Wednesday, November 4, 2015

Talents Mapping


Dari dulu saya selalu menyadari ada beberapa 'kelemahan' dalam diri. Karena waktu itu jamannya penggugahan motivasi, saya memilih untuk mendobrak diri saya, melakukan hal hal yang 'nggak gue banget' yang saya anggap bisa membuat diri saya jadi lebih baik. I tried hard, tapi hasilnya tidak saya lihat. Yang ada saya merasa energi saya habis dan lelah melakukan sesuatu, tapi tidak ada hasilnya. Rasanya... hmmm... sedih, semacam putus asa lah gitu (saya ngga mau bilang putus asa sih karena ngga sampai putus asa banget hehe)

Belakangan saya dapat info tentang Talents Mapping (TM) yang ditawarkan oleh Pathfinder Career Consultant, yaitu sebuah assessment untuk mengetahui mana bakat dan kelemahan bawaan kita. Manfaatnya adalah supaya kita dapat lebih fokus pada kelebihan kita, dan menggunakan kelebihan tersebut untuk mengelola kelemahan kita. Saya jadi tahu bahwa kelemahan itu bukan sesuatu yang harus dijadikan kelebihan. Kelemahan harus diakui apa adanya, dan dimaklumi oleh orang orang sekitarnya. Menarik bukan. Lebih menarik lagi, hasil assessment nya tidak berupa skor atau pengkategorian baku, tapi sangat personalized. Setiap orang hasilnya unik, tidak akan sama satu dengan lainnya. Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan seseorang, kita bisa tahu bagaimana memposisikan orang tersebut dalam sebuah tim, entah tim di perusahaan, tim olahraga, panitia acara, bahkan tim rumah tangga (suami istri).

Saya sebenarnya orang yang banyak bingung karena banyak minat. Saya juga bingung bakat saya sebenernya apa ;p karena saya banyak bisa ini dan itu tapi tidak menekuni sampai dalam. TM membantu saya memetakan sebenarnya apa yang kuat dan lemah dalam diri saya. Alhamdulillah suami juga ikut saat pembahasan hasil assessment saya, dan beliau juga baru ngeh bahwa beberapa kelemahan saya ternyata 'dari sononya' alias harus dimaklumi. Jadi dengan mendengar hasil assessment ini, suami yang sudah pengertian, jadi makiiinnn pengertian lagi, hehehehe. Asik kaan.

Pada suatu saat, saya tertarik mengikuti sebuah pelatihan yang sebenarnya cukup mahal bagi orang iseng yang lagi pas pasan, tapi worth it bagi yang ingin menekuni bidang tersebut. Saat itu saya berpikir, mubadzir ngga yah saya mengeluarkan uang sekian juta untuk ini, dalam kondisi uang mepet dan usaha sedang  ada cobaan. Kalau boleh pinjam istilah Kiki Barkiah, saya berpikir apakah ini bermanfaat dan berpengaruh bagi peran kekhalifahan saya di dunia ini. Akhirnya saya buka buka lagi hasil assessment TM, tanya tanya dikit sama Pak Firman dari Pathfinder, yang berakhir pada kesimpulan bahwa ini pantas dilakukan. 

Alhamdulillah, I feel happy with what I am doing now.

Mengikuti TM recommended banget deh, tool yang keren supaya kita ngga buang buang energi mengembangkan diri  di  bidang yang tidak tepat. Thank you, Pathfinder Career Consulting.

Monday, August 17, 2015

Struggle to Surrender to Iman

Izinkan saya mengutip beberapa artikel sebagai prolog:  

Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari pernah didatangi malaikat Jibril dalam wujud seorang lelaki yang tidak dikenali jatidirinya oleh para sahabat yang ada pada saat itu, dia menanyakan kepada beliau tentang Islam, Iman dan Ihsan. Setelah beliau menjawab berbagai pertanyaan Jibril dan dia pun telah meninggalkan mereka, maka pada suatu kesempatan Rosululloh bertanya kepada sahabat Umar bin Khoththob, “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ?” Maka Umar menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya lah yang lebih tahu”. Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya dia itu adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim). Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh mengatakan: Di dalam (penggalan) hadits ini terdapat dalil bahwasanya Iman, Islam dan Ihsan semuanya diberi nama ad din/agama (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 23). Jadi agama Islam yang kita anut ini mencakup 3 tingkatan; Islam, Iman dan Ihsan.

(tentang iman islam dan ihsan, please see http://rumaysho.com/aqidah/mengenal-tingkatan-islam-26.html)
Ihsan adalah tingkatan paling tinggi. Tingkatan pertama yaitu islam, kemudian tingkatan yang lebih tinggi dari itu adalah iman, kemudian yang lebih tinggi dari tingkatan iman adalah ihsan (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 64)
(http://muslim.or.id/aqidah/islam-iman-ihsan.html)

Ihsan memberi 'nilai mendalam' pada Islam dan Iman. Apa jadinya jika kita menjalankan shalat, puasa, dan berikrar kita percaya pada Allah dan rasulnya, jika tanpa ihsan? Ihsan seperti membuat segala hal lahiriah yang kita lakukan menjadi terintegritas dengan apa yang ada di dalam hati. Ihsan yang membuat shalat menjadi bermakna dan terpancar pada perilaku orang sehari hari.
Islam adalah tentang Ilmu fiqih. Iman adalah mengenai akidah. Ihsan adalah mengenai akhlak (sebagai integrasi dari islam dan iman). Setan akan senantiasa menggoda manusia melalui 3 pilar ini.

Iman/akidah, pada pengertian lapis pertamanya adalah mengakui bahwa Allah adalah Tuhan. Saya yakin semua orang yang memutuskan beragama Islam di KTPnya, mempercayai isi syahadat. Pada lapis selanjutnya, akidah tidak hanya kesaksian lisan, namun juga secara esensi hidup menyembah Allah, bukan materi, bukan kekayaan dunia. Orang orang yang tujuan utama hidupnya adalah mengumpulkan harta sebanyak banyaknya, sehingga mengabaikan shalatnya, dan hubungan baik dengan saudaranya, bisa dikatakan sebagai 'penyembah harta'.

Hati hati sama setan. Kalau dia tidak bisa menggoda manusia dalam hal melarang hal hal yang jelas terlarang, maka dia bisa menggoda dengan cara lebih halus. Konon, setan itu beda beda tingkatannya, ada yang intelektualitasnya rendah, ada yang super cerdas. Setan setan cerdas akan dikirim kepada orang orang yang sholeh dan ahli ibadah, dan yang dia 'ulik' bukan untuk membuatnya malas shalat, malas sedekah, malas menebar ilmu, tapi yang dia ganggu adalah hati. Kalau ada seseorang yang zuhud, maka bisa jadi kezuhudannya ini menjadi hal yang akan menjadikannya terpeleset. Misalnya, setan tingkat tinggi bisa masuk ke dalam hatinya dan menaruh sebersit kesombongan melihat orang orang lain yang hedon dan belum 'tercerahkan'. Namanya ego trap. jebakan ego. Saya sendiri mengamati ada beberapa orang bijak yang saya kenal terjebak ego trap ini. Tapi saya pun harus jeli, jangan jangan setan memerangkap saya dalam ego trap, supaya menganalisis orang orang bijak dan merasa sombong karenanya. Haduhh... banyak istighfar aja deh. Manusia tempatnya salah. Fitrah tersebut bukan untuk menjadi pembenaran melakukan kesalahan, namun untuk menyadari kelemahan dan banyak memohon ampun pada Allah.

Fyuhh, perjalanan untuk menginternalisasikan dinul Islam dalam diri ini (saja)bukan hal yang mudah. Dalam bermuamalah dengan anggota keluarga terkecil saja sudah jadi medan perjuangan yang luar biasa. Medan perjuangannya lebih banyak di hati. Ujian keimanan yang 'tingkat tinggi' sudah muncul di sini. Kalau para pekerja yang bekerja di ladang 'basah' mendapat ujian untuk tidak menuhankan harta, maka bagi ibu ibu di rumah, ujiannya adalah untuk tidak menuhankan suami, tidak menuhankan anak, dan tidak menuhankan ego dalam diri, juga tidak menuhankan rasa sedih dan gembira (yg mana memang biasanya menjadi sumber kesedihan dan kegembiraan adalah keluarga). Khusus dalam rumah tangga, bahkan ada setan yang benar benar membuat pernyataan perang kepada rumah tangga. Setan setan pun bergumam“Aku tak akan meninggalkan pasangan suami istri ini sebelum aku berhasil memisahkan mereka berdua.” (HR Muslim 2813/67) Kata seorang guru, semakin tinggi, jalanan semakin menanjak. Anginnya semakin kencang. Jadi, makin sholeh, ujiannya semakin 'halus' dan 'cerdas', setan yang diturunkan mungkin tingkat jendral atau bahkan panglima.

Ujian keimanan tidak berhenti di ikrar syahadat. Ternyata ujian keimanan adalah untuk bebas dari kemelekatan terhadap apapun di dunia ini, dan menyandarkan segala rasa hanya karena suka atau bencinya Allah saja terhadap diri ini.

It's a long and challenging struggle. Struggle to surrender.

Tuesday, August 4, 2015

Tiada Sehelai Daun yang Jatuh tanpa Izin Allah

Tiada sehelai daun yang jatuh tanpa izin Allah. Begitu pula pertemuan dengan orang orang menyebalkan yang kita temui setiap hari:) 


Dalam hidup, tentu kita berhubungan dengan orang lain. Tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang memiliki pengalaman hidup yang identik, bahkan kembar identik sekalipun. Nature, dan nurture, tentu akan membentuk seseorang menjadi unik, unik penampakannya, dan unik jalan pikirannya. Inilah sebabnya, saya tidak pernah menemukan satu orang manusia pun yang benar benar mengerti saya 100%. Mengapa? Karena tidak ada satu manusia pun yang mengalami pengalaman identik dengan saya. Hal yang menyenangkan buat saya, bisa tidak menyenangkan buat orang lain. Bahkan kini dengan era sosial media, di mana saya mudah sekali mengakses bagaimana orang berpikir,yang namanya kebenaran universal pun bisa jadi berbeda menurut satu orang dan orang lain. Padahal namanya universal. Ehh ternyata bisa beda juga. Dan semua orang bisa ngerasa paling oke dalam mempercayai kebenaran universal.

Bertemu dan berhubungan dengan siapapun, semakin dekat, maka saya akan sampai pada pemikiran pemikiran yang tidak cocok dengan saya, yang membuat diri sok pinter saya berpikir "please, masak kaya gitu aja ngga kepikiran", atau "bisa bisanya dia berpikir sejahat itu, atau secetek itu?"  atau "ini gampang bangettt, masak begini aja ngga bisa". Nyatanya, orang lain juga berpikir seperti itu tentang saya.   Saya bisa saja menilai seseorang terlalu bodoh. Sementara orang lain ada yang menilai saya bodoh.

Dulu, hal ini membuat saya frustasi, karena saya nggak bertahan akrab dengan orang lain. Ada saja hal yang berbeda. Saya sering sekali menderita gara gara sikap orang lain. Padahal orang lain cuek dan santai santai aja. Apalagi di jalanan. Di jalanan banyak sekali manusia manusia menyebalkan luar biasa, yang menentukan mood dan produktivitas saya hari itu. Yang paling menyesakkan adalah ketika orang orang yang berhubungan dengan saya  hari itu melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Saya inget banget dulu pernah mengambil tempat duduk di kelas bimbel, lalu orang lain meminta tempat yang saya duduki (padahal di kelas biasanya duduknya bebas) dan saya bilang saya mau duduk di sini karena duluan. Lalu 2 orang teman  saya ini mendiamkan saya. Putus silaturahim. Jika ada kesempatan saya selalu menyambung dengan menyapa, tapi mereka cuek. Hal seperti ini saja bikin hidup saya menderita dan sering nangis.

Tapi seiring waktu saya mendapat nasehat untuk berusaha belajar mengasah bagaimana saya berpikir (masih on progress, daripada tidak sama sekali), memberi jeda waktu untuk memikirkan setiap hakikat kejadian: ini apa, kenapa terjadi, Allah mau kasih pesan apa, bagaimana respon yang kira kira Allah sukai. Betapa ruginya jika keburukan orang lain bisa menentukan diri kita. Bahkan ada pula kebaikan orang lain yang malah membuat kita terpuruk.  Kalau ambil contoh cerita Aa Gym, lihat orang lain senang aja kita bisa panas dingin. Ternyata itu bisa terjadi jika bukan Allah yang jadi sandaran bagi hati. Pernah dengar cerita orang yang jatuh bermaksiat karena dikecewakan orang lain? Muslimah buka jilbab karena kecewa pada suaminya? Itu adalah contoh ketika respon hidup kita ditentukan orang lain. Betapa ruginya. Namun selama nafas belum terputus, tetap ada harapan bagi siapapun untuk husnul khatimah, maka saya berharap saya tidak pernah mengundersetimate siapapun, manusia sejahil dan sehina apapun. Mereka bisa jadi mati dalam keadaan yang baik, lebih baik dari saya.

Semua orang punya latar belakangnya sendiri yang membentuk pola bagaimana mereka mersepon situasi. Semua orang (hopefully) memegang teori kebenaran mutlak (buat saya, Quran dan Sunnah) dan berusaha berproses menuju kesempurnaan. Dan prosesnya... bisa beda beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Ada yang menjadi lebih baik dengan nasehat, ada yang perlu diberi cobaan/musibah besar untuk bertransformasi. Yang akhir akhir ini saya pelajari, ada free will (usaha manusia), ada lingkungan, dan ada Allah yang menggenggam setiap qalbu manusia.  Manusia manusia menyebalkan yang kita jumpai di jalanan, bisa jadi pelajaran baik buat kita jika kita mau memikirkannya. Bisa jadi mereka sedang berproses dan kebetulan 'kelas'nya masih di bawah kita, bisa jadi Allah takdirkan mereka menjadi cobaan buat kita untuk naik kelas. Jika kita masih marah pake nafsu, ngambek, pada hakikatnya kita sedang tidak percaya pada Allah... tidak percaya skenario Allah. Kelas tertinggi... adalah saat qalbu kita (bukan sekedar akal dan mulut) berkata bahwa hanya Allah yang berarti. Only Allah matters.  Itu adalah kelas orang orang yang bisa menyikapi segala kepahitan dan buruknya perlakuan orang lain, dengan senyum dan syukur, dengan tetap berprasangka baik pada Allah. Semoga saya juga tidak lupa untuk mendoakan orang orang nyebelin yang kita temui, agar mereka dimudahkan prosesnya.

Semoga saya bisa ke sana...


Sunday, June 28, 2015

Tujuan Pernikahan (Dengan Lawan Jenis)

Judul tulisan ini, saya tambah dengan tanda dalam kurung 'Dengan Lawan Jenis', karena tulisan di bawah ini lahir karena merenungi pelegalan pernikahan sesama jenis di US.

Belum lama ini ada yang bertanya pada saya: Apa tujuan orang seperti kamu menikah?
Saya jawab: saya mendambakan pernikahan utamanya sebagai sarana menggenapi ibadah. Alasan tersebut ada cabangnya lagi, antara lain sarana bereproduksi (mempertahankan ras manusia di muka bumi), meninggalkan generasi yang baik (membangun peradaban) , dan termasuk juga pemenuhan kebutuhan biologis.
Ok lah masih ada tujuan tujuan egois seperti ingin ada yang ngurus di saat tua ingin ada yang memperhatikan, bahkan bisa jadi ada niat ingin dinafkahi, pokoknya ingin senang sendiri, puas sendiri. Pemenuhan kebutuhan biologis juga bisa masuk ke tujuan egois jika tidak seimbang dan tidak memenuhi fitrah. Namun pada perjalanannya, saya sadar bahwa tujuan tujuan egois ini harus dikendalikan, dan ditempatkan di bagian berjudul efek samping positif, bonus, hikmah, BUKAN tujuanm BUKAN pengendali. Kalau dijadikan tujuan, maka kita menjadi jiwa yang fakir. Jadi.. dalam rangka belajar menjadi manusia yang lebih baik, naik kelas dalam hal spiritual, mencapai higher consciousness or whatever you name it, saya belajar menempatkan dan memisahkan tujuan mulia pernikahan, dengan ego pribadi.
Tujuan adalah segala hal tentang memberi (jiwa yang kaya)
Ego adalah segala hal tentang meminta (jiwa yang fakir). 

Sadar banget diri ini jauh dari sempurna ya.. tapi saya tahu saya harus menuju ke sana.
Untuk mencapai tujuan sejati pernikahan itu, menjalankan fungsi pernikahan yang berorientasi Allah (atau peradaban manusia deh, bagi yang prinsip hidupnya tidak God oriented) hanya bisa terjadi jika ada perempuan dan laki laki, dengan segala karunia perbedaan fitrah pada keduanya, saling mengisi dan menjalani peran masing masing, sesuai kehendak Allah (atau hukum alam, kealamiahan, bagi yang tidak God oriented). Jika tujuan mulia pernikahan ini (yang hanya terjadi dengan adanya persatuan perempuan dan laki laki) tidak tercapai, maka sisanya... hanya pemenuhan hawa nafsu biologis, dan ego, yang penting AKU bahagia dan senang. Kemunduran spiritualitas, bukan hal yang perlu dibanggakan, dirayakan, atau dilanggengkan.
Saya sendiri punya peer besar dalam hal spiritualitas. Saya ingin berproses jadi lebih baik. Penting bagi saya untuk INGIN berproses, betapapun diri ini masih rendah kelasnya. Adapun peran orang lain yang sudah lebih tinggi kelasnya, adalah untuk membantu saya naik kelas, jika diperlukan, bukan malah melanggengkan dan memberi pengakuan terhadap status quo spiritualitas saya.
Penerimaan diri (acceptance) memang merupakan tahap awal pembelajaran, atau penyembuhan. Semoga saya bisa melanjutkan proses setelah ini, bukan jalan di tempat, atau mundur lagi ke penolakan (denial).
Semoga saya bisa terus berproses. Semoga orang orang itu bisa terus berproses walaupun banyak orang yang berusaha membuat mereka jalan di tempat.  
Wallahu a'lam. Kebenaran hanya milik Allah.

Friday, February 27, 2015

Yoga yogaan

Saya lagi  bersyukur banget ada gym dekat rumah. Terus terang saja, yang namanya olahraga sendiri di rumah itu sulitnya luar biasa. Kalaupun bisa, ada aja interupsinya, haha. Nah di gym tersebut, ada kelas kelas olahraga, dan saya paliiiing rajin ke kelas yoga yogaan.

Lho kenapa yoga yogaan? hihi..
Habis, kalau saya baca baca tentang yoga, ternyata ini bukan hanya sekedar olahraga 'sekuler', tapi memang punya filosofi mendalam tentang universal spirituality. Nah, kelas yoga yang di tempat olahraga saya itu bener bener olah fisik, kaga pernah ngomongin filosofi. Saya sih malah seneng seneng aja dan bersyukur dapat kelas yoga yogaan ;p. Awali dengan basmalah, niatkan untuk membentuk kekuatan, fleksibilitas, supaya bugar melakukan aktivitas sehari hari, dan tentunya lebih waras.

Saya mulai icip icip yoga sejak hamil, karena olahraga ibu hamil sering dikaitkan dengan yoga prenatal. Semakin banyak icip sejak kehamilan kedua, di mana saya mulai baca baca tentang filosofi yoga, dan kontroversi yang mengikutinya. Saya berusaha menyerap  dan mengolah sendiri info dari sana sini, sebisa mungkin supaya kesimpulan yang saya ambil tidak bias. Jadi, isu kontra yoga dikaitkan dengan keyakinan bahwa yoga ini seperti sebuah ajaran agama, dan sangat terbumbui oleh agama Hindu. Yahhh saya juga bisa lihat praktisi praktisinya memang menggunakan istilah istilah sansekerta, bahkan ada salah satu materi kurikulum teacher training yang menjelaskan tentang salah satu script Hindu. Tapi saya juga bisa lihat, bahwa pihak pihak yang keukeuh meng klaim yoga sebagai agama, adalah kalau bukan non yogi, ya praktisi newbie, yang sangat terindikasi memang belum belajar banyak. Okay, I still take that as a valuable input.

Di sisi lain, kalau saya baca atau nonton pernyataan dari para masternya sendiri, mereka menyebut bahwa yoga itu memang spiritual, tapi bukan relijius. Beda lho spiritual dan relijius. Spiritual adalah 'sekedar' paham kepercayaan akan adanya kekuatan yang lebih tinggi yang berkuasa atas alam semesta, dan bagaimana kita mengkoneksikan diri kita pada kekuatan ultimate itu. Adapun agama, ya kita semua tahu lah. Jadi, ya saya kategorikan yoga ini memang bukan 'olahraga sekuler' yang sekedar olahraga fisik aja, tapi yoga juga mengajarkan bagaimana setiap hari bertumbuh menjadi orang yang lebih baik, mengajarkan berbuat baik kepada orang lain, menghargai diri sendiri, bla bla bla yang sebetulnya saya nggak perlu belajar gituan dari yoga, karena Islam ku sudah punya konsep seperti itu.

Nah, karena spiritualisme dalam yoga sifatnya universal (versi manusia yaa), maka wajar saja nilai nilai yang diajarkannya seperti halnya pelajaran PPKn (sekarang apa sih namanya), lintas agama. Maka, menjadi wajar juga, nilai moralnya terbumbui dengan siapa yang membawanya. Karena universalitas (again, versi manusia) ini, kadang kadang mungkin ada hal hal yang tidak sesuai dengan nilai nilai spesifik dari agama tertentu, atau pilihan kepercayaan tertentu. Misalnya nih, saya punya keyakinan bahwa tidak pantas nama Allah digantikan dengan istilah 'semesta', walaupun ada yang menganggap semesta itu ya maksudnya Allah (maksudnya jangan kepatok sama tekstual aja). Tapi tetep buat saya itu pengkerdilan. Semesta itu ciptaan, Allah itu pencipta, don't mess with that. Tapi kalau ada yang tidak setuju ya saya ngga bermaksud mendebat di sini, urus aja urusan masing masing, hoho.

Kembali ke urusan bumbu membumbui. Saya sih sejauh ini memilih untuk mempersonalisasi olahraga ini dengan nilai yang saya anut. Yoga memang awalnya (terkenalnya) dikembangkan di India, jadi memang terwarnai Hindu. Bagaikan Columbus lebih terkenal sebagai penemu Amerika, padahal ada Amerigo Vespucci, hehe (Soalnya saya juga sempat baca kalau pahatan pose yoga ditemukan sebelum Hindu ada). Nah, masalahnya, kita jadi agak susah mau olahraga kalau mau bilang yoga dilarang karena dianggap Hindu. Susah banget, soalnya banyak hal sudah diklaim sama yoga sebagai posenya. Mau rebahan aja sudah melakukan pose yoga lho, corpse pose. Mau headstand, handstand, juga pose yoga. Jadi, semua tergantung niat ya? Kalau saya ikut kelas yoga yogaan tapi nggak niat disebut yogini, jadinya gimana ya? (lho kok malah nanya)

Despite more than a century of research, we still don’t know much about the earliest beginnings of Yoga. We do know, though, that it originated in India 5,000 or more years ago. Until recently, many Western scholars thought that Yoga originated much later, maybe around 500 B.C., which is the time of Gautama the Buddha, the illustrious founder of Buddhism. But then, in the early 1920s, archeologists surprised the world with the discovery of the so-called Indus civilization—a culture that we now know extended over an area of roughly 300,000 square miles (the size of Texas and Ohio combined). This was in fact the largest civilization in early antiquity. In the ruins of the big cities of Mohenjo Daro and Harappa, excavators found depictions engraved on soapstone seals that strongly resemble yogi-like figures. Many other finds show the amazing continuity between that civilization and later Hindu society and culture. (http://www.swamij.com/history-yoga.htm)

Nah, tapi terus terang saya punya masalah dengan yoga beneran di tempat umum (bukan yoga yogaan di kelas gym saya yang memang mengesampingkan spiritualitas). Justru karena spiritualisme yoga yang menjadi bagian dari yoga, maka aktivitas yoga di tempat umum rawan terwarnai spiritualisme yang universal (yang sebetulnya tidak semuanya universal menurut saya). 

Contohnya pada suatu hari saya ikut yoga gratis di taman. Pas mau gelar mat, saya agak agak bingung sepertinya ada guru tamu bule yang ngajakin peserta untuk humming, dan gerakannya agak beda dari biasanya. Saya dari jauh liatnya kayak ibadah bareng, seperti ritual suku apaa gitu. Tapi oke lah dont judge the book by its cover lah ya. Saya ikutan aja dulu lah sambil tetap stay alert. Tapi ternyata sepanjang acara, si guru  ngajakin nyanyiin mantra melulu. Peserta dibagi kertas kecil yang berisi mantra. Ada artinya sih dalam bahasa Inggris. Bisa aja sih orang ngeles artinya universal, tapi buat saya not at all. Sepanjang acara memang banyak yang memilih akhirnya diam saja dan mengamati. Nggak bisa dipaksakan juga, that did not feel right for some people. Beberapa orang yang lewat juga saya tangkap basah sedang memandang aneh. Tapi saya lihat masih banyak juga muslim yang mengikuti. Diantara yang mengikuti, kemungkinan ada 2 grup, yaitu golongan yang memang sudah paham atas pilihannya, dan golongan yang nggak ngeh dan ikut ikutan aja. Saya sih concern dengan yang terakhir. Hiks.


Sejauh ini, di sana sini masih ada pro kontra. Saya sendiri akhirnya memilih paham bahwa yoga adalah olahraga dengan filosofi universal (ehh mirip Gentle Birth yaa), yang 'sialnya' pada prakteknya terwarnai oleh keyakinan pengajarnya. Mirip sama karate. Filosofinya dalem, bukan sekedar olahraga tapi way of life. Tapi boleh boleh aja tho I skip the way of life part nya. Ngapain gitu lho, lha wong sudah punya way of life sendiri ;p Sepakat juga sama fatwa MUI tentang pengharaman yoga tapi kondisional, so bukan masalah yoganya (jadi jika syaratnya memenuhi maka diharamkan, yaitu yang mengandung mantra dan ibadah). Kalau ada yang tetap berpendapat kalau tidak begini begitu berarti tidak melakukan yoga, I dont mind not being called yogini.  I will still do corpse pose anyway, every night :D

Thursday, November 27, 2014

Perang Kebenaran dalam dunia Emak

Ok bismillah.  Smoga Allah menuntun lisanku.  Dalam dunia mencari ilmu (yg mana kita manusia wajib cari ilmu) ada kaidah yg saya percaya, yaitu mencari dan menyampaikan hal yg bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

Let’s say penyampaian ajaran islam melalui quran dan hadis.  Quran dan hadis kan awalnya tidak ditulis,  tapi disampaikan oleh satu orang ke yg lain,  di mana para perawi (penyampai)  ini memiliki kredibilitas yg baik dan syaratnya utk disebut sahih juga berat.  Penyampaian ajaran agama ternyata juga ada kaidah standarnya supaya bisa dianggap terpercaya.  Kalaupun setelah melalui kaidah tersebut ternyata ada perbedaan karena intelektualitas manusia,  para ulama yg ilmunya tinggi justru tidak saling ngatain ulama lain salah (ada kartunnya ttg ini tp lupa dimana liatnya,  ttg betapa yg doyan debat panas itu mahasiswa freshmen,  pdhl syeikh nya yg beda pendapat aja adem ayem).  

Nah dalam dunia keilmuan yg lain, sama.  Kita semua mencari kebenaran berpegang pada kaidah yg sama:  riset,  data,  pedoman statistik.  Semua pakar melalui proses itu sebelum menyampaikan kebenaran. Kalau tidak, saya tidak bisa bilang pakar. Praktisi mungkin lebih tepat (orang yang mempraktekkan).  Artinya,  kebenaran yg disampaikan punya dasar yg bisa dipertarungkan di sidang di hadapan banyak orang,  dgn obyektif,  bukan emosional. Kalo ternyata riset nya nanti berubah hasilnya,  ya gpp, itulah dinamika ilmu pengetahuan. Kita ngga bisa ngga percaya. Inilah yang membedakan orang yang berilmu dengan yang tidak. Lha kalau ngga percaya metoda ilmiah, kita mau klaim kebenaran dasarnya apa? Masak hasil terawangan. Jangan juga  percaya sama gelar ustad, tapi harus cek dia belajar di mana dan mendalami apa, sehingga kita ngga terjebak sama opini, bisa bedain opini dan informasi obyektif berdasarkan keilmuan.

Dalam dunia “holistik” (saya pakai tanda kutip yah soalnya menurut saya “holistik’ yang istilahnya dipakai banyak orang belum tentu benar benar holistik)  ada praktek praktek yg dipercaya turun temurun dan mungkin BELUM terbukti secara ilmiah.  Banyak juga praktek praktek pseudoscience, yaitu sesuatu yang kayaknya ilmiah, tapi sebetulnya belum ada riset yang bisa membuktikan. Ya jalani saja kalo memang dirasa memberi manfaat. Saya juga menjalani kok pseudoscience, sebut saja beberapa teknik self healing, atau tes sidik jari untuk anak. Tapi saya tau betul ini pseudoscience, jadi saya tidak akan berdebat sama akademisi yang mengatakan ini pseudoscience, lha memang benar kok.Testimoni, tidak lantas menyebabkan sesuatu menjadi kebenaran yang pantas disebar ke khalayak. Kalo iya, kita gak usah ngamuk sama nenek yang ngasih pisang ke bayi 2 bulan. Lha kan bisa aja si nenek testimoni : "dulu kamu bayi dikasih pisang juga gak apa apa kok, sekarang gedenya jadi sarjana juga" 

Sekedar info saja, what so called ‘dunia medis’ juga kadang kadang melakukan hal hal yang belum terbukti manfaatnya secara keilmuan, kalo yang saya tahu sih misalnya latar belakang SOP penanganan ibu melahirkan di RS, atau pemberian obat yang tidak rasional ( istilah tidak rasional ini karena gak ada dasar riset klinisnya, tapi prinsip feeling dan pencegahan saja tanpa menggali risikonya).

So, dari pengamatan saya, dunia “medis” dan “holistik”, keduanya ada pihak melakukan atau mempercayai hal hal yang belum terbukti dalam koridor ilmiah. Nah ketika masing masing pihak keukeuh bahwa tindakannya adalah benar, sebenarnya itu mencederai bidang masing masing. Misalnya, (1) Praktek dokter yang tidak RUM, menurutku mencederai dunia medis dan ilmu pengetahuan    (2) Praktek pengobatan “holistik” yang ngasih herbal tanpa ada riset yang memback up nya, lalu diblow up dalam kemasan testimoni yang gak sesuai dengan pedoman statistik, itu juga mencederai dunia kesehatan “holistik”. Padahal herbal kalau diteliti, pasti potensinya luar biasa. Sayang banget kan ternoda dan jadi terhambat perkembangannya gara gara praktisi herbal sendiri. Ini yang membuat kalangan medis memusuhi "holistik", begitu juga sebaliknya. Masing masing sebenarnya memusuhi sisi gelap yang lain, tanpa peduli sisi terangnya.

Masing masing penodaan ini, justru menjadi bumerang terhadap terciptanya kondisi HOLISTIK yang sebenarnya. Holistik yang sebenarnya menurut persepsi saya, adalah seperti melihat gajah dari jarak yang cukup untuk bisa menyimpulkan bentuk gajah, bukan seperti orang buta yang satu pegang belalai yang satu pegang telinga, lalu  masing masing ngotot tentang bentuk gajah.

So, saya ga percaya kalau medis dan “holistik” itu bertentangan.

Dalam kehidupan nyata saya, saya juga menjalani dan mempercayai prinsip holistik, dan menolak mekanisasi tubuh manusia yang dianut dunia medis yang katanya dimulai sejak Revolusi Industri. Tapi ketika menyampaikan sesuatu ke orang lain, saya harus punya dasar, sebagaimana mendakwahkan isi Quran dan hadis juga harus jelas ayat berapa, konteks asbabun nuzulnya bagaimana, untuk hadis tingkatan hadisnya gimana (untuk menjadi status hadis shahih itu perawinya nggak main main syaratnya berat). Jadi ketika saya mempromosikan sesuatu yang belum ketemu ‘dasar’nya, maka saya wajib menyertakan disclaimer. Misalnya, keterangan bahwa hal ini memiliki risiko a, b, c, atau saya sekedar menyebut saja “ eh ini caraku lho, belum tentu benar”. Jadi dengan ini kita juga ngajak orang lain untuk bertanggungjawab pada pilihannya sendiri, sadar benefit, sadar risiko. Masalahnya kadang kadang orang lain asal ngikut aja sih hhehee.

Hal ini juga yang menyebabkan saya mengerem atau ‘kontrol diri’ dalam mempromosikan popok kain. Kalau boleh ngaku ngaku, saya termasuk jajaran orang pertama atau pionir promosi popok kain di Indonesia (tentunya bersama beberapa rekan yang lain, terutama di milis popok kain) di tahun 2008. Saat itu Enphilia termasuk brand yang awal awal muncul sebagai alternatif produk impor yang selain mahal juga berantai karbon lebih panjang.(check out www.rumahpopok.com atau www.facebook.com/enphilia hehehe ngiklan deh) . Dulu saya memulainya dengan promosi cinta lingkungan, karena memang semuanya dimulai dari keinginan reduce dan reuse. Gara gara itu, cukup banyak orang mengaku menjadikan saya panutan karena idealisme cinta lingkungan, kemungkinan tanpa paham sisi lain dari hal yang sedang saya promosikan. Menurut saya sih itu gawat, kalo mereka tahu saya masih nyetok pospak, bisa pada muntah, hehe. Tapi sekarang, yang sibuk kami lakukan sekarang adalah mengerem orang lain untuk mempromosikan popok kain dengan klaim cinta lingkungan secara berlebihan. “generasi penerus” di belakang kami memang mengikuti jejak kami mempromosikan popok kain, tapi kok jadi seolah olah “agama baru” ya, yang menghakimi  kaum yang “tidak cinta lingkungan”, dan mengklaim fakta fakta yang mereka jabarkan adalah benar, padahal risetnya juga ngga bisa ditelusuri. Akibatnya apa coba? Saya ngeliat beberapa teman justru terindikasi skeptis luar biasa sama popok kain (isu yang sama ditemukan pada promosi Gentle Birth). Mungkin akibat  mereka merasa dihakimi? Kalo mau cari contoh lain sih banyak ya, di bawah bendera “MOM’s WAR”.

Apa yang sekarang saya perjuangkan jadi lucu sebenernya. Saya ini pemakai popok kain yang merasakan benefit darinya, pedagang popok yang pingin dagangan laku, tapi yang saya lakukan adalah mengerem orang dari promosi kebanyakan. Saya juga ikutan memperjuangkan gentle birth, tapi justru sibuk mau ngasitau orang bahwa intervensi medis is not that bad, jangan ngotot normal kalau jelas berisiko tnggi.
.

I keep on selling. But, I want people to know well what they are buying. 
Let's collecting puzzles of truth.
Menuju Holistik yang sesunggunya (tanpa tanda kutip)


Segala kebenaran datangnya dari Allah

Kalau ada yang salah, salah salah kata, itu sayanya aja yang salah. Mohon maaf yaaa

Monday, November 3, 2014

Rara Berenang

Sudah sejak lama saya terkesan melihat video bayi berenang. Yup. Bayi. usianya mungkin masih 4 bulan hingga di bawah 1 tahun. Ada pula video mengenai batita yang kecebur kolam renang, tapi lalu dia berhasil menyelamatkan diri, dengan kemampuannya berenang.
Dalam beberapa artikel saya juga menemukan refleks bawaan bayi terkait berenang, yaitu refleks menyelam (refleks menahan nafas di air), dan bergerak menyerupai berenang. Selama hamil dan mempersiapkan kelahiran Rara, saya juga sering menonton video waterbirth, dan memang benar sih, bayi waterbirth saat baru dilahirkan biasanya dibiarkan selama beberapa detik dalam air dan mereka bergerak gerak seperti berenang, dan tidak tersedak atau kemasukan air, karena menahan nafas.
Tapi jangan disalahartikan bahwa bayi punya kemampuan berenang yaa. Refleks seperti berenang, dan bisa berenang, itu hal yang berbeda. Bayi baru lahir TIDAK memiliki kemampuan berenang. Jadi, video batita yang bisa menyelamatkan diri itu, saya duga kuat adalah batita yang sudah dilatih.
Saya tertarik juga dengan melatih bayi berenang, minimal untuk pertahanan diri (survival), tapi ide itu cepat terlupakan karena memang belum menemukan tempat belajar berenang untuk batita, dan agak mikir juga, berlebihan nggak yaa  kecil kecil belajar berenang. Toh nanti kalau sudah umur 5 tahun bakal lebih mudah diajar, begitu salah satu bahan pertimbangan saya. Tapi lalu ide itu kembali muncul saat mendaftarkan Raul ke Anak Air Swim School, dan melihat foto bayi gede banget dipajang sedang tersenyum di bawah air. Ternyata anak air menerima anak minimal usia 6 bulan. Memang sih, walaupun AAP (American Academy of Pedicatrics) menyarankan agar belajar renang sebaiknya minimum usia 1 tahun, tapi American Redcross punya pandangan yang berbeda. Lagian, Rara juga sudah menginjak 2 tahun, jadi sekalian aja berdua belajar berenang. Waktu itu alasan saya akhirnya memasukkan Rara ke kelas berenang selain untuk belajar survival, juga merasa bahwa berenang adalah media untuk optimalisasi stimulasi motorik. Namun, ternyata setelah baca baca artikel sana sini, termasuk beberapa abstrak jurnal ilmiah, ternyata berenang bagi bayi dan batita juga memiliki manfaat yang lebih dari itu, antara lain baik untuk kesehatan jantung dan meningkatkan kekuatan paru paru, meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas, meningkatkan stamina, keseimbangan dan postur tubuh. Beberapa artikel lain juga menyebut bahwa belajar berenang bisa meningkatkan IQ menurut penelitian (yang ditulis beberapa artikel). Tapi untuk urusan IQ ini saya belum nemu sumber ilmiahnya, hanya baca klaim dari pihak pihak yang menawarkan kelas renang, atau dari artikel artikel populer yang sulit melacak sumber referensinya. 
CAM00405
Karena alasan kepraktisan dan lokasi, aktivitas belajar berenang anak anak dipindah ke Rockstar Gym. Ternyata Rockstar Gym menggunakan standar metoda yang sama dengan Anak Air, yaitu American Red Cross. Bedanya, di Anak Air semua anak belajar privat walaupun durasi hanya sebentar, sedangkan di Rockstar Gym belajarnya dalam grup, kecuali memang mau privat.
Aktivitas Rara dalam kelasnya, harus dilakukan dengan pendamping (Kelas Mom & Me). Untuk kelas pemula, tujuannya adalah agar anak terbiasa dalam air, tidak takut, dan merasa nyaman. Maka, aktivitasnya didominasi bernyanyi dan bermain. Jadi, kelas ini banyak menggunakan bola bola plastik, dan mainan yang bisa diambil. Untuk pemula seperti Rara, saya  merasa Rara lebih cocok aktivitas dalam grup daripada privat. Anak sekecil Rara, rentang fokusnya (attention span) sangat singkat, jadi kalau belajar dalam kelas privat cepet bete nya dan tidak ada obyek pengalihan. Adapun dalam kelas grup, kalau Rara lagi merasa capek, ngadat, apapun sebabnya, maka  bisa istirahat sebentar sambil mengamati teman temannya. Nah, dari mengamati saja ini kan sebetulnya proses belajar juga. Istirahat bisa dipakai untuk mengamati sambil membujuk. Nah kalau mood sudah baikan, baru ikutan instruksi lagi.
Pembelajaran berenang yang serius dalam kelas pemula ini contohnya menggerakkan kaki (gaya bebas), telentang, dan memasukkan semua bagian kepala ke dalam air. Semua pembelajaran itu dialakukan dengan bermain. Misalnya anak disuruh mengejar bola dan mainan yang disebar di kolam, atau memindahkan dari pos 1 ke pos lainnya. Nah main main ini melibatkan gerakan kaki. Belajar telentang dilakukan dengan berperan tidur dan menyanyikan lullaby. Nah yang menurut saya paling keren dan menegangkan dari kelas ini adalah memasukkan kepala ke dalam air. Proses ini juga dilakukan dengan bermain, misalnya menggunakan hoola hoop yang setengahnya masuk ke air, lalu si anak dibantu untuk melewati hoola hoop itu dengan menyelam kira kira 1 hingga 2 detik. Proses ini ngga boleh dilakukan kalau anaknya kelihatan ngga siap (tandanya nangis sampai teriak teriak dan badannya meronta pengen kabur). Makanya untuk sampai ke tahap ini, kebanyakan anak perlu mengikuti kelas beberapa kali dan bisa juga lama prosesnya. Kalau anaknya nangis dan menolak dan kita tetap maksa, malah bisa jadi anak mereka berenang adalah hal yang tidak menyenangkan. Bisa trauma deh sama air. Nah, kalau sudah melewati ini, jadi takjub dehh sama kemampuan anak, hehe.
CAM00381
Oh iya saya juga mendapati bahwa untuk Rara, alat bantu pelampung justru menghalangi proses belajarnya. Pernah saya bawa pelampung untuk main main. Eh malah karena tergantung dengan pelampung itu, Rara menolak untuk meraih tangan saya saat belajar meluncur, tapi malah keukeuh pegangan sama pelampung, dan akibatnya postur badannya juga jadi kacau. Saat tidak bawa pelampung, Rara jadi  mau tidak mau mengandalkan diri sendiri (dan tangan saya untuk pegangan). Tangan saya lebih bermanfaat untuk menjaga posturnya tetap baik dan membantunya bergerak kesana kemari.
Kunci dari kecepatan belajar batita adalah mood alias suasana hati. Beberapa saat yang lalu  mood Rara lagi baik banget dan dia sangat senang berada di kolam. Dalam 1 kali berenang, saya berhasil membujuk Rara untuk meluncur tanpa support dan memasukkan kepalanya ke air dengan kemauannya sendiri.  Oke saya kasih sedikit reward sih untuk ini, yaitu chewable vitamin, dan pujian habis habisan atas keinginannya belajar, hihi. Rara suka banget sama gummy candy itu. Saya memang sekarang sering menjadikan itu reward buat apapun. Nah saya agak kaget juga dengan kemampuan itu. Ternyata kalau sedang senang, gampang banget ngajarinnya ;p. Ternyata, begitu dia tahu bisa melakukan itu, eeh malah ketagihan. Sepertinya Rara baru merasakan enaknya sensasi meluncur di air. Jadi hari itu Rara mencoba dan mencoba terus kemampuan barunya :D


Bagi yang merasa ribet masukin anak ke les lesan, bisa lho melakukan sendiri proses pengenalan aktivitas berenang. Catet yaa. Pengenalan. Aktivitas yang bisa dilakukan sendiri antara lain bermain lempar lempar dan kejar bola plastik, ciprat ciprat air dengan tangan atau gerakan kaki, mengalirkan air di kepala dan muka anak (bisa dengan tangan atau ember mini yang dibolongi), mencontohkan anak untuk meniup dalam air (mulutnya masuk air tapi hidungnya ngga apa apa di atas air, nanti lama lama bisa diminta untuk memasukkan hidungnya juga), dan tiduran dengan posisi badan telentang lurus dengan disokong.

Last but not least, banyak yang perlu diketahui yaa sebelum mengajarkan batita berenang. Selain banyak manfaatnya, ada juga lho batasan batasannya, misalnya adanya risiko tenggelam, sensitivitas klorin, risiko hipotermia, hingga risiko terbakar sinar matahari. Yaaa, I believe there are always advantages and disadvantages for everything, jadi yaa ditimbang timbang aja sebelum memutuskan sesuatu. Untuk menghindari risiko tersebut untuk Rara sih, penjagaan full time tentu hal yang mutlak. Selain itu saya biasanya merasa cukup mengajarkan berenang 30 menit ditambah main main sebentar selama 15 menit. Memang sih sesekali saya kesulitan untuk mengajak Rara untuk mengakhiri aktivitas main airnya, yang akhirnya selesainya molor dari waktu yang diniatkan dan pernah juga sampai kesiangan jadi panas sekali udaranya. Semoga pengalaman itu bisa jadi bahan bikin strategi di sesi selanjutnya deh :)

Referensi:
(6) http://www.livestrong.com/article/148394-what-are-the-benefits-of-swimming-for-kids/