu bahwa kelemahan itu bukan sesuatu yang harus dijadikan kelebihan. Kelemahan harus diakui apa adanya, dan dimaklumi oleh orang orang sekitarnya. Menarik bukan. Lebih menarik lagi, hasil assessment nya tidak berupa skor atau pengkategorian baku, tapi sangat personalized. Setiap orang hasilnya unik, tidak akan sama satu dengan lainnya. Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan seseorang, kita bisa tahu bagaimana memposisikan orang tersebut dalam sebuah tim, entah tim di perusahaan, tim olahraga, panitia acara, bahkan tim rumah tangga (suami istri).

Saya sebenarnya orang yang banyak bingung karena banyak minat. Saya juga bingung bakat saya sebenernya apa ;p karena saya banyak bisa ini dan itu tapi tidak menekuni sampai dalam. TM membantu saya memetakan sebenarnya apa yang kuat dan lemah dalam diri saya. Alhamdulillah suami juga ikut saat pembahasan hasil assessment saya, dan beliau juga baru ngeh bahwa beberapa kelemahan saya ternyata 'dari sononya' alias harus dimaklumi. Jadi dengan mendengar hasil assessment ini, suami yang sudah pengertian, jadi makiiinnn pengertian lagi, hehehehe. Asik kaan.

Pada suatu saat, saya tertarik mengikuti sebuah pelatihan yang sebenarnya cukup mahal bagi orang iseng yang lagi pas pasan, tapi worth it bagi yang ingin menekuni bidang tersebut. Saat itu saya berpikir, mubadzir ngga yah saya mengeluarkan uang sekian juta untuk ini, dalam kondisi uang mepet dan usaha sedang  ada cobaan. Kalau boleh pinjam istilah Kiki Barkiah, saya berpikir apakah ini bermanfaat dan berpengaruh bagi peran kekhalifahan saya di dunia ini. Akhirnya saya buka buka lagi hasil assessment TM, tanya tanya dikit sama Pak Firman dari Pathfinder, yang berakhir pada kesimpulan bahwa ini pantas dilakukan. 

Alhamdulillah, I feel happy with what I am doing now.

Mengikuti TM recommended banget deh, tool yang keren supaya kita ngga buang buang energi mengembangkan diri  di  bidang yang tidak tepat. Thank you, Pathfinder Career Consulting.

Monday, August 17, 2015

Struggle to Surrender to Iman

Izinkan saya mengutip beberapa artikel sebagai prolog:  

Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari pernah didatangi malaikat Jibril dalam wujud seorang lelaki yang tidak dikenali jatidirinya oleh para sahabat yang ada pada saat itu, dia menanyakan kepada beliau tentang Islam, Iman dan Ihsan. Setelah beliau menjawab berbagai pertanyaan Jibril dan dia pun telah meninggalkan mereka, maka pada suatu kesempatan Rosululloh bertanya kepada sahabat Umar bin Khoththob, “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ?” Maka Umar menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya lah yang lebih tahu”. Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya dia itu adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim). Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh mengatakan: Di dalam (penggalan) hadits ini terdapat dalil bahwasanya Iman, Islam dan Ihsan semuanya diberi nama ad din/agama (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 23). Jadi agama Islam yang kita anut ini mencakup 3 tingkatan; Islam, Iman dan Ihsan.

(tentang iman islam dan ihsan, please see http://rumaysho.com/aqidah/mengenal-tingkatan-islam-26.html)
Ihsan adalah tingkatan paling tinggi. Tingkatan pertama yaitu islam, kemudian tingkatan yang lebih tinggi dari itu adalah iman, kemudian yang lebih tinggi dari tingkatan iman adalah ihsan (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 64)
(http://muslim.or.id/aqidah/islam-iman-ihsan.html)

Ihsan memberi 'nilai mendalam' pada Islam dan Iman. Apa jadinya jika kita menjalankan shalat, puasa, dan berikrar kita percaya pada Allah dan rasulnya, jika tanpa ihsan? Ihsan seperti membuat segala hal lahiriah yang kita lakukan menjadi terintegritas dengan apa yang ada di dalam hati. Ihsan yang membuat shalat menjadi bermakna dan terpancar pada perilaku orang sehari hari.
Islam adalah tentang Ilmu fiqih. Iman adalah mengenai akidah. Ihsan adalah mengenai akhlak (sebagai integrasi dari islam dan iman). Setan akan senantiasa menggoda manusia melalui 3 pilar ini.

Iman/akidah, pada pengertian lapis pertamanya adalah mengakui bahwa Allah adalah Tuhan. Saya yakin semua orang yang memutuskan beragama Islam di KTPnya, mempercayai isi syahadat. Pada lapis selanjutnya, akidah tidak hanya kesaksian lisan, namun juga secara esensi hidup menyembah Allah, bukan materi, bukan kekayaan dunia. Orang orang yang tujuan utama hidupnya adalah mengumpulkan harta sebanyak banyaknya, sehingga mengabaikan shalatnya, dan hubungan baik dengan saudaranya, bisa dikatakan sebagai 'penyembah harta'.

Hati hati sama setan. Kalau dia tidak bisa menggoda manusia dalam hal melarang hal hal yang jelas terlarang, maka dia bisa menggoda dengan cara lebih halus. Konon, setan itu beda beda tingkatannya, ada yang intelektualitasnya rendah, ada yang super cerdas. Setan setan cerdas akan dikirim kepada orang orang yang sholeh dan ahli ibadah, dan yang dia 'ulik' bukan untuk membuatnya malas shalat, malas sedekah, malas menebar ilmu, tapi yang dia ganggu adalah hati. Kalau ada seseorang yang zuhud, maka bisa jadi kezuhudannya ini menjadi hal yang akan menjadikannya terpeleset. Misalnya, setan tingkat tinggi bisa masuk ke dalam hatinya dan menaruh sebersit kesombongan melihat orang orang lain yang hedon dan belum 'tercerahkan'. Namanya ego trap. jebakan ego. Saya sendiri mengamati ada beberapa orang bijak yang saya kenal terjebak ego trap ini. Tapi saya pun harus jeli, jangan jangan setan memerangkap saya dalam ego trap, supaya menganalisis orang orang bijak dan merasa sombong karenanya. Haduhh... banyak istighfar aja deh. Manusia tempatnya salah. Fitrah tersebut bukan untuk menjadi pembenaran melakukan kesalahan, namun untuk menyadari kelemahan dan banyak memohon ampun pada Allah.

Fyuhh, perjalanan untuk menginternalisasikan dinul Islam dalam diri ini (saja)bukan hal yang mudah. Dalam bermuamalah dengan anggota keluarga terkecil saja sudah jadi medan perjuangan yang luar biasa. Medan perjuangannya lebih banyak di hati. Ujian keimanan yang 'tingkat tinggi' sudah muncul di sini. Kalau para pekerja yang bekerja di ladang 'basah' mendapat ujian untuk tidak menuhankan harta, maka bagi ibu ibu di rumah, ujiannya adalah untuk tidak menuhankan suami, tidak menuhankan anak, dan tidak menuhankan ego dalam diri, juga tidak menuhankan rasa sedih dan gembira (yg mana memang biasanya menjadi sumber kesedihan dan kegembiraan adalah keluarga). Khusus dalam rumah tangga, bahkan ada setan yang benar benar membuat pernyataan perang kepada rumah tangga. Setan setan pun bergumam“Aku tak akan meninggalkan pasangan suami istri ini sebelum aku berhasil memisahkan mereka berdua.” (HR Muslim 2813/67) Kata seorang guru, semakin tinggi, jalanan semakin menanjak. Anginnya semakin kencang. Jadi, makin sholeh, ujiannya semakin 'halus' dan 'cerdas', setan yang diturunkan mungkin tingkat jendral atau bahkan panglima.

Ujian keimanan tidak berhenti di ikrar syahadat. Ternyata ujian keimanan adalah untuk bebas dari kemelekatan terhadap apapun di dunia ini, dan menyandarkan segala rasa hanya karena suka atau bencinya Allah saja terhadap diri ini.

It's a long and challenging struggle. Struggle to surrender.

Tuesday, August 4, 2015

Tiada Sehelai Daun yang Jatuh tanpa Izin Allah

Tiada sehelai daun yang jatuh tanpa izin Allah. Begitu pula pertemuan dengan orang orang menyebalkan yang kita temui setiap hari:) 


Dalam hidup, tentu kita berhubungan dengan orang lain. Tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang memiliki pengalaman hidup yang identik, bahkan kembar identik sekalipun. Nature, dan nurture, tentu akan membentuk seseorang menjadi unik, unik penampakannya, dan unik jalan pikirannya. Inilah sebabnya, saya tidak pernah menemukan satu orang manusia pun yang benar benar mengerti saya 100%. Mengapa? Karena tidak ada satu manusia pun yang mengalami pengalaman identik dengan saya. Hal yang menyenangkan buat saya, bisa tidak menyenangkan buat orang lain. Bahkan kini dengan era sosial media, di mana saya mudah sekali mengakses bagaimana orang berpikir,yang namanya kebenaran universal pun bisa jadi berbeda menurut satu orang dan orang lain. Padahal namanya universal. Ehh ternyata bisa beda juga. Dan semua orang bisa ngerasa paling oke dalam mempercayai kebenaran universal.

Bertemu dan berhubungan dengan siapapun, semakin dekat, maka saya akan sampai pada pemikiran pemikiran yang tidak cocok dengan saya, yang membuat diri sok pinter saya berpikir "please, masak kaya gitu aja ngga kepikiran", atau "bisa bisanya dia berpikir sejahat itu, atau secetek itu?"  atau "ini gampang bangettt, masak begini aja ngga bisa". Nyatanya, orang lain juga berpikir seperti itu tentang saya.   Saya bisa saja menilai seseorang terlalu bodoh. Sementara orang lain ada yang menilai saya bodoh.

Dulu, hal ini membuat saya frustasi, karena saya nggak bertahan akrab dengan orang lain. Ada saja hal yang berbeda. Saya sering sekali menderita gara gara sikap orang lain. Padahal orang lain cuek dan santai santai aja. Apalagi di jalanan. Di jalanan banyak sekali manusia manusia menyebalkan luar biasa, yang menentukan mood dan produktivitas saya hari itu. Yang paling menyesakkan adalah ketika orang orang yang berhubungan dengan saya  hari itu melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Saya inget banget dulu pernah mengambil tempat duduk di kelas bimbel, lalu orang lain meminta tempat yang saya duduki (padahal di kelas biasanya duduknya bebas) dan saya bilang saya mau duduk di sini karena duluan. Lalu 2 orang teman  saya ini mendiamkan saya. Putus silaturahim. Jika ada kesempatan saya selalu menyambung dengan menyapa, tapi mereka cuek. Hal seperti ini saja bikin hidup saya menderita dan sering nangis.

Tapi seiring waktu saya mendapat nasehat untuk berusaha belajar mengasah bagaimana saya berpikir (masih on progress, daripada tidak sama sekali), memberi jeda waktu untuk memikirkan setiap hakikat kejadian: ini apa, kenapa terjadi, Allah mau kasih pesan apa, bagaimana respon yang kira kira Allah sukai. Betapa ruginya jika keburukan orang lain bisa menentukan diri kita. Bahkan ada pula kebaikan orang lain yang malah membuat kita terpuruk.  Kalau ambil contoh cerita Aa Gym, lihat orang lain senang aja kita bisa panas dingin. Ternyata itu bisa terjadi jika bukan Allah yang jadi sandaran bagi hati. Pernah dengar cerita orang yang jatuh bermaksiat karena dikecewakan orang lain? Muslimah buka jilbab karena kecewa pada suaminya? Itu adalah contoh ketika respon hidup kita ditentukan orang lain. Betapa ruginya. Namun selama nafas belum terputus, tetap ada harapan bagi siapapun untuk husnul khatimah, maka saya berharap saya tidak pernah mengundersetimate siapapun, manusia sejahil dan sehina apapun. Mereka bisa jadi mati dalam keadaan yang baik, lebih baik dari saya.

Semua orang punya latar belakangnya sendiri yang membentuk pola bagaimana mereka mersepon situasi. Semua orang (hopefully) memegang teori kebenaran mutlak (buat saya, Quran dan Sunnah) dan berusaha berproses menuju kesempurnaan. Dan prosesnya... bisa beda beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Ada yang menjadi lebih baik dengan nasehat, ada yang perlu diberi cobaan/musibah besar untuk bertransformasi. Yang akhir akhir ini saya pelajari, ada free will (usaha manusia), ada lingkungan, dan ada Allah yang menggenggam setiap qalbu manusia.  Manusia manusia menyebalkan yang kita jumpai di jalanan, bisa jadi pelajaran baik buat kita jika kita mau memikirkannya. Bisa jadi mereka sedang berproses dan kebetulan 'kelas'nya masih di bawah kita, bisa jadi Allah takdirkan mereka menjadi cobaan buat kita untuk naik kelas. Jika kita masih marah pake nafsu, ngambek, pada hakikatnya kita sedang tidak percaya pada Allah... tidak percaya skenario Allah. Kelas tertinggi... adalah saat qalbu kita (bukan sekedar akal dan mulut) berkata bahwa hanya Allah yang berarti. Only Allah matters.  Itu adalah kelas orang orang yang bisa menyikapi segala kepahitan dan buruknya perlakuan orang lain, dengan senyum dan syukur, dengan tetap berprasangka baik pada Allah. Semoga saya juga tidak lupa untuk mendoakan orang orang nyebelin yang kita temui, agar mereka dimudahkan prosesnya.

Semoga saya bisa ke sana...


Sunday, June 28, 2015

Tujuan Pernikahan (Dengan Lawan Jenis)

Judul tulisan ini, saya tambah dengan tanda dalam kurung 'Dengan Lawan Jenis', karena tulisan di bawah ini lahir karena merenungi pelegalan pernikahan sesama jenis di US.

Belum lama ini ada yang bertanya pada saya: Apa tujuan orang seperti kamu menikah?
Saya jawab: saya mendambakan pernikahan utamanya sebagai sarana menggenapi ibadah. Alasan tersebut ada cabangnya lagi, antara lain sarana bereproduksi (mempertahankan ras manusia di muka bumi), meninggalkan generasi yang baik (membangun peradaban) , dan termasuk juga pemenuhan kebutuhan biologis.
Ok lah masih ada tujuan tujuan egois seperti ingin ada yang ngurus di saat tua ingin ada yang memperhatikan, bahkan bisa jadi ada niat ingin dinafkahi, pokoknya ingin senang sendiri, puas sendiri. Pemenuhan kebutuhan biologis juga bisa masuk ke tujuan egois jika tidak seimbang dan tidak memenuhi fitrah. Namun pada perjalanannya, saya sadar bahwa tujuan tujuan egois ini harus dikendalikan, dan ditempatkan di bagian berjudul efek samping positif, bonus, hikmah, BUKAN tujuanm BUKAN pengendali. Kalau dijadikan tujuan, maka kita menjadi jiwa yang fakir. Jadi.. dalam rangka belajar menjadi manusia yang lebih baik, naik kelas dalam hal spiritual, mencapai higher consciousness or whatever you name it, saya belajar menempatkan dan memisahkan tujuan mulia pernikahan, dengan ego pribadi.
Tujuan adalah segala hal tentang memberi (jiwa yang kaya)
Ego adalah segala hal tentang meminta (jiwa yang fakir). 

Sadar banget diri ini jauh dari sempurna ya.. tapi saya tahu saya harus menuju ke sana.
Untuk mencapai tujuan sejati pernikahan itu, menjalankan fungsi pernikahan yang berorientasi Allah (atau peradaban manusia deh, bagi yang prinsip hidupnya tidak God oriented) hanya bisa terjadi jika ada perempuan dan laki laki, dengan segala karunia perbedaan fitrah pada keduanya, saling mengisi dan menjalani peran masing masing, sesuai kehendak Allah (atau hukum alam, kealamiahan, bagi yang tidak God oriented). Jika tujuan mulia pernikahan ini (yang hanya terjadi dengan adanya persatuan perempuan dan laki laki) tidak tercapai, maka sisanya... hanya pemenuhan hawa nafsu biologis, dan ego, yang penting AKU bahagia dan senang. Kemunduran spiritualitas, bukan hal yang perlu dibanggakan, dirayakan, atau dilanggengkan.
Saya sendiri punya peer besar dalam hal spiritualitas. Saya ingin berproses jadi lebih baik. Penting bagi saya untuk INGIN berproses, betapapun diri ini masih rendah kelasnya. Adapun peran orang lain yang sudah lebih tinggi kelasnya, adalah untuk membantu saya naik kelas, jika diperlukan, bukan malah melanggengkan dan memberi pengakuan terhadap status quo spiritualitas saya.
Penerimaan diri (acceptance) memang merupakan tahap awal pembelajaran, atau penyembuhan. Semoga saya bisa melanjutkan proses setelah ini, bukan jalan di tempat, atau mundur lagi ke penolakan (denial).
Semoga saya bisa terus berproses. Semoga orang orang itu bisa terus berproses walaupun banyak orang yang berusaha membuat mereka jalan di tempat.  
Wallahu a'lam. Kebenaran hanya milik Allah.

Friday, February 27, 2015

Yoga yogaan

Saya lagi  bersyukur banget ada gym dekat rumah. Terus terang saja, yang namanya olahraga sendiri di rumah itu sulitnya luar biasa. Kalaupun bisa, ada aja interupsinya, haha. Nah di gym tersebut, ada kelas kelas olahraga, dan saya paliiiing rajin ke kelas yoga yogaan.

Lho kenapa yoga yogaan? hihi..
Habis, kalau saya baca baca tentang yoga, ternyata ini bukan hanya sekedar olahraga 'sekuler', tapi memang punya filosofi mendalam tentang universal spirituality. Nah, kelas yoga yang di tempat olahraga saya itu bener bener olah fisik, kaga pernah ngomongin filosofi. Saya sih malah seneng seneng aja dan bersyukur dapat kelas yoga yogaan ;p. Awali dengan basmalah, niatkan untuk membentuk kekuatan, fleksibilitas, supaya bugar melakukan aktivitas sehari hari, dan tentunya lebih waras.

Saya mulai icip icip yoga sejak hamil, karena olahraga ibu hamil sering dikaitkan dengan yoga prenatal. Semakin banyak icip sejak kehamilan kedua, di mana saya mulai baca baca tentang filosofi yoga, dan kontroversi yang mengikutinya. Saya berusaha menyerap  dan mengolah sendiri info dari sana sini, sebisa mungkin supaya kesimpulan yang saya ambil tidak bias. Jadi, isu kontra yoga dikaitkan dengan keyakinan bahwa yoga ini seperti sebuah ajaran agama, dan sangat terbumbui oleh agama Hindu. Yahhh saya juga bisa lihat praktisi praktisinya memang menggunakan istilah istilah sansekerta, bahkan ada salah satu materi kurikulum teacher training yang menjelaskan tentang salah satu script Hindu. Tapi saya juga bisa lihat, bahwa pihak pihak yang keukeuh meng klaim yoga sebagai agama, adalah kalau bukan non yogi, ya praktisi newbie, yang sangat terindikasi memang belum belajar banyak. Okay, I still take that as a valuable input.

Di sisi lain, kalau saya baca atau nonton pernyataan dari para masternya sendiri, mereka menyebut bahwa yoga itu memang spiritual, tapi bukan relijius. Beda lho spiritual dan relijius. Spiritual adalah 'sekedar' paham kepercayaan akan adanya kekuatan yang lebih tinggi yang berkuasa atas alam semesta, dan bagaimana kita mengkoneksikan diri kita pada kekuatan ultimate itu. Adapun agama, ya kita semua tahu lah. Jadi, ya saya kategorikan yoga ini memang bukan 'olahraga sekuler' yang sekedar olahraga fisik aja, tapi yoga juga mengajarkan bagaimana setiap hari bertumbuh menjadi orang yang lebih baik, mengajarkan berbuat baik kepada orang lain, menghargai diri sendiri, bla bla bla yang sebetulnya saya nggak perlu belajar gituan dari yoga, karena Islam ku sudah punya konsep seperti itu.

Nah, karena spiritualisme dalam yoga sifatnya universal (versi manusia yaa), maka wajar saja nilai nilai yang diajarkannya seperti halnya pelajaran PPKn (sekarang apa sih namanya), lintas agama. Maka, menjadi wajar juga, nilai moralnya terbumbui dengan siapa yang membawanya. Karena universalitas (again, versi manusia) ini, kadang kadang mungkin ada hal hal yang tidak sesuai dengan nilai nilai spesifik dari agama tertentu, atau pilihan kepercayaan tertentu. Misalnya nih, saya punya keyakinan bahwa tidak pantas nama Allah digantikan dengan istilah 'semesta', walaupun ada yang menganggap semesta itu ya maksudnya Allah (maksudnya jangan kepatok sama tekstual aja). Tapi tetep buat saya itu pengkerdilan. Semesta itu ciptaan, Allah itu pencipta, don't mess with that. Tapi kalau ada yang tidak setuju ya saya ngga bermaksud mendebat di sini, urus aja urusan masing masing, hoho.

Kembali ke urusan bumbu membumbui. Saya sih sejauh ini memilih untuk mempersonalisasi olahraga ini dengan nilai yang saya anut. Yoga memang awalnya (terkenalnya) dikembangkan di India, jadi memang terwarnai Hindu. Bagaikan Columbus lebih terkenal sebagai penemu Amerika, padahal ada Amerigo Vespucci, hehe (Soalnya saya juga sempat baca kalau pahatan pose yoga ditemukan sebelum Hindu ada). Nah, masalahnya, kita jadi agak susah mau olahraga kalau mau bilang yoga dilarang karena dianggap Hindu. Susah banget, soalnya banyak hal sudah diklaim sama yoga sebagai posenya. Mau rebahan aja sudah melakukan pose yoga lho, corpse pose. Mau headstand, handstand, juga pose yoga. Jadi, semua tergantung niat ya? Kalau saya ikut kelas yoga yogaan tapi nggak niat disebut yogini, jadinya gimana ya? (lho kok malah nanya)

Despite more than a century of research, we still don’t know much about the earliest beginnings of Yoga. We do know, though, that it originated in India 5,000 or more years ago. Until recently, many Western scholars thought that Yoga originated much later, maybe around 500 B.C., which is the time of Gautama the Buddha, the illustrious founder of Buddhism. But then, in the early 1920s, archeologists surprised the world with the discovery of the so-called Indus civilization—a culture that we now know extended over an area of roughly 300,000 square miles (the size of Texas and Ohio combined). This was in fact the largest civilization in early antiquity. In the ruins of the big cities of Mohenjo Daro and Harappa, excavators found depictions engraved on soapstone seals that strongly resemble yogi-like figures. Many other finds show the amazing continuity between that civilization and later Hindu society and culture. (http://www.swamij.com/history-yoga.htm)

Nah, tapi terus terang saya punya masalah dengan yoga beneran di tempat umum (bukan yoga yogaan di kelas gym saya yang memang mengesampingkan spiritualitas). Justru karena spiritualisme yoga yang menjadi bagian dari yoga, maka aktivitas yoga di tempat umum rawan terwarnai spiritualisme yang universal (yang sebetulnya tidak semuanya universal menurut saya). 

Contohnya pada suatu hari saya ikut yoga gratis di taman. Pas mau gelar mat, saya agak agak bingung sepertinya ada guru tamu bule yang ngajakin peserta untuk humming, dan gerakannya agak beda dari biasanya. Saya dari jauh liatnya kayak ibadah bareng, seperti ritual suku apaa gitu. Tapi oke lah dont judge the book by its cover lah ya. Saya ikutan aja dulu lah sambil tetap stay alert. Tapi ternyata sepanjang acara, si guru  ngajakin nyanyiin mantra melulu. Peserta dibagi kertas kecil yang berisi mantra. Ada artinya sih dalam bahasa Inggris. Bisa aja sih orang ngeles artinya universal, tapi buat saya not at all. Sepanjang acara memang banyak yang memilih akhirnya diam saja dan mengamati. Nggak bisa dipaksakan juga, that did not feel right for some people. Beberapa orang yang lewat juga saya tangkap basah sedang memandang aneh. Tapi saya lihat masih banyak juga muslim yang mengikuti. Diantara yang mengikuti, kemungkinan ada 2 grup, yaitu golongan yang memang sudah paham atas pilihannya, dan golongan yang nggak ngeh dan ikut ikutan aja. Saya sih concern dengan yang terakhir. Hiks.


Sejauh ini, di sana sini masih ada pro kontra. Saya sendiri akhirnya memilih paham bahwa yoga adalah olahraga dengan filosofi universal (ehh mirip Gentle Birth yaa), yang 'sialnya' pada prakteknya terwarnai oleh keyakinan pengajarnya. Mirip sama karate. Filosofinya dalem, bukan sekedar olahraga tapi way of life. Tapi boleh boleh aja tho I skip the way of life part nya. Ngapain gitu lho, lha wong sudah punya way of life sendiri ;p Sepakat juga sama fatwa MUI tentang pengharaman yoga tapi kondisional, so bukan masalah yoganya (jadi jika syaratnya memenuhi maka diharamkan, yaitu yang mengandung mantra dan ibadah). Kalau ada yang tetap berpendapat kalau tidak begini begitu berarti tidak melakukan yoga, I dont mind not being called yogini.  I will still do corpse pose anyway, every night :D

Thursday, November 27, 2014

Perang Kebenaran dalam dunia Emak

Ok bismillah.  Smoga Allah menuntun lisanku.  Dalam dunia mencari ilmu (yg mana kita manusia wajib cari ilmu) ada kaidah yg saya percaya, yaitu mencari dan menyampaikan hal yg bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

Let’s say penyampaian ajaran islam melalui quran dan hadis.  Quran dan hadis kan awalnya tidak ditulis,  tapi disampaikan oleh satu orang ke yg lain,  di mana para perawi (penyampai)  ini memiliki kredibilitas yg baik dan syaratnya utk disebut sahih juga berat.  Penyampaian ajaran agama ternyata juga ada kaidah standarnya supaya bisa dianggap terpercaya.  Kalaupun setelah melalui kaidah tersebut ternyata ada perbedaan karena intelektualitas manusia,  para ulama yg ilmunya tinggi justru tidak saling ngatain ulama lain salah (ada kartunnya ttg ini tp lupa dimana liatnya,  ttg betapa yg doyan debat panas itu mahasiswa freshmen,  pdhl syeikh nya yg beda pendapat aja adem ayem).  

Nah dalam dunia keilmuan yg lain, sama.  Kita semua mencari kebenaran berpegang pada kaidah yg sama:  riset,  data,  pedoman statistik.  Semua pakar melalui proses itu sebelum menyampaikan kebenaran. Kalau tidak, saya tidak bisa bilang pakar. Praktisi mungkin lebih tepat (orang yang mempraktekkan).  Artinya,  kebenaran yg disampaikan punya dasar yg bisa dipertarungkan di sidang di hadapan banyak orang,  dgn obyektif,  bukan emosional. Kalo ternyata riset nya nanti berubah hasilnya,  ya gpp, itulah dinamika ilmu pengetahuan. Kita ngga bisa ngga percaya. Inilah yang membedakan orang yang berilmu dengan yang tidak. Lha kalau ngga percaya metoda ilmiah, kita mau klaim kebenaran dasarnya apa? Masak hasil terawangan. Jangan juga  percaya sama gelar ustad, tapi harus cek dia belajar di mana dan mendalami apa, sehingga kita ngga terjebak sama opini, bisa bedain opini dan informasi obyektif berdasarkan keilmuan.

Dalam dunia “holistik” (saya pakai tanda kutip yah soalnya menurut saya “holistik’ yang istilahnya dipakai banyak orang belum tentu benar benar holistik)  ada praktek praktek yg dipercaya turun temurun dan mungkin BELUM terbukti secara ilmiah.  Banyak juga praktek praktek pseudoscience, yaitu sesuatu yang kayaknya ilmiah, tapi sebetulnya belum ada riset yang bisa membuktikan. Ya jalani saja kalo memang dirasa memberi manfaat. Saya juga menjalani kok pseudoscience, sebut saja beberapa teknik self healing, atau tes sidik jari untuk anak. Tapi saya tau betul ini pseudoscience, jadi saya tidak akan berdebat sama akademisi yang mengatakan ini pseudoscience, lha memang benar kok.Testimoni, tidak lantas menyebabkan sesuatu menjadi kebenaran yang pantas disebar ke khalayak. Kalo iya, kita gak usah ngamuk sama nenek yang ngasih pisang ke bayi 2 bulan. Lha kan bisa aja si nenek testimoni : "dulu kamu bayi dikasih pisang juga gak apa apa kok, sekarang gedenya jadi sarjana juga" 

Sekedar info saja, what so called ‘dunia medis’ juga kadang kadang melakukan hal hal yang belum terbukti manfaatnya secara keilmuan, kalo yang saya tahu sih misalnya latar belakang SOP penanganan ibu melahirkan di RS, atau pemberian obat yang tidak rasional ( istilah tidak rasional ini karena gak ada dasar riset klinisnya, tapi prinsip feeling dan pencegahan saja tanpa menggali risikonya).

So, dari pengamatan saya, dunia “medis” dan “holistik”, keduanya ada pihak melakukan atau mempercayai hal hal yang belum terbukti dalam koridor ilmiah. Nah ketika masing masing pihak keukeuh bahwa tindakannya adalah benar, sebenarnya itu mencederai bidang masing masing. Misalnya, (1) Praktek dokter yang tidak RUM, menurutku mencederai dunia medis dan ilmu pengetahuan    (2) Praktek pengobatan “holistik” yang ngasih herbal tanpa ada riset yang memback up nya, lalu diblow up dalam kemasan testimoni yang gak sesuai dengan pedoman statistik, itu juga mencederai dunia kesehatan “holistik”. Padahal herbal kalau diteliti, pasti potensinya luar biasa. Sayang banget kan ternoda dan jadi terhambat perkembangannya gara gara praktisi herbal sendiri. Ini yang membuat kalangan medis memusuhi "holistik", begitu juga sebaliknya. Masing masing sebenarnya memusuhi sisi gelap yang lain, tanpa peduli sisi terangnya.

Masing masing penodaan ini, justru menjadi bumerang terhadap terciptanya kondisi HOLISTIK yang sebenarnya. Holistik yang sebenarnya menurut persepsi saya, adalah seperti melihat gajah dari jarak yang cukup untuk bisa menyimpulkan bentuk gajah, bukan seperti orang buta yang satu pegang belalai yang satu pegang telinga, lalu  masing masing ngotot tentang bentuk gajah.

So, saya ga percaya kalau medis dan “holistik” itu bertentangan.

Dalam kehidupan nyata saya, saya juga menjalani dan mempercayai prinsip holistik, dan menolak mekanisasi tubuh manusia yang dianut dunia medis yang katanya dimulai sejak Revolusi Industri. Tapi ketika menyampaikan sesuatu ke orang lain, saya harus punya dasar, sebagaimana mendakwahkan isi Quran dan hadis juga harus jelas ayat berapa, konteks asbabun nuzulnya bagaimana, untuk hadis tingkatan hadisnya gimana (untuk menjadi status hadis shahih itu perawinya nggak main main syaratnya berat). Jadi ketika saya mempromosikan sesuatu yang belum ketemu ‘dasar’nya, maka saya wajib menyertakan disclaimer. Misalnya, keterangan bahwa hal ini memiliki risiko a, b, c, atau saya sekedar menyebut saja “ eh ini caraku lho, belum tentu benar”. Jadi dengan ini kita juga ngajak orang lain untuk bertanggungjawab pada pilihannya sendiri, sadar benefit, sadar risiko. Masalahnya kadang kadang orang lain asal ngikut aja sih hhehee.

Hal ini juga yang menyebabkan saya mengerem atau ‘kontrol diri’ dalam mempromosikan popok kain. Kalau boleh ngaku ngaku, saya termasuk jajaran orang pertama atau pionir promosi popok kain di Indonesia (tentunya bersama beberapa rekan yang lain, terutama di milis popok kain) di tahun 2008. Saat itu Enphilia termasuk brand yang awal awal muncul sebagai alternatif produk impor yang selain mahal juga berantai karbon lebih panjang.(check out www.rumahpopok.com atau www.facebook.com/enphilia hehehe ngiklan deh) . Dulu saya memulainya dengan promosi cinta lingkungan, karena memang semuanya dimulai dari keinginan reduce dan reuse. Gara gara itu, cukup banyak orang mengaku menjadikan saya panutan karena idealisme cinta lingkungan, kemungkinan tanpa paham sisi lain dari hal yang sedang saya promosikan. Menurut saya sih itu gawat, kalo mereka tahu saya masih nyetok pospak, bisa pada muntah, hehe. Tapi sekarang, yang sibuk kami lakukan sekarang adalah mengerem orang lain untuk mempromosikan popok kain dengan klaim cinta lingkungan secara berlebihan. “generasi penerus” di belakang kami memang mengikuti jejak kami mempromosikan popok kain, tapi kok jadi seolah olah “agama baru” ya, yang menghakimi  kaum yang “tidak cinta lingkungan”, dan mengklaim fakta fakta yang mereka jabarkan adalah benar, padahal risetnya juga ngga bisa ditelusuri. Akibatnya apa coba? Saya ngeliat beberapa teman justru terindikasi skeptis luar biasa sama popok kain (isu yang sama ditemukan pada promosi Gentle Birth). Mungkin akibat  mereka merasa dihakimi? Kalo mau cari contoh lain sih banyak ya, di bawah bendera “MOM’s WAR”.

Apa yang sekarang saya perjuangkan jadi lucu sebenernya. Saya ini pemakai popok kain yang merasakan benefit darinya, pedagang popok yang pingin dagangan laku, tapi yang saya lakukan adalah mengerem orang dari promosi kebanyakan. Saya juga ikutan memperjuangkan gentle birth, tapi justru sibuk mau ngasitau orang bahwa intervensi medis is not that bad, jangan ngotot normal kalau jelas berisiko tnggi.
.

I keep on selling. But, I want people to know well what they are buying. 
Let's collecting puzzles of truth.
Menuju Holistik yang sesunggunya (tanpa tanda kutip)


Segala kebenaran datangnya dari Allah

Kalau ada yang salah, salah salah kata, itu sayanya aja yang salah. Mohon maaf yaaa

Monday, November 3, 2014

Rara Berenang

Sudah sejak lama saya terkesan melihat video bayi berenang. Yup. Bayi. usianya mungkin masih 4 bulan hingga di bawah 1 tahun. Ada pula video mengenai batita yang kecebur kolam renang, tapi lalu dia berhasil menyelamatkan diri, dengan kemampuannya berenang.
Dalam beberapa artikel saya juga menemukan refleks bawaan bayi terkait berenang, yaitu refleks menyelam (refleks menahan nafas di air), dan bergerak menyerupai berenang. Selama hamil dan mempersiapkan kelahiran Rara, saya juga sering menonton video waterbirth, dan memang benar sih, bayi waterbirth saat baru dilahirkan biasanya dibiarkan selama beberapa detik dalam air dan mereka bergerak gerak seperti berenang, dan tidak tersedak atau kemasukan air, karena menahan nafas.
Tapi jangan disalahartikan bahwa bayi punya kemampuan berenang yaa. Refleks seperti berenang, dan bisa berenang, itu hal yang berbeda. Bayi baru lahir TIDAK memiliki kemampuan berenang. Jadi, video batita yang bisa menyelamatkan diri itu, saya duga kuat adalah batita yang sudah dilatih.
Saya tertarik juga dengan melatih bayi berenang, minimal untuk pertahanan diri (survival), tapi ide itu cepat terlupakan karena memang belum menemukan tempat belajar berenang untuk batita, dan agak mikir juga, berlebihan nggak yaa  kecil kecil belajar berenang. Toh nanti kalau sudah umur 5 tahun bakal lebih mudah diajar, begitu salah satu bahan pertimbangan saya. Tapi lalu ide itu kembali muncul saat mendaftarkan Raul ke Anak Air Swim School, dan melihat foto bayi gede banget dipajang sedang tersenyum di bawah air. Ternyata anak air menerima anak minimal usia 6 bulan. Memang sih, walaupun AAP (American Academy of Pedicatrics) menyarankan agar belajar renang sebaiknya minimum usia 1 tahun, tapi American Redcross punya pandangan yang berbeda. Lagian, Rara juga sudah menginjak 2 tahun, jadi sekalian aja berdua belajar berenang. Waktu itu alasan saya akhirnya memasukkan Rara ke kelas berenang selain untuk belajar survival, juga merasa bahwa berenang adalah media untuk optimalisasi stimulasi motorik. Namun, ternyata setelah baca baca artikel sana sini, termasuk beberapa abstrak jurnal ilmiah, ternyata berenang bagi bayi dan batita juga memiliki manfaat yang lebih dari itu, antara lain baik untuk kesehatan jantung dan meningkatkan kekuatan paru paru, meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas, meningkatkan stamina, keseimbangan dan postur tubuh. Beberapa artikel lain juga menyebut bahwa belajar berenang bisa meningkatkan IQ menurut penelitian (yang ditulis beberapa artikel). Tapi untuk urusan IQ ini saya belum nemu sumber ilmiahnya, hanya baca klaim dari pihak pihak yang menawarkan kelas renang, atau dari artikel artikel populer yang sulit melacak sumber referensinya. 
CAM00405
Karena alasan kepraktisan dan lokasi, aktivitas belajar berenang anak anak dipindah ke Rockstar Gym. Ternyata Rockstar Gym menggunakan standar metoda yang sama dengan Anak Air, yaitu American Red Cross. Bedanya, di Anak Air semua anak belajar privat walaupun durasi hanya sebentar, sedangkan di Rockstar Gym belajarnya dalam grup, kecuali memang mau privat.
Aktivitas Rara dalam kelasnya, harus dilakukan dengan pendamping (Kelas Mom & Me). Untuk kelas pemula, tujuannya adalah agar anak terbiasa dalam air, tidak takut, dan merasa nyaman. Maka, aktivitasnya didominasi bernyanyi dan bermain. Jadi, kelas ini banyak menggunakan bola bola plastik, dan mainan yang bisa diambil. Untuk pemula seperti Rara, saya  merasa Rara lebih cocok aktivitas dalam grup daripada privat. Anak sekecil Rara, rentang fokusnya (attention span) sangat singkat, jadi kalau belajar dalam kelas privat cepet bete nya dan tidak ada obyek pengalihan. Adapun dalam kelas grup, kalau Rara lagi merasa capek, ngadat, apapun sebabnya, maka  bisa istirahat sebentar sambil mengamati teman temannya. Nah, dari mengamati saja ini kan sebetulnya proses belajar juga. Istirahat bisa dipakai untuk mengamati sambil membujuk. Nah kalau mood sudah baikan, baru ikutan instruksi lagi.
Pembelajaran berenang yang serius dalam kelas pemula ini contohnya menggerakkan kaki (gaya bebas), telentang, dan memasukkan semua bagian kepala ke dalam air. Semua pembelajaran itu dialakukan dengan bermain. Misalnya anak disuruh mengejar bola dan mainan yang disebar di kolam, atau memindahkan dari pos 1 ke pos lainnya. Nah main main ini melibatkan gerakan kaki. Belajar telentang dilakukan dengan berperan tidur dan menyanyikan lullaby. Nah yang menurut saya paling keren dan menegangkan dari kelas ini adalah memasukkan kepala ke dalam air. Proses ini juga dilakukan dengan bermain, misalnya menggunakan hoola hoop yang setengahnya masuk ke air, lalu si anak dibantu untuk melewati hoola hoop itu dengan menyelam kira kira 1 hingga 2 detik. Proses ini ngga boleh dilakukan kalau anaknya kelihatan ngga siap (tandanya nangis sampai teriak teriak dan badannya meronta pengen kabur). Makanya untuk sampai ke tahap ini, kebanyakan anak perlu mengikuti kelas beberapa kali dan bisa juga lama prosesnya. Kalau anaknya nangis dan menolak dan kita tetap maksa, malah bisa jadi anak mereka berenang adalah hal yang tidak menyenangkan. Bisa trauma deh sama air. Nah, kalau sudah melewati ini, jadi takjub dehh sama kemampuan anak, hehe.
CAM00381
Oh iya saya juga mendapati bahwa untuk Rara, alat bantu pelampung justru menghalangi proses belajarnya. Pernah saya bawa pelampung untuk main main. Eh malah karena tergantung dengan pelampung itu, Rara menolak untuk meraih tangan saya saat belajar meluncur, tapi malah keukeuh pegangan sama pelampung, dan akibatnya postur badannya juga jadi kacau. Saat tidak bawa pelampung, Rara jadi  mau tidak mau mengandalkan diri sendiri (dan tangan saya untuk pegangan). Tangan saya lebih bermanfaat untuk menjaga posturnya tetap baik dan membantunya bergerak kesana kemari.
Kunci dari kecepatan belajar batita adalah mood alias suasana hati. Beberapa saat yang lalu  mood Rara lagi baik banget dan dia sangat senang berada di kolam. Dalam 1 kali berenang, saya berhasil membujuk Rara untuk meluncur tanpa support dan memasukkan kepalanya ke air dengan kemauannya sendiri.  Oke saya kasih sedikit reward sih untuk ini, yaitu chewable vitamin, dan pujian habis habisan atas keinginannya belajar, hihi. Rara suka banget sama gummy candy itu. Saya memang sekarang sering menjadikan itu reward buat apapun. Nah saya agak kaget juga dengan kemampuan itu. Ternyata kalau sedang senang, gampang banget ngajarinnya ;p. Ternyata, begitu dia tahu bisa melakukan itu, eeh malah ketagihan. Sepertinya Rara baru merasakan enaknya sensasi meluncur di air. Jadi hari itu Rara mencoba dan mencoba terus kemampuan barunya :D


Bagi yang merasa ribet masukin anak ke les lesan, bisa lho melakukan sendiri proses pengenalan aktivitas berenang. Catet yaa. Pengenalan. Aktivitas yang bisa dilakukan sendiri antara lain bermain lempar lempar dan kejar bola plastik, ciprat ciprat air dengan tangan atau gerakan kaki, mengalirkan air di kepala dan muka anak (bisa dengan tangan atau ember mini yang dibolongi), mencontohkan anak untuk meniup dalam air (mulutnya masuk air tapi hidungnya ngga apa apa di atas air, nanti lama lama bisa diminta untuk memasukkan hidungnya juga), dan tiduran dengan posisi badan telentang lurus dengan disokong.

Last but not least, banyak yang perlu diketahui yaa sebelum mengajarkan batita berenang. Selain banyak manfaatnya, ada juga lho batasan batasannya, misalnya adanya risiko tenggelam, sensitivitas klorin, risiko hipotermia, hingga risiko terbakar sinar matahari. Yaaa, I believe there are always advantages and disadvantages for everything, jadi yaa ditimbang timbang aja sebelum memutuskan sesuatu. Untuk menghindari risiko tersebut untuk Rara sih, penjagaan full time tentu hal yang mutlak. Selain itu saya biasanya merasa cukup mengajarkan berenang 30 menit ditambah main main sebentar selama 15 menit. Memang sih sesekali saya kesulitan untuk mengajak Rara untuk mengakhiri aktivitas main airnya, yang akhirnya selesainya molor dari waktu yang diniatkan dan pernah juga sampai kesiangan jadi panas sekali udaranya. Semoga pengalaman itu bisa jadi bahan bikin strategi di sesi selanjutnya deh :)

Referensi:
(6) http://www.livestrong.com/article/148394-what-are-the-benefits-of-swimming-for-kids/

Tuesday, August 26, 2014

Menyapih Rara

Alhamdulillah, atas izin Allah, Rara berhasil melewati ASI eksklusif, ASI 1 tahun, hingga 2 tahun. Selesailah masa ‘wajib menyusui’. Selesailah saya mengemban amanat Allah untuk memberikan yang terbaik. Tentu saja, menyusui ternyata tidak sekedar pengguguran kewajiban. Selama menjalaninya, saya menyadari urgensi menyusui yang tidak sekedar pemenuhan kebutuhan nutrisi dan imunitas.
Menyusui itu:
- Merupakan kesempatan untuk ‘memperbaiki’ proses kelahiran yang mungkin sedikit atau banyak, disadari atau tidak disadari, traumatis bagi bayi, maupun ibu. It’s a healing moment.
- Kesempatan membangun ‘bonding’ atau keterikatan emosional yang dampaknya akan dirasakan seumur hidup.
- Cara ampuh bagi ibu untuk istirahat jika kelelahan. Ibu menyusui tentu paham banget kalau proses menyusui ini juga cara untuk memberi kenyamanan di saat ibu dan bayi merasa tidak nyaman. Anak sakit, misalnya demam, akan lebih ‘calm down’ dengan menyusu. Ibu yang kelelahan, capek nemenin atau gendong anak, tinggal duduk atau tiduran saja dan semua hepi, hihihi. Hingga anak kalo lagi tantrum dan ibu udah bingung mau ngapain lagi untuk membuat anak mau diem, peluk aja dan sodori nenen, insyaaAllah.. lapar atau tidak, anak akan diem, wkwkwk.
Memang sih, ada konsekuensi negatif dari membiarkan anak menyusu kapan saja (apalagi Rara ngga kenal asi perah dan dot), termasuk menjadi andalan saat mencari ketenangan. Rara selalu butuh menyusu untuk tidur, dan ini juga bisa menjadi sebab Rara malas makan. Karena ‘ketergantungan’ itu, terkadang saya menjadi tersandera saat mau beraktivitas yang butuh mobilitas. Misalnya nih, mau rapat komite sekolah jam 9. Yaa sering banget akhirnya datang jam 10 karena disandera oleh Rara dulu, hehe. Ini juga menjadi kerepotan tersendiri jika saya harus meninggalkan Rara untuk urusan yang cukup ribet jika harus mengajaknya.
Kakaknya, Raul, dulu tersapih di usia 2 tahun kurang 1 bulan. Menyapihnya cepat, cukup tolak kasih nenen selama 3 hari 3 malam berturut turut. Setelah itu beres. Tapi 3 hari 3 malam itu benar benar pernuh perjuangan dan air mata. Menyapih anak benar benar seperti melihat orang sakaw. So heartbreaking. Saat itu saya berpendapat (karena mau 2 tahun) itulah yang terbaik yang harus dilakukan, daripada ngebohongin anak kalau susu nya pait, kasih brotowali. Be careful, a baby knows if you lie, and you don’t want to teach your child dishonesty. Ibu saya sendiri berkali kali memohon saya untuk menunda menyapih karena Raul menangis jejeritan ga berhenti sepanjang malam, dan dia memang terlihat terluka dan merasa ditolak. Saya saat itu masih merasa tahapan ini memang harus dijalani. Tapi pada akhirnya, Raul tersapih, dan Raul mengalami apa yang selanjutnya saya baru tahu bahwa itu disebut sebagai ….REGRESI perkembangan (penjelasannya baca di sini). Yang tadinya sudah tidak mengompol lagi saat malam, lalu mengompol. Terus terang hal tersebut bikin saya emosional juga dan makin kelelahan. Lalu, saya ngga tahu ada hubungannya atau tidak, tapi Raul di usia 2-4 tahun sangat tertutup dan takut dengan orang lain waktu itu. Padahal waktu bayi terkenal 'sumeh' (ramah, suka tersenyum). Kelihatan banget beliau ini sangat insecure, takut diperhatikan orang lain, ditinggal dikit merasa terancam, menolak bergaul sama tetangga, dan jejeritan saat tampil di pentas sekolah (saat usia 3,5an tahun) di saat semua temannya pede pede aja. Sejauh ini saya yakin ini ada hubungannya dengan penyapihan sepihak (mungkin ada faktor lain juga sih tapi saya nggak tahu).

So, untuk Rara, saya meniatkan untukWeaning With Love (WWL). WWL sebagai suatu metoda lho ya. Saya yakin kok semua cara penyapihan pasti lah pakai cinta ;p
Weaning With Love, saya artikan sebagai proses penyapihan yang membutuhkan persetujuan dan kesiapan psikologis dari kedua belah pihak. Ibunya siap, sudah engga galau, anaknya juga sudah siap melepaskan diri dari menyusui. Proses ini akan terjadi sendirinya. Yang harus dilakukan hanya memperbanyak komunikasi dan membangun kesiapan anak untuk tahapan hidupnya selanjutnya. Seperti disebut di atas, proses menyusui adalah juga tentang pemenuhan kebutuhan psikologis pada fase tertentu, di mana fase ini tidak saklek memiliki batasan umur. Jika pada usia 2 tahun sudah dihentikan sepihak, mana tahu ada kebutuhan lain yang belum terselesaikan untuk dipenuhi.
Namun, sebagaimana proses kelahiran yang terkadang harus mendapat intervensi karena mengalami komplikasi, sepertinya saya dan Rara juga mengalami ‘komplikasi’ tersebut. FYI, Rara adalah anak dengan tren pertumbuhan yang ada di bawah persentil terbawah kurva pertumbuhan WHO. Sejak lahir, panjangnya saja sudah termasuk ‘pendek’ (walaupun beratnya normal). Tingginya awalnya ada di garis persentil 3% (yang terbawah kalau menurut kurva WHO). Sedangkan beratnya agak sedikit di bawah persentil 50%. (garis hijau, yang tengah). Dalam perjalanan pertumbuhannya, beratnya nyebrang ke persentil di bawahnya., lalu nyebrang ke bawahnya lagi (sekarang di garis persentil 5%). Alhamdulillah Pak dokternya anak anak tidak gampang mengeluarkan diagnosis gagal tumbuh hanya berdasarkan kurva. Apalagi perkembangan kecerdasan Rara baik baik saja, dan fisiknya pun tampak normal proporsional (walaupun kurus karena malas makan). Urusan pertumbuhan, saya memang agak ngerasa insecure karena tekanan berbagai pihak (ohhh, this issue again? Huhu.. butuh rajin self healing), maka saya rajin banget mantau pertumbuhan Rara. Kadang kadang ke dokter pun cuma ngecek kurva dan diskusi sama pak dokter aja, hehe. Pada akhirnya, walaupun tidak disebut gagal tumbuh, setelah mempelajari data, Rara dirujuk ke ahli endokrin anak. Dokter endokrin mencurigai adanya growth hormone deficiency. Tapi semuanya baru bisa dipastikan nanti jika usianya 4 tahun. Sekarang memang sudah menjalani beberapa tes, tapi ya memang masih terlalu dini untuk memastikan. Dokter bilang, 2 tahun ini tidak ada yang bisa dilakukan selain menjaga gizinya. Lalu Rara disarankan untuk melakukan screening besi ulang (dulu pernah di umur 1 tahun, hasilnya baik baik saja), hasilnya ada defisiensi zat besi tapi belum sampai anemia.
Dari situ lah saya kemudian mempertimbangkan kembali masalah Weaning With Love, karena nyatanya Rara memang makannya tidak teratur dan dikit dikit minta nenen. Ya agak ngga heran kalau besinya kurang karena memang seperti ngga ada minat untuk makan Harapan saya, kalau Rara sudah tidak menyusu, makannya akan menjadi normal. Tapi, untuk menghindari penyapihan mendadak seperti yang Raul alami, saya memutuskan untuk melakukan penyapihan secara bertahap. Saya banyak terbantu juga dengan prinsip yang dijabarkan Elizabeth Pantley dalam bukunya “ No Cry Sleep Solution”. Memang sih pada akhirnya tidak menjalankan step by step yang diajarkan di buku itu. Tapi ngambil prinsipnya aja, bahwa metoda no cry sleep solution tidak akan sama antara anak satu dan lainnya. Semuanya haruspersonalized. Akhirnya, saya kurangi frekuensi menyusui Rara. Memang sih tidak berdasarkan kesediaan kedua belah pihak (jadi ya enggak WWL banget, huhu). Prosesnya makan waktu lebih lama. Tapi kalau saya perhatikan, prosesnya tidak sedramatis yang Raul alami. Duhhh… sepertinya Raul dulu terluka sekali batinnya. Maafin Bunda ya, Nak.

Kalau untuk Rara, saat anaknya terlihat benar benar ‘sakaw’, saya akan kasih dulu. Saya akan bertahan ngga menyusui jika Rara juga bisa mengatasi keinginannya sendiri setelah beberapa waktu. Ternyata memang ada saat saat di mana dia tidak benar benar butuh menyusu, tapi hanya kebiasaan iseng saja. Nah kalau lagi ‘iseng’ ini, biasanya Rara akan ngotot minta nenen nya hanya beberapa saat saja, dan bisa dialihkan. Konsekuensinya, ya memang capekkkk hehehe. Tapi ya sudah, demi kita berdua ya naak, supaya kita berdua sama sama move on.
Alhamdulillah, mungkin sudah 1 bulan lebih Rara tidak menyusu lagi. Tidak ada drama memilukan. Payudara saya juga tidak pernah bengkak seperti yang terjadi waktu menyapih kakaknya. Harus diakui saya masih merindukan menyusu dan kadang kadang Rara masih seperti mau minta. Tapi Insyaa Allah ini yang terbaik. Nyatanya, makannya sekarang lahap sekali, kadang minta nambah berkali kali dan pipinya juga semakin gembil berisi. Memang sih, belum terlalu nyata terlihat perbaikan di tinggi badannya. Mungkin perlu waktu saja. Tapi engga apa apa, saya sudah lakukan yang harus dilakukan. Yang penting sekarang nafsu makan Rara membaik banget! Alhamdulillah :)