Wednesday, June 25, 2014

The Little Observer

Raul ini observer sejati. Dia mengamati, mendengarkan, kadang keliatan kayak orang bengong ga fokus. Di waktu lain, dia menjadi menyebalkan (krn emaknya lagi capek) dengan permintaannya bikin ini itu, yang aneh aneh deh (menurut emak, yang lagi capek).

Contohnya hari ini emak baru pulang keluar rumah seharian nganterin doi olahraga plus nganter paket ke tempat yang agak jauh, lalu bocah menyambut emak yang kecapean di depan pagar, langsung nodong emaknya pake obeng entah dapat dari mana, dan botol air mineral kosong. Btw, sejak pagi emak sebenernya ngerasa ga enak badan karena kecapean outing ke mal sendirian bawa 2 bocah yang kepentingannya beda beda (Kalo mba Astri Nugraha baca ini pasti komennya: Dasar manja!! Baru 2 doang anaknya. Aahahha). Emak yang pulang berharap bisa rebahan ditodong minta nenen juga  sama yang kecil, lalu yang gede minta agar obengnya dipanasin untuk bolongin botol aqua.

Oh no... percobaan tekanan air again? Pleeease kita sudah melakukannya berulang kali hik hik. Tinggalkan akuuuuuuu... begitu isi hatiku, hihi. Sementara yang kecil mendapatkan yang dia mau.

Akhirnya setelah si kecil selesai nenen, dengan gontai emak penuhi keinginan bocah. Obeng itu emak panaskan di kompor, lalu emak lubangi salah satu sisi botol. Kali ini bocah minta bolongannya sejajar, bukan bertingkat seperti percobaan tekanan air. Oke jadi 2 lubang sejajar. Dengan muka sumringah bocah menerima botol itu lalu memasukkan sumpit di satu lubang dan tembus ke lubang lainnya.

I didnt really care what he did. Maafkan dakuu, I was suuper exhausted dan nge hang! Bantal mana bantaal.

Setelah bocah kecil selesai nenen tahap 2, mereka berdua asik entah ngapain di kamar mandi. Oke.. menurut rumus parenting, kalau ada keheningan dalam waktu lama, something not good (according to emak) is happening. Tapi emak ga peduli ah, mau basah basah sono lah, pokoknya emak leyeh leyeh dulu. Sampai kemudian emak agak takut si kecil kepeleset. Akhirnya emak ngintip.

...

...

...

Bocah mengisi  botol tersebut dan saat penuh, bocah itu berharap botolnya terguling. Tapi karena tidak terguling, dia gulingkan sendiri. Ya ampuuuun, bocah sedang mendemonstrasikan ember tumpah seperti yang ada di waterpark. Hari ini memang dia bengong lama sekali melihat ember raksasa di waterpark. Duh duh... emak jadi terharu dan merasa kasian karena emak cuekin bocah dari tadi. Ternyata dia mengamati bagaimana cara kerja ember tumpah itu.

The little observer. Bocah ini sangat antusias kalau ditunjukkan sesuatu atau diceritakan tentang suatu benda. Pada saat yang lain, dia suka merekonstruksi apa yang dia dapatkan dalam bentuk gambar atau benda rakitan (bisa dari lego, gigo, atau bahan bekas seperti botol tadi).

Contoh, bocah membuat susunan sendiri terjadinya siang dan malam berbekal globe dan lampu baca, membuat tank, space shuttle (beserta roket dan tangki bahan bakarnya karena memang itulah yang diperlukan untuk peluncuran space shuttle), helikopter, pesawat, lampu lalu lintas, kapal (yang dikasih nama sesuai dongengnya: bismarck, ms hood, yang emak pun gak tau apa apa tentang itu haha). Bocah pun hafal bangett warna warna planet, satelit, dan hafal kalo planet Uranus itu cincinnya tegak, tertuang di gambar gambarnya.  Ya Allaaaah, bocah ini cerdas sekaliii, alhamdulillaah..

Hmmm kira kira bocah model begini cocoknya jadi apa ya?

Monday, June 23, 2014

Jaga Dirimu Baik Baik Wahai Para Ayah

 

Familiar dengan berita kasus pelecehan seksual, seks bebas dini (atau tidak dini), sodomi, pedofilia, sampe perkosaan terhadap ayam??

Berita berita ‘aneh’ seperti itu semakin banyak berseliweran. Siapa yang tidak setuju dengan saya bahwa ini bencana??

Sudah lah tidak perlu saya jelaskan, kalau belum baca, please baca ini dulu

http://islamisfun.wordpress.com/2014/02/16/karena-bu-risma/

Tidak mau anak anakmu menjadi generasi rusak, rusak moralnya, rusak otaknya, akibat pornografi dan hal hal seperti itu? Terutama para ayah, saya berpesan... please... NGACA!

Pada suatu hari saya pernah sedang kumpul kumpul makan malam dengan keluarga besar. Salah satu ponakan jauh saya pinjam hp ayahnya, swipe swipe swipe... dan kemudian cekikikan. Ayahnya lalu tiba tiba menampilkan wajah kaget dan panik, lalu direbutlah hp tersebut. Saya sendiri tidak mengkroscek apa yang ada dalam hpnya, tapi saya tahu itu konten porno atau yang sejenisnya.  Saya juga tidak mikir bahwa ayahnya sengaja menaruh konten porno di hpnya, karena di hp saya sendiri saya sering heran tiba tiba ada video yang tersimpan di folder tapi tidak pernah ingat kapan mengunduhnya. Untungnya yang secara tidak sengaja tersimpan di hp saya adalah video tentang Al quran.

Saya juga sempat terlibat dalam grup whatsapp yang isinya banyak laki lakinya. Saya paham banget jaman mahasiswa dulu, anak laki laki memang kalau bicara banyak sekali konten sex joke, tapi ketika kini kami semua sudah jadi orang tua, saya merasa sangat terganggu mereka masih memelihara kebiasaan itu, apalagi dilakukannya di grup whatsapp, di mana mereka mengetikkan kata kata itu di rumah. Kalaupun kata kata itu diketikkan di tempat kerja, toh HP mereka juga akan sampai ke rumah. Para ayah ini, membawa kata kata jorok bermuatan porno ke rumah mereka sendiri, tempat di mana mereka seharusnya membangun generasi sehat. Di lingkungan saya, beberapa perempuan mengeluhkan hal yang serupa, betapa mudahnya kata kata dan materi jorok dilontarkan.

Pada suatu ketika saya mengkroscek dugaan saya ini ke grup whatsapp seorang laki laki yang sudah mengizinkan saya melihat isi grupnya. Saya masuk ke grup yang isinya laki laki semua, dan saya tidak hanya mendapati kata kata jorok khas lelaki, tapi gambar juga ada hard porn dan aneka macam gambar di mana perempuan hanya menjadi obyek mainan, obyek ketawaan.

Saya tahu, banyak teman teman beliau yang sudah berkeluarga, bahkan sudah punya anak. Asal tahu saja, walaupun gambar yang dibagikan itu bukan foto saya, menurut saya penyebaran gambar gambar tersebut adalah wujud pelecehan terhadap perempuan. Anda jadikan perempuan sebagai mainan, buat bahan cekikikan. Silakan ngeles kalau ‘ceweknya yang mau digituin’, tapi itu bukan cara seorang muslim berpikir. Perempuan itu bertugas menutup aurat dan menjaga pandangan. Laki laki juga punya tugas yang sama lho di dalam Quran. Kebayang ngga kalau ternyata foto yang Anda bagikan itu adalah foto lama seseorang yang kini sudah tobat? Tapi kalau belum tobatpun, tetap saja itu bukan hal yang benar untuk dilakukan.  Wahai ayah, wahai bunda, please hentikan juga menyalahkan pihak lain atas terjadinya kekerasan seksual. Satu pihak bilang itu akibat perempuan yang tidak jaga auratnya. Pihak lain berang dan mengatakan itu otak laki lakinya aja yang ngeres dan rusak, jadi bukan salah perempuan. Please dong kerja sama: Laki laki tundukkan pandangan, perempuan tutuplah aurat. Oke kalau belum mau plek ngikutin Al Quran, paling tidak gunakan definisi ‘aurat’ yang Anda anggap universal.

Nah sekarang bagaimana mungkin mau ngimpi punya anak soleh solehah dan istri yang solehah menjaga diri dan kehormatannya, kalau kelakuan suami adalah nyebar nyebarin pornografi. Anda mau anak Anda terhindar dari pornografi dan terhindar dari kerusakan otak akibat pornografi, tapi Anda ga bisa jaga mulut dan jari Anda menuliskan hal hal jorok dan menyebarkan gambar tidak senonoh. Kapan mimpi Anda mau kesampean wahai para ayah?

Saat bekerja di kantor, saya sendiri pernah mendapatkan pelecehan verbal dari rekan kantor, hanya karena yang bersangkutan mulutnya memang sudah terbiasa menyangkutkan segala sesuatu dengan. Oke beliau memang tidak sengaja dan minta maaf. Saking terbiasanya sampai melecehkan saja bisa dilakukan tanpa sengaja. Terdengar familiar? Ya. Sayangnya banyak laki laki masih bersikap seperti ini dan menganggap ini hal biasa. Tidak jarang orang orang ini juga kelihatan soleh dan agamis. This gotta stop. Ok? Kalau memang otak Anda sudah ada kerusakan walaupun sedikit akibat pornografi, sehingga dikit dikit mikir ngeres, carilah pertolongan.  Jangan teruskan kerusakannya ke anak Anda. Malu ketemu psikolog? Sekarang sudah banyak teknik self healing.

Lebay?

Tolong baca lagi baik baik

http://islamisfun.wordpress.com/2014/02/16/karena-bu-risma/

Anda adalah imam keluarga. Jaga dirimu baik baik wahai para ayah, dan calon ayah, dan  laki laki manapun yang mimpi punya generasi masa depan yang sehat.

 

Disclaimer: Ini bukan curhatan tentang suami yaah, karena alhamdulillah beliau sangat memuliakan perempuan

Wednesday, March 5, 2014

Raul dan An Naba

Dalam suatu perjalanan duet (bunda & raul)

Bunda: Raul, yukkk kita hafalan...

Raul: Yukk..

Bunda: Surat An Naba yaa..

Raul: Yaa

Sebetulnya si bunda belum hafal surat An Naba, sudah bertahun tahun ngafalin ga hafal hafal, haha. (otak orang tua)

Dan setau si bunda, hafalan Raul tepat sejauh hafalan bunda, kira kira setengah surat.

Bunda dan Raul (bersama sama):

Bismillâhir Rahmân ir'Rahîm

1- `Amma Yatasa'aluna

2- `Ani An-Naba'i Al-`Ažimi .

3- Al-Ladhi Hum Fihi Mukhtalifuna .

4- Kalla Saya`lamuna .

5- Thumma Kalla Saya`lamuna .

6- 'Alam Naj`ali Al-'Arda Mihadaan .

7- Wa Al-Jibala 'Awtadaan .

8- Wa Khalaqnakum 'Azwajaan .

9- Wa Ja`alna Nawmakum Subataan .

10- Wa Ja`alna Al-Layla Libasaan .

11- Wa Ja`alna An-Nahara Ma`ashaan .

12- Wa Banayna Fawqakum Sab`aan Shidadaan .

13- Wa Ja`alna Sirajaan Wa Hhajaan .

14- Wa 'Anzalna Mina Al-Mu`sirati Ma'an Thajjajaan .

15- Linukhrija Bihi Habbaan Wa Nabataan .

16- Wa Jannatin 'Alfafaan .

17- 'Inna Yawma Al-Fasli Kana Miqataan .

18- Yawma Yunfakhu Fi As-Suri Fata'tuna 'Afwajaan .

19- Wa Futihati As-Sama'u Fakanat 'Abwabaan .

20- Wa Suyyirati Al-Jibalu Fakanat Sarabaan .

21- 'Inna Jahannama Kanat Mirsadaan .

22- Lilttaghina Ma'abaan .

23- Labithina Fiha 'Ahqabaan .

24- La Yadhuquna Fiha Bardaan Wa La Sharabaan .

25. ................................

Sudah. Setelahnya si bunda belum hafal.

Tapi..... samar samar dengan suara lirih

Raul:

25- 'Illa Hamimaan Wa Ghassaqaan.

26- Jaza'an Wifaqaan .

27- 'Innahum Kanu La Yarjuna Hisabaan .

28- Wa Kadhdhabu Bi'ayatina Kidhdhabaan .

29- Wa Kulla Shay'in 'Ahsaynahu Kitabaan .

30- Fadhuqu Falan Nazidakum 'Illa `Adhabaan.

Masyaa Allah. Si bunda terbengong bengong. Bunda ga begitu menyimak Raul melantunkan sampai ayat yang mana, karena memang si bunda ngga hafal. Memang sih Raul belum menyelesaikan sampai akhir karena di tengah tengah dia bilang:  ‘bantuin dong bunda, trus gimana lagi?’

He memorizes almost all the surah, seolah olah ‘out of the blue. Ngga diajarin. Di sekolahnya hafalannya juga belum sampai situ. Tapi si bunda ingat sekali saat Raul bayi dan batita, beliau ini tukang bangun subuh (yah, jam 4-5 sudah bangun dan minta perhatian si bunda yang masih kriyep kriyep). Akhirnya si bunda ngedorong Raul pakai stroller keliling komplek di pagi buta dan langit yang masih gelap, muter 3-4 lap, dengan HP si bunda ditaruh di bagian payung stroller dan murottal juz 30 on. Karena begitu play yang terdengar pertama adalah An Naba, jadilah dalam sepanjang sejarah mendengar murottal, An Naba lah yang paling sering didengar.

Alhamdulillah, smoga jd anak soleh ya, nak. Jd hafidz (pasang mimpi dulu yaa, walo gak kebayang caranya berhubung emaknya paspasan). 20140220_181906

Sayangnya, kebiasaan itu belum dimulai lagi sejak Rara lahir, karena kondisi komplek rumahnya beda. Baiklahh, mari kita semangat lagi untuk mengkondisikan!

Sunday, February 2, 2014

Love for Allah

Pada suatu hari, Bunda bercakap cakap dengan Raul (5 tahun)

Bunda: Raul, Raul sayang sama Bunda?

Raul: Sayang...

Bunda: Sayang sama Adek Rara?

Raul: Sayang...

Bunda: Sayang sama Ayah?

Raul: Sayang...

Bunda: Sayang sama Allah?

Raul: Sayang. Raul sayang sama Allah

Bunda: Kalo ke Bunda sama ke Allah, lebih sayang ke yang mana?

Raul: Lebih sayang Allah...

Alhamdulillah

Friday, January 31, 2014

My Hijab Journey

Ini tahun 2014. Jadi, saya sudah berhijab konsisten selama kurang lebih 16 tahun. Alhamdulillah, sudah lama juga ya, dari 1998. Saya memutuskan untuk konsisten memakai, setelah sebelumnya Cuma kadang kadang pakai, yaitu sejak sekitar tahun 1992.


Yup. 1992. Angka yang jadul banget yah. Itu saat saya kelas 4 SD. Mungkin 1993 ya (kelas 5), saya tidak terlalu ingat pastinya.


Ada keluarga yang pakai jilbab? No


Bapak kyai? No


Ibu ustadzah? No


Sekolah di pesantren? No. Saya sekolah di sekolah umum yang multikultur multiagama. Dalam 1 kelas, saya punya teman teman Sasak, Bali, Jawa, Sunda, Bugis, Islam, Kristen, Katolik, Hindu. They are all great people. Love them


Saat saya kelas 4 SD, saya tinggal di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Saya tidak mengenal 1 orang pun yang sehari harinya pakai jilbab rapat. Jilbab sih sudah dikenal, buat dipakai kalau lebaran dan hari raya lain, atau waktu kasidahan. Tapi untuk sehari hari? Hmm agak agak lupa sih ya. Rasanya nggak ada. Mungkin ada sih anak IAIN, tapi saya tidak, terlalu ingat. Saya Cuma ingat papa mama saya agak agak melihat saya aneh. Tapi mereka ngga melarang sih, karena mereka orang tua yang sangat demokratis.


Jadi, 2 kali seminggu, datang guru ngaji. Awalnta guru ngaji saya adalah pegawai papa di kantor. Saya ingat saya memanggil beliau Pak Pah ( ternyata namanya Fachruddin), orang Sasak asli. Beliau yang mengenalkan saya dengan tajwid. Lumayan lah, karena bimbingan beliau saya juara 1 lomba tajwid di sekolah. Not bad , hei? Hihi. Pak Pah ini fokus di mengaji, membaca AlQuran. Membaca saja. Lalu entah apa sebabnya agak agak ngga ingat, guru ngaji diganti oleh seorang mahasiswa IAIN (Ya Allah, maafkan aku pak, aku melupakan namamu). Rupanya ilmu beliau tidak hanya di membaca saja, tapi kami juga sering mengkaji.


Dari pak mahasiswa IAIN ini lah saya dikenalkan dengan ayat hijab. Begitu jelas. Perintah Allah. Batasannya juga jelas. Bukan tipe tipe ayat yang butuh mikir apaa yaa ini maknanya. Ayat ini membuat saya mikir berhari hari (atau berbulan bulan ya). Ya, saya masih kelas 4 atau 5, saya lupa. Entah kenapa saya tidak mempertanyakan kenapa orang orang di sekitar saya tidak berhijab. Mama saya saja tidak tahu tentang ayat itu. Saya hanya fokus pada perintah Allah itu. Tidak lama kemudian saya sering  ke mana mana pakai kerudung, dengan keterbatasan pakaian. Dulu fashion ngga seperti sekarang. Nyari padanan baju panjang aja susahh sekali. Saya ingat foto foto saya berjilbab di saat SD itu old-fashioned banget, bahkan untuk penilaian di jaman itu. Saya sendiri tidak pernah merasa PD dengan fashionnya. Saya sering merasa baju saya tabrak lari dan ngga ada bagus bagusnya. Saya bahkan ngerasa seperti ‘tante tante’. Tapi dari hati saya yang terdalam, saya lebih suka berpakaian seperti itu daripada tidak pakai kerudung rapat. Saat itu mama saya membebaskan saja. Papa saya malah berpikir ini Cuma emosi sesaat, haha.


Boleh saya ulang bahwa saat itu saya tidak mengenal siapapun yang berhijab rapat sehari hari? Saat itu belum ada dakwah intensif seperti sekarang. Tidak ada panggilan ana, anta, anti, ikhwan, akhwat, ucapan barakallah, jazakillah, dll yang sering terdengar sekarang. Tidak pernah pula sedikitpun pernah mendengar istilah salafi atau wahabi, yang konon kabarnya di masa kini ‘dipersalahkan’ sebagai penyebab terjadinya apa yang segolongan orang sebut arabisasi ini (jilbab dianggap budaya arab yah menurut pak Quraish Shihab? hihi. Hadeehh saya punya opini khusus soal yang satu ini, tp kapan kapan aja ah bahasnya). Saya hanya ditunjuki Al Quran. Itu saja. Jelas jelas perintahnya ditujukan ke wanita muslim, bukan orang Arab. Al Quran memang dari Arab. Yes. Kalo memang mengikuti Quran disebut arabisasi, well, ya sudahlah, pakai saja istilah itu. Let say im a victim of arabisasi. Hehehehe.. I’m an aware victim. So no problem. 


Masuk SMP, saya menunjukkan keseriusan dengan mengajukan proposal pada papa untuk mengenakan jilbab di sekolah. Saat itu tidak direstui. Sebenarnya bukan karena tidak demokratis. Tapi papa belum mengerti bahwa ini kewajiban, dan papa takut ini masih gejolak kawula muda yang mencari jati diri. Rasanya mama malah sempat bilang, nanti saja pakai kerudung kalau sudah menikah. Tapi ya sudahlah. Saat itu saya sangat orangtua-minded, maksudnya saya sangat mengagungkan kepatuhan terhadap orang tua. Jadi saya nurut aja. Yaa memang nyatanya saya ternyata mengalami masa abg yang banyak gaya, ngeceng sana ngeceng sini, hihi. Dulu lagi musim nge gank, populer2an, ada pemilihan king queen segala di sekolah (zzzz ga penting banget deh penobatan itu). Tapi saya ngga pacar2an seperti yang lain. Bukan karena haram (blm tau apa apa tentang itu), tapi karena kata papa nanti aja pacarannya kuliah tingkat 2.  Jadi ya sudah saya terima nasib saya ngeceng ngeceng saja. Lebih enak ngeceng, bisa banyak yang dikecengin. Haha.


Daftar SMA, lagi lagi saya mengajukan proposal untuk pakai jilbab. Alhamdulillah, melihat kesungguhan saya, papa restui. Yippiiiie. Masa MOS diwajibkan pakai baju SMP, so saya masih pakai setelan gaul itu. Begitu selesai MOS, pakai baju SMA yang tertutup. Alhamdulillah, i’m so relieved, walaupun –waktu itu-, saya lebih suka melihat muka saya tanpa jilbab daripada dengan jilbab, karena muka saya bulat, dan jilbab segiempat itu bikin muka saya terlihat tante tante. Tapi ya itu tadi, saya merasa ada kebebasan di dalamnya.





Alhamdulillah yaaa sekarang gampang banget cari baju. Mau pakai abaya polos aja ngerasa cukup pede, karena cuttingnya bagus, bahan kerudung juga bagus bagus. Thanx to fashion ;p  Makin ke sini baju saya semakin longgar tapi ngga old fashioned, makin longgar saya merasa semakin bebas, selain bebas badan ngga jadi obyek pandangan/syahwat, saya juga jadi merasa bebas dengan keterikatan harus tampil jadi pusat perhatian, keterikatan dengan bagaimana orang melihat kita secara fisik. Potensi penyakit hati dengan berhijab makin longgar sih tetap ada, tapi potensinya sudah jauh dipangkas:) and i'm so happy with myself now.

Disclaimer: Sungguh saya baru tahu kalau hari ini adalah Hari Hijab Internasional. Tiada sedikitpun terbersit menjadikan hari ini spesial secara spiritual, karena memang tidak ada tuntunan apapun. Ini juga kayaknya baru baru dicanangkan ya, ga tau juga, kok tiba2 hari ini seliweran Hijab Day di newsfeed FB. Selama bukan terkait ritual, saya mengambil pilihan untuk membolehkan menjadikan hari hari tertentu sebagai 'momen khusus untuk menjadi reminder.


Friday, January 24, 2014

Tugas yang Sesuai dengan Usia Anak

 

Dapet ini dari sini: http://www.flandersfamily.info/web/wp-content/uploads/2013/11/Age-Appropriate-Chore-Chart-for-Children.pdf

Buat catatan pribadi

housechores

Saturday, January 18, 2014

Pede Bicara Seksualitas pada Anak

Tulisannya masih berantakan paragrafnya, haha... dah malem ah benerinnya besok aja.. *kalo sempet*

*prolog macam apa ini*

*kalo nunggu editing sempurna bisa gak kelar2 ini tulisan, nasib emak emak :D*

*abaikan*

Hari ini menghadiri seminar parenting mengenai PD Bicara Seksualitas pada anak, oleh Elly Risman.

Sepertinya sudah banyak ya peserta seminar beliau yang menjelaskan gambaran besar perhatian bu Elly Risman, yaitu masalah pornografi dan media.

Supaya nggak capek nulis (hehe dasar males), berikut ini salah satu blog yang membahas seminar Ibu Elly Risman http://sovianavratilova.wordpress.com/2012/09/03/anak-anakku-generasi-z-catatan-dari-tetralogy-seminar-supermoms/  (halo teh Ivaa, numpang masukin link yaah hiihi). Tadi ngga dibahas sih topik keseluruhan tetralogi supermoms. Tulisan tersebut buat intermezo tulisan saya aja :D  Untuk pembuka, tadi juga dipaparkan fakta fakta baru, betapa anak anak tidak dibekali tentang bagaimana menjaga tubuh dan kehormatannya. Jangan salah, dengan rasa ingin tahu yang besar tentang apa yang mereka lihat dari tivi dan majalah, mereka akan meniru, walaupun ngga ngerti. Merinding gak sih diceritain ada anak kecil (lupa umur berapa, kayaknya 5-6 tahun?) dateng ke ibunya ngomong: “mamah mamah tadi aku sama temen main bercinta bercintaan doong”, apa coba yang mereka lakukan. Hmm.. ga tega menuliskannya di sini.

Fokus seminar yang saya ikutin lebih ke arah bagaimana membicarakan seksualitas pada anak. Emang sepenting apa sih? Kenapa harus dibicarakan? Tabu banget yaa bicara masalah giniaan.

Oh iya ketika ngomongin seksualitas, kita bicara jg mengenai totalitas kepribadian; apa yang dipercayai, dirasakan, dan bagaimana bereaksi ; bagaimana berbudaya, bersosial, dan berseksual ; bagaimana tampil ketika berdiri, tersenyum, berpakaian, tertawa dan menangis ; bagaimana menunjukkan siapa diri kita. So... bukan masalah yang ‘whatever you are thinking now’ aja yaa...

Nah, sudah nggak jaman lagi kita tabu tabu ngomongin ginian. Media aja udah ngga tabu nampilin yang begini. Adegan porno aja tersebar mudah di ujung buku jari, sinetron abg yang yah you know lah, isinya cinta cintaan, rebutan pacar, bullying, dll. Kalo kita masih aja malu malu ngomongin ini ke anak, ehhhh siap siap aja diambil sama media, diambil sama tayangan tayangan gak mutu di stasiun stasiun televisi kita, acara2 ga jelas yang isinya bullying, slapstick, penampilan alay, penampilan host yang melambai, dan joget joget kesurupan. Yahhh gimana anak2 kita gak makin banyak yang melambai kalo yang di tivi lihat begituan.

So... seminar ini ngasih petunjuk bagaimana berbicara pada anak, dengan memperhatikan karakter komunikasi anak juga, selain usia, kemampuan berpikir, dan perkembangan emosi.

MEMBUAT KURIKULUM

Oke pertama tama, kita harus siapkan ‘silabus’. Materi apa saja yang mau kita kasihin ke anak. Tulis ya ibu bapak. Pajang di tempat yang kita lihat setiap hari. Boleh cermin  tempat kita dandan, boleh lemari baju, dll.  Berikut ini contohnya yaa




























KegiatanMentorJadwal
Penjelasan dampak TV, plus minus tv, i nternet, PS, HP, dllAyah BundaNovember
Penjelasan persiapan BalighAyahDesember
Bagaimana bergaul yang baikBunda, KakakJanuari
Konsekuensi menjadi orang dewasaAyah BundaFebruari

 

Okay, that schedule above sounds strict ya. Santai aja. Ini Cuma buat pengingat kok. Aplikasinya mah silahkan atur atur aja dan ngga harus saklek jadwalnya. Masalahnya, kalo ngga bikin ginian, kita banyak lupanya (haduhhh saya bangett hiks).

Tabel di atas hanya contoh, silahkan atur atur lagi hal apa yang ingin kita bicarakan ke anak. Lihat lihat usia anak juga yaa. Bahasan yang berat ya simpan untuk umur yang lebih besar. Kalo anak 4 tahun diajak ngomongin konsekuensi jadi orang dewasa, ya kayaknya rumit juga yah, haha.

PETUNJUK MENJAWAB PERTANYAAN ANAK

Bu Elly menunjukkan hasil survei ke anak SD, sekitar kelas 4-5, yang berisi pertanyaan apa saja sih yang mereka penasaran sama jawabannya, terkait seksualitas. Hasil surveinya mengagetkan, pertanyaannya... mengerikan mengerikan, kalo  buat yang asalnya konservatif seperti saya. Nih contoh:

-          ML itu apa sih?

-          Malam pertama itu apa?

-          Kenapa kok kondom ada rasanya?

Sulit dipercaya bukan. But hey, that’s the fact. Ya sudahlah kita harus melanjutkan hidup kita kan. Nyatanya anak anak kita memang mikirin hal itu. Mending kita fokus menghadapinya saja.

Berikut urutan menjawab pertanyaannya (urutan ini harus dilatih. Serius, kalo ga dilatih tetep aja gelagepan biarpun tahapan berikut sudah dihafal luar kepala)

  1. Tenang dan kontrol diri

  2. Tarik nafas panjang, santai ajaaaa.....

  3. Cek pemahaman anak


“yang kamu tahu tentang itu apa?”

Inget, jangan bertele tele nanya tau dari mana, bla bla.. fokus aja sama pemahaman anak sejauh apa, so kita bisa jawab tepat sasaran

  1. Kalo kita merasakan sesuatu, katakan (opsional)


Misalnya kita mau mengekspresikan kekagetan kita (karena sudah kadung berekspresi kaget misalnya, hihi). Contoh: “Waahhh bunda kaget nak, ga nyangka kamu nanya itu”

  1. Jawab pertanyaannya. Khusus point nomer 5 ini, ada tipsnya

    1. Tangkap inti pertanyaan. Bisa jadi anak nanyanya juga agak panjang. Kita sendiri yang perlu mencerna, intinya apa sih, supaya jawabannya juga bisa tepat sasaran

    2. Beri jawaban yang terbaik saat itu dan kaitkan dengan norma agama

    3. Kaitkan dengan seseorang yang dekat dan dikenal anak

    4. Pendek dan sederhana




Kalau tidak bisa jawab/belum tahu, tunda dengan jujur. Tapi kasih tenggat waktu, asal jangan kelamaan. Minta waktu 1 hari deh.

Kalaupun kita memang perlu menjelaskan dengan panjang lebar dan tinggi, jawabannya tidak usah diborong saat itu juga, karena otak anak anak ternyata tidak bisa mencerna informasi yang terlalu banyak. Rule of thumb nya, cukup jawab 15 kata. Singkat, padat, efektif. Kalau masih perlu menjelaskan, jelaskan di lain waktu. Jawaban penuh dibagi menjadi beberapa sesi, namun 1 sesi punya kesimpulan kunci. Bu Elly menyarankan kesimpulan kunci itu terkait dengan akidah, wujud taqwa pada Allah

 

ILUSTRASI PERCAKAPAN

.......

(tulis nggak yaaa.... spoiler dong buat anak anak remaja, hihi)

 

PERSIAPAN MENJELANG BALIGH

Buat anak laki laki yang mulai ada tanda tanda mau puber

-          Jelaskan perbedaan mani dan madzi

-          Jelaskan tentang mimpi basah

-          Terangkan mengenai kewajiban menjaga pandangan dan kemaluan

-          Kasih tau bahwa setelah puber, mereka sudah menjadi dewasa dan menanggung konsekuensi amalnya masing masing

-          Jelaskan alat reproduksi laki laki

-          Cara bersuci

Buat perempuan

-          Jelaskan alat reproduksi perempuan

-          Terangkan mengenai kewajiban menjaga pandangan dan kemaluan

-          Jelaskan apa itu menstruasi, bagaimana terjadinya

-          Kenalkan jenis jenis pembalut. Bekali anak dengan pembalut walaupun dia belum menstruasi, tapi sudah ada tanda tanda mau puber

-          Cara bersuci

-          Cara membersihkan darah haid pada pembalut, belajar bertanggungjawab atas yang keluar dari kemaluannya, termasuk ga jijik dan sembarangan buangnya.