Thursday, December 12, 2013

Raul 2 thn vs Raul 5 thn

Raul di usia 2-3 tahun: (saya baru berani bilang sekarang di saat fase nya sudah lewat, dulu mah ngga akan saya sebut sebut)

Takut ketemu orang, kalau ada anak anak ngumpul ga mau gabung, seolah minderan, kalo jalan jalan di lingkungan tetangga selalu nunduk kalau ketemu orang dan ngajak cepet cepet, tidak mau jadi pusat perhatian, tidak berani tampil (saat tampil di school play, dia berdiri nangis teriak2 di depan penonton –yang lalu akhirnya dibawa ke belakang panggung dan ngga jadi tampil)

IMG00501-20110501-1631

Raul, sekarang, di usia 4-5 tahun

Ramahhh sekali, suka kalau main sama teman teman, bahkan ngemong sama anak anak yang introvert, semangat untuk tampil dan menunjukkan kemampuannya, jiwa kepemimpinan baik, kalau di acara yang ada panggungnya, akan mendekati panggung dan minta kesempatan tampil.

Apa yang terjadi ya?

Saya juga ngga tahu tuh, hehe

Yang pasti saya tidak melabeli apapun. Yang saya ingat cuma saya melindunginya kalau bertemu dengan orang orang negatif yang selalu melabelinya. Kalau dia mendengar sesuatu yang buruk, saya akan netralisir. Tapi, kalaupun setelah stimulasi optimal, Raul tetap pemalu, yaa... emangnya kenapa, ya ngga apa apa juga kan, hihi.

I believe, a child's potential will manifest at a specific time that we cannot predict.

Just keep believing in your child:)

2013-06-09 09.32.28 2013-06-15 10.34.57

Wednesday, November 13, 2013

Kebenaran Allah

Berinteraksi dengan berbagai orang, di dunia maya, dunia nyata, sungguh tak ada satupun yg selalu sepemikiran denganku. Daan akupun yakin ga ada satu orangpun di dunia ini yg otaknya sama, selalu sepemahaman, termasuk dlm mempersepsikan kebenaran. Kebenaran jd relatif dan bisa diperdebatkan.

So, ku kembalikan lagi sajalah pada Yang punya pengetahuan terhadap kebenaran mutlak.

Allahummaa arinal haqqa haqqan warzuqnajtibaa wa arinal baatilaa baatila warzuqnajtinaaba

Kejang Demam (Lagi)

Okay, this is getting scary for me..

Total total Rara sudah mengalami kejang demam sebanyak 5x

1x (simple) saat usia 11 bulan

2x (kompleks) saat usia 14 bulan

2x (kompleks) saat usia 15 bulan

Mulai membuat gelisah krn tidak banyak bacaan yang berhasil didapatkan dengan kondisi kejang demam kompleks. Kejang demam kompleks yaitu kejang demam yang terjadi lebih dari 1x dlm periode 24 jam (pada 1 siklus panas yg sama tentu). Biasanya literatur (baik itu artikel populer maupun yang 'sepertinya' ilmiah) membahas kejang demam dengan bahasan yang berakhir pada apa yang dimaksud dengan kejang demam kompleks (kriteria). That's it. Tidak ada penjelasan kalau kejang demam kompleks lalu harus bagaimana. Ndilalah, kayaknya artikel2 kejang demam ini saling copas atau gimana ya. Isinya kok sama sama aja, heu.

Oleh sebab itulah, selama kurun waktu usia Rara seputaran 1 tahun sampe 15 bulan itu, rasanya cukup sering bolak balik ke dokter, karena aku merasa ngga bisa mengandalkan pegangan bacaan selama ini.

Alhamdulillah, pak dokter bantu2 cari literatur tentang kejang demam kompleks

 

Duh.. dilanjut kapan2 deh, hihi..

Wednesday, October 2, 2013

Busyyyy, Exhausting, & Fun Weekend

Kamis sampe Minggu lalu ada di Bandung. Kesempatan superrr jarang bisa ada di Bandung dalam waktu yang cukup lama. Biasanya ke bandung weekend, dan ga sempet ngapa ngapain, cuma main ke aki nini 2R aja. Mau ada tujuan ke tempat lain, waktunya ngga pernah ada. Maka... kesempatan ini digunakan... sebaikkkk baiknyaa hehehe...

Hari kamis dipake buat kunjungan ke Pasar Baru, sebenernya yang berkepentingan mama, beli bahan kaos buat jahit ciput. Laluuu.,... ngurus2 masalah air dll di rumah Bandung. Seperti biasa, begitu sampai rumah, Raul pingin naik kuda. Baiklaaahh naik kuda... (kuda hari gini mahallll 1 putaran 5rb doong padahal dulu jaman saya kuliah, cuma 2rb. Haduhh inflasinya persis dengan lumpia basah, 2ribu ke 5ribu)

Sudah diniatkan dengan tekad bulat bahwa hari Jumat mau melakukan hal hal yang tidak pernah bisa dilakukan jika ke Bandung sama ayah saat weekend, yaituuuuhhh.... jogging di Sabuga, main ke museum geologi utk nunjukin kerangka T Rex ke Raul, dan ke Taman Lalu Lintas!

Kesempatan langkaaa bisa ke Sabuga pagi pagi dan menghirup udara segarnya. Melihat orang orang semangat olahraga, melihat para lansia semangat rumpi rumpi sambil jalan cepat dengan sesamanya. Sooo energizing. Baru aja lari 1 lap, Raul ngikut di belakang, pingin ditungguin. Hiks... kaga pernah olahraga, skalinya masuk track lari, anak minta ditemenin. Akhirnya lari super pelan asal bisa diikutin, tp akhirnya Raul cape jg dan maksa diriku utk berhenti. Tp krn merasa anak ini ga bakal ilang, aku lari aja terus memuaskan urusan olahraga yang sudah kepending selama beberapa generasi. Di belakang Raul manggil manggil sampe nangis *huhu jahat mode ya saya* pokoknya dari awal sudah dikasihtau konsekuensi dari ikutan lari. I had told him not to join me lhoo...  Lalu di belakang disamperin ibu2 dan diajak jalan bareng krn disangka anak ilang, pdhl dari jauh aku jg ngawasiiiin, lhah aku cuma lari kecil bolak balik bbrp meter di depannya *sigh*

IMG02822-20130913-0714

Nahh setelah Sabuga, next destination is... Museum Geo. Senaang, krn ada yang mau join saat ituuu yaitu Sansan. Udah semangat 45 kitaa ketemuan di museum Geologi. .... dannnn tutup doooong, hari Jumaaat tutuuup .. haduuuhhh luar binasa kesel, hehe. Yasudahlah... masih ada tujuan lain... Taman Lalu Lintas!

Berhubung Rafa nya Sansan blm sarapan, mampirlah kita beli 'perbekalan piknik' buat di Taman Lalin. Beli roti, beli minuman ringan dll. Lalu kami meluncur ke Taman Lalin..

TUTUP JUGAAAAAAA *jambak rambut garuk2 tanah* apa apaan iniiihhh...

Berhubung aku ga ada ide, Sansan ga ada ide.. bener2 ga kreatif yaaa hihi.. akhirnya kami berpisah dan kembali ke habitat masing masing.

Keesokan harinya, dengan semangat 45, we headed to Museum Geologi

IMG02834-20130914-0902 Biar rame, share fotooo hari ini liat kerangka t-rex sama tengkorak manusia purba d museum geologi IMG02865-20130914-0944

Sampai jugaaa kami di sanaaa *terharuu*  kesampean jugaa lihat T Rex. Raul seneng banget di lantai 2 lihat kejadian erupsi, emang doi lagi seneng2nya ngebahas lempeng2 bumi begituu. Tp krn acara kami padat hari itu, di museum gak lama2. Padahal pingiin tuuuh sambil ngejelasin tentang kejadian terbentuknya bumi yang ada gambarnya lengkap di situ. Tapi yaa dijelasin selewat aja dehh. Keburu siaang ntar kepanasan di taman lalin.

Horeee terharu jugaa masuk taman lalin. Sangaattt murah dibandingkan masuk taman mini, tp dengan kepuasan yang sama, bahkan lebih. I dont even remember last time i went there, krn saya masih bayiiik, haha. Ternyata isinya seruuu, wahananya banyak tapi gak terlalu luas, jadi bs menjelajah tanpa jalan terlalu capek. The great thing about this park is... kita bisa menikmati isinya tanpa harus ikutin wahana2nya yang kudu bayar itu. Ada ayunan, ada perosotan, jungkat jungkit, dll, all for free (kecuali bayar masuk yahh, yang murah juga kook). Ada juga bangku bangku utk duduk dan sekedar chit chat sama keluarga.

Kopdar juga niiih sama mak mak GajahMotherhood. Sayang Sansan ga jadi ikutan karena ada ondangan. Di situ ketemu Essa, Rina, dan Elma, dengan anak anaknyaa. Puaasn naik sepeda, naik kereta, naik kuda putar *lah mendadak lupa namanya* -->baru ingat, carrousel, mancing mancingan.. dan yang bikin terharu... saya menemukan bapak bapak jual gasing tradisional.

Lah apa istimewanya gasing??

Jadi.. sudah bbrp minggu ini anak lanang minta gasing, yg diomongin gasiiing melulu, krn lagi baca buku ensiklopedi WWP yang tentang how things work gituu, ada gasingnyaa. Haduuh bingung jg nyari gasing di mana, akhirnya aku suruh Raul berdoa, hayuk Raul berdoa aja minta gasing ke Allah, bunda ga tau carinya di mana, tp kalo Raul berdoa, insyaaAllah Allah kasih jalan. Akhirnya aku tuntun tuh kata2 doanya, "Ya Allah,.. Raul minta gasing dong ya Allah" Blm ada seminggu lho. Alhamdulillaaaah Allah kabulkan, hihi.

IMG-20130914-WA0004
IMG-20130914-WA0003 (1)Alhamdulillaahhh... senaaang... puaas.

Ehm blm puas sih sebenernya, belum semua dijelajahiii...

Tapi tetap bersyukuuur, hari hari di Bandung padat dan bermanfaat.

Berhubung setelah itu mau menyiapkan pameran, jadi  field trip nya libur duluuuu. Selanjutnya bertekad akan sering sering kasih anak anak new experience. Selalu baruuu, selalu belajar. Mudah mudahan jadi anak anak pintaaar dan pemimpin yang hebaat. Aamiin.

Sunday, September 1, 2013

Menentukan Genre Pendidikan Anak

Hello readers..Assalamualaikum

Apa yang saya tulis di bawah, semata mata berasal dari seorang awam yg ingin bebersih otak. Im not the expert, dan tidak sedang berusaha menyampaikan kebenaran utk semua ya. This is just what’s in my mind. Can be wrong. Can be right. Allah is The All Knowing. Latar belakangnya adalah kebanjiran info teori pendidikan anak yg kalo ditilik, bisa bertentangan satu sama laen. Coba deh baca baca tentang Tiger Mom dan Unschooling. Wedehhh beda bangett. Tapi keduanya mengklaim mencetak anak yang keren.

Jadi inget dulu bahas Montessori di WA, trus ada yg nyeletuk: “eh Maria Montessori kan anggota freemason”. Batinku, Ah syuuss? Montessori yg salah satu kiblat parenting kuh??  Montessori yang teorinya membuat aku jatuh cinta?

Monggo browse ttg montessori, video2 aktivitasnya, teorinya. Keren banget dehh, apalagi liat kelas di sekolahnya, so amazingJ  Aku sempat banyak belajar dari kelas montessori, dari diskusi dengan pelaku montessori. Raul, sulungku, kurang lebih cetakan montessori juga tuh.  Monggo browse juga makhluk apaan itu freemason.

Oh well, iseng aja deh aku googling tentang Maria Montessori, cukup banyak sumber yang membenarkan keterkaitannya dengan freemasonry. Gak Cuma itu, ada jg yang nyinggung nyinggung Ki Hajar Dewantara juga. Yap. Bapak pendidikan. Memang seingatku Ki Hajar itu ngefans sih sama Montessori, dan menjadikannya sebagai inspirasi. Ada bahan bacaan tambahan nih. Terserah lho ya percaya atau nggak. Aku sih ngambang antara percaya dan tidak (tp cenderung percaya #loh), hehe. http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/acuan-hardiknas-ki-hadjar-dewantara-atau-kh-achmad-dahlan.htm#.UiMs0tKGFrc

Aku ngga sedang menyampaikan bahwa berita (montes & freemason) itu benar loh. Dalam dunia konspirasi, kebohongan pun bisa disampaikan oleh pihak yang –seharusnya- reliable. Sebaliknya, kebenaran bisa jadi disampaikan oleh seorang tak dikenal dalam sebuah blog gratisan. So.. jangan percaya apapun yang kau dengar/baca, Dan jangan pula tidak percaya. Nah lho bingung kan, haha.  Pada akhirnya, fakta akan kondisi dunia ini yang jadi petunjuk, berita itu benar atau tidak, atau hanya sekedar kemungkinan benar.  Ah sudahlah, sejarawan jg bukan, aku gak berani mengklaim apa apa. Sejarah pun bisa beda tergantung siapa yang menceritakannya. Eh btw, rupiah jatuh sekarang juga ada aktornya lho. Gampang banget lah kalo mau ngancurin Indonesia, tinggal si aktor jentikkan jari (eahhh potensi oot detected. Stop)

Di sisi lain, aku jg mikir, what is the worst thing could happen kalo aku menerapkan montessori, toh ajarannya bagus. Iya kan bagus? Ngajarin kemandirian, tanggung jawab, saling menghormati, endebreh endebreh. Nahh tp dalam rangka waspada, baiklah kita cari tahu, akan sesesat apa aku jadinya kalo menerapkan montessori murni.

Ternyata, montessori dan freemasonry, sama sama mengusung hal yang sama, yaitu humanisme.

Humanisme? Sounds cool. Lucu ya kalo jadi nama band. Apa Humania terinspirasi ini? Krik krik... (sok sok bikin kaitan konspirasi, qiqiqi)

Terdengar netral2 saja. Se netral kata ‘semesta merestui’..

Senetral kata demokrasi.

http://examples.yourdictionary.com/examples/examples-of-humanism.html

Humanism emphasizes human dignity and the love of nature. This philosophy sees humans solving problems with rational thought and without the influence of secular or religious institutions. Humanism supports individual liberty, as well as human rights and responsibility for humankind and the planet.

 http://id.wikipedia.org/wiki/Humanisme

Humanisme modern dibagi kepada dua aliran. Humanisme keagamaan/religi berakar dari tradisi Renaisans-Pencerahan dan diikuti banyak seniman, umat Kristen garis tengah, dan para cendekiawan dalam kesenian bebas. Pandangan mereka biasanya terfokus pada martabat dan kebudiluhuran dari keberhasilan serta kemungkinan yang dihasilkan umat manusia.

Humanisme sekular mencerminkan bangkitnya globalismeteknologi, dan jatuhnya kekuasaan agama. Humanisme sekular juga percaya pada martabat dan nilai seseorang dan kemampuan untuk memperoleh kesadaran diri melalui logika. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini menganggap bahwa mereka merupakan jawaban atas perlunya sebuah filsafat umum yang tidak dibatasi perbedaan kebudayaan yang diakibatkan adat-istiadat dan agama setempat.

Maap lagi nih, aku bukan ahli dlm hal ini. Kalo definisi humanisme menurut 2 sumber yg kucomot di atas salah, wahh kasih tau yah. Jangan langsung percaya yah sama aku. Hehehe

Sesuatu yang mengesampingkan agama, memisahkan agama, ya sekuler lah namanya. Sekuler, jelas bukan prinsip islam. Kecuali yg ngaku islam di bawah Islam liberal yah.

Filosofi Islam yang kuanut sekarang, adalah sesuatu yang mungkin dianggap tidak netral oleh kaum naturalis atau humanis (murni). Rhona Bryne boleh saja berteori bahwa takdir digerakkan oleh pergerakan partikel dalam alam semesta, yang sebenernya ‘rahasianya’ adalah di pikiran manusia. Demokrasi boleh mengutamakan apa yang dipentingkan oleh rakyat. Humanisme boleh berfokus pada kepentingan dan keberhasilan manusia. Tapi yang aku pegang, tidak berhenti di situ. Semua berpangkal disebabkan oleh Allah, dan dibatasi oleh aturan Allah. Semua teori tersebut jadi salah kaprah, karena bebas dan berpotensi meniadakan Allah. Kita di dunia, bukan utk misi mensejahterakan manusia, tapi jadi khalifah, membawa misinya Allah, bukan? Kesejahteraan manusia adalah efek, bukan tujuan. Cencuhh banyak yg gak setujuu. Gakpapaa, kita jalani misi masing masing saja lah kalo geto.

Dalam montessori murni (bukan momontessorian alias pendidikan yg cuma comot comot metoda montes), semua agama dibolehkan masuk. Semua negara dikenalkan. Semua budaya dikenalkan. Semua agama dikenalkan. Saat idul fitri, kita lebaranan, saat natal, kita natalan. Tujuannya adalah sesuatu yang –tampaknya- bagus, yaitu toleransi, empati.

Aku pun sebetulnya agak2 mempertanyakan kenapa di buku kegiatan Raul dulu waktu di montessori (yg mengedepankan islamic value) ada pengenalan sama santa claus. Tapi knapa ya waktu itu lupa lupa wae mau nanyain ke gurunya.

Sebetulnya tulisan ini digerakkan oleh wacana parenting yang baru aku dengar yaitu unschooling. Begitu baca2, widih keren juga, tapi kok dapat kesan ini juga salah satu cara parenting humanis ya? Ternyata di belantara internet, banyak yang mengkaitkan unschooling dengan humanisme. Ngerinya, aku menemukan sebuah tulisan seseorang yang murtad dan dia menyatakan bahwa unschooling berperan besar dalam hal ini (unschooler.com) .  Yaa.. gak heran sih. Output dari pendidikan model begini adalah si anak yang menemukan dirinya sendiri. Kalau dia menemukan Allah dalam proses tersebut, wahh kebayang deh anak macem ini pasti akan jadi seorang muslim yang keren.

Hidayah memang domain Allah. Tapi, bukankah punya peran menjadikannya Islam, Nasrani, atau Majusi?

("Tidak lahir seoarang bayi kecuali dilahirkan dalam keadaan suci, kemudian kedua orang tuanya yang menjadikan Yahudi, Nasrani dan Majusi" (HR. Al-Bukhari Muslim) http://www.eramuslim.com/dakwah-mancanegara/kisah-mualaf-yang-membuat-para-muslim-menjadi-malu.htm#.UiN9gtKGFrc

Trus mau ngomong apa lagi ya aku, bingung..

Uhmm... *penyakit menulis tidak terstruktur, gakpapalah.. namanya jg bebersih otak*

Aku nggak sedang bilang kalo montessori atau unschooling sesat loh yaa. Sungguuuh itu bukan domain aku utk menentukan. Sampe sekarang pun aku suka intip intip web montessori mama utk nyari ide aktivitas buat anak. Apalagi ada yg disebut islamic montessori, islamic unschooling sebagai bentuk adaptasi dari teori asalnya. Jd inget bu Julia kepseknya Rumah Bermain Padi ngedongeng, dulu belio sekolah jauh2 ke eropa belajar ttg montessori, tp belio ngerasa something is missing. Ya sudah belio pulang dengan mengadaptasi teori tersebut yang sesuatu dengan akidah islam. Yahh kalopun dengan memberi label islamic lalu menjadi ‘less universal’, dan justru mengurangi esensi prinsipil dari montessori itu sendiri, gakpapa laahh gak penting ituuu buat sayaa, hoho.

Nahh sekarang, daripada lieur sama teori parenting yang berserakan di luar sana, lebih baik waspada aja sama kemungkinan penyisipan ideologi2 lain yang halus banget. Perkuat akidah, dan kaitkan semua hal ini adalah kuasa Allah. Berdoa terus dehhh supaya kita tetep dijaga sama Allah. Diri ini tetap membuka hati lebar lebar utk semua ilmu Allah melalui teori ciptaan dari makhluk ciptaanNya.

Wallahu a'lam bis showab. Kebenaran hanya milik Allah. Kita manusia cuma dikasih pengetahuan secuil:) Semoga Allah menjaga kita.

(Maaf ya... ending tulisannya gak menjawab judul tulisannya, qiqiqi)

Monday, August 26, 2013

[Renungan] Ibu : Bekerja atau di Rumah ? (part 3 of 3)

https://www.facebook.com/notes/elma-fitria/renungan-ibu-bekerja-atau-di-rumah-part-3-of-3/10151818978712660

... lanjutan dari [Renungan] Ibu : Bekerja atau di Rumah (part 2 of 3).

Dari sudut pandang tentang anak.

Seperti halnya jodoh, yang sudah Allah pasang-pasangkan sedemikian rupa. Maka anak dan ibu pun demikian, sudah Allah pasang-pasangkan. Ibu yang ini untuk anak yang ini. Ayah yang ini, untuk anak yang ini. Allah menjamin tidak akan salah pasang, tidak akan salah menempatkan, dan tidak akan salah memberikan situasi.

Jika ibunya cerdas, dan ayahnya cerdas, silakan mengira-ngira, seperti apa anak yang akan Allah titipkan ? dan mengapa anak itu harus dititipkan pada orang tua yang ini ?

Maka, lagi-lagi, pasti ini ada tujuannya. Bagian dari misi penciptaan kita. Menjadi ibu adalah salah satu misi wanita diciptakan. Menjadi ayah adalah salah satu misi laki-laki diciptakan. Jadi observasi dengan menyeluruh, bagaimana kita bisa menjadi orang tua yang tepat untuk anak yang ini ? sesuai dengan tujuan Allah memasangkan kita dengan anak itu.

Dari situ, bisa dilihat apakah saat ini, pilihan untuk bekerja dulu, atau fokus di rumah dulu, sebagai pilihan yang tepat ? Ingat lho, “saat ini”. Karena bulan depan, tahun depan, bisa jadi beda lagi kesimpulan kita. Makanya, satu-satunya cara untuk tahu : pasang mata dan telinga batin, lalu tanya pada Allah

“what do YOU want me to do now ?”

Kaitannya dengan batas waktu, koridornya dalam Islam hanya : susui anak kalau bisa sampai 2 tahun, ajari anak shalat mulai 7 tahun (dan kalau usia 10 tahun belum shalat boleh dihukum), dan mempersiapkan anak masuk usia baligh (karena setelah baligh, pahala dan dosa mereka yang tanggung sendiri).

Dari sudut pandang tentang suami.

Ada anggapan yang umum : bahwa laki-laki ketika menjadi ayah sekali pun, punya kebebasan berada di luar rumah, dalam pekerjaannya, atau dalam aktivitas lain. Bisa kemana saja sesuka hati. Sementara wanita, ketika menjadi ibu, ruang gerak terbatas, seringkali hanya bisa di rumah saja, tidak bebas, tidak bisa kemana-mana dengan sesuka hati.

Well, untuk tahu apakah anggapan ini benar dan baik untuk dipercaya, atau justru menyesatkan pikiran, saya bertanya ke suami. Dan inilah jawabannya :

Lelaki (suami) baik-baik tidak pernah menganggap : berada di luar rumah – bekerja - beraktivitas lain, sebagai “enak-enak” atau “kebebasan”. Jika ada laki-laki yang berpikir itu kebebasan, maka dijamin dia bukan laki-laki yang baik.

Maka, wahai semua wanita, jangan mau merasa  iri dengan yang seperti itu. Jangan mau merasa “bebas” seperti itu, karena yang kau iri-kan, yang kau cemburui, sebenarnya bukan gambaran laki-laki baik-baik. Anda salah mengira.

Laki-laki yang baik akan membawa beban tanggungannya dalam pikirannya kemanapun dia melangkah. Setiap ikhtiarnya penuh doa semoga bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga. Sebelah mana bebasnya ? sebelah mana enak-enaknya ?

 

Dalam ikhtiarnya, hampir selalu berhadapan dengan ketidakpastian. Ada saja yang tidak bisa diukur dari amanahnya. Cukup atau tidak untuk keluarga, barokah atau tidak, halal atau tidak, sesuai kompetensi atau tidak, berurusan dengan atasan dan bawahan bagaimana, dll. Sebenarnya, dunia di dalam rumah seperti urusan rumah tangga dan pengasuhan anak, justru lebih mudah terukur.

 

Jika wanita sering melihat suami yang baik-baik pun ketawa-ketawa di luar seolah hidup begitu bebas dan bahagia. Ah, itu karena, tidak semua laki-laki pandai mengekspresikan pikiran beratnya dan doa-doanya melalui raut wajahnya.

 

Jadi tak perlu lah saling iri. Karena dalam tugasnya, suami tidak mengambil jatah wanita dalam keutamaan dan kebahagiaan sebagai istri dan ibu. Begitu pun istri, dalam tugasnya, tidak mengambil jatah laki-laki dalam keutamaan dan kebahagiaan sebagai suami. Tidak ada yang saling mencuri jatah. Masing-masing punya jatahnya sendiri-sendiri.

Dengan sudut pandang ini, kita bisa memahami, bahwa jika suami dan istri bersepakat untuk si istri bekerja di luar rumah, maka hanya akan baik jika : bukan karena istri melakukan kewajiban suami. Hanya akan baik jika : istri murni melakukan itu untuk atualisasi dirinya. Hanya akan baik jika : suami dan istri sama-sama paham bahwa jika istri ikut menanggung kebutuhan keluarga, maka itu shadaqah. Oleh karena itu, tidak boleh ada paksaan. Tidak boleh ada tekanan, apalagi tuntutan.

Sebagai sepasang manusia yang sudah Allah takdirkan untuk bersatu, mulailah selalu dengan keyakinan bersama : apa yang Allah minta dari kita sekarang ?,

lalu perjelas melalui diskusi berdua karena butuh sama-sama paham dan sama-sama enak,

lalu sepakati, dan bergeraklah atas kesepakatan tersebut.

Sering-sering evaluasi pilihan-pilihan yang sudah diambil.

Dan pastikan, selalu, hadapkan wajah berdua hanya pada Allah. Lalu pastikan selalu menatap ke depan, ke arah yang Allah tunjukkan.

Apapun yang Allah pesankan saat ini pada anda, bekerja dulu ataupun di rumah dulu. Then you are in the right track to heaven :) . Congratulations Mom :)

[Renungan] Ibu : Bekerja atau di Rumah ? (part 2 of 3)

Inih lanjutannyaa di copas dari link inih


https://www.facebook.com/notes/elma-fitria/renungan-ibu-bekerja-atau-di-rumah-part-2-of-3/10151818885352660

 

... lanjutan dari [Renungan] Ibu : Bekerja atau di Rumah ? (part 1 of 3)

Okay, so now, what should I do ?

Tanya pada Allah SWT. Tanya pada yang membuat kita. Sebagai produk pabrik, maka bertanyalah pada si pemilik pabrik :

 

1.      1.  saya ini didesain untuk apa ?

2.      2.  untuk sampai pada misi pembuatan saya, saya harus melalui proses apa saja ?

3.      3.  Dan saat ini saya harus ada di proses mana ?

Sejatinya, hanya Allah yang punya segala jawaban yang kita tanyakan. Bukan forum ibu-ibu, bukan milis komunitas, bukan teman, bukan orang tua, bukan suami, bahkan ... bukan kita sendiri.

Pada dasarnya, hidup kita ini diperjalankan oleh Allah. Allah yang Menentukan kita akan belok kemana, parkir dimana, nge-gas dimana. Kita lah yang perlu pasang mata dan telinga batin, untuk mendengar petunjukNya.

Kita hidup dalam rencana Allah. Dan karena Allah Maha Mengurus hambaNya, maka dijamin, kita tidak akan ditelantarkan. Itu juga berarti, kita boleh, sangat boleh, percaya penuh pada rencanaNya.

Nah, Allah tidak selalu menjawab 3 pertanyaan tadi sekaligus saat ini. Dalam banyak kehidupan, Allah hanya memberi tahu kita beberapa tahun ke depan, atau bahkan beberapa hari ke depan. Ibaratnya, malam hari kita mengendarai  mobil di jalan panjang dan gelap gulita, dengan mengandalkan lampu mobil sebagai cahaya. Kita tidak bisa lihat ujung jalannya, tapi kita bisa lihat 20 meter ke depan dengan lampu mobil itu. Ya kita cukup percaya pada 20 meter di depan itu. 20 meter, lalu 20 meter lagi, lalu 20 meter lagi. Kita yakin, dengan mengikuti itu pun kita bisa sampai di ujung jalan.

Seperti itulah IMAN.

Percaya pada informasi dari Allah untuk 20 meter ke depan hidup kita. Iman yang membawa kita menjalani hari-hari dengan yakin. Karena pada hari-hari yang terbatas itu, kita percaya pada perintah Allah : jalanlah di jalan ini. Kita tidak tahu, untuk sampai di tujuan kita, kita akan dibawa belok kemana saja. Tapi kita tahu, kita akan dibawa Allah sampai ujung jalan, sampai ke misi penciptaan kita, hanya dengan terus menerus mengandalkan 20 meter di depan yang terlihat tadi.

And you know what ? that is enough. Sangat cukup untuk membuat kita hidup tenang dan yakin bisa sampai di tujuan kita. Asal ikuti pesan yang Allah berikan saat ini. Jadi pasanglah mata dan telinga batin.

Satu hal yang sangat saya yakini. Allah memberi bekal kekuatan pasti untuk sebuah maksud. Jadi seorang wanita diberi kecerdasan pasti juga untuk sebuah maksud. Dan itu pasti untuk sesuatu yang besar. Saya yakin, kecerdasan setinggi ini tidak hanya diberikan untuk beberapa orang yang ada di rumah saja. Terlalu banyak kalau hanya untuk suami dan anak-anak saja.

Maka pastilah kecerdasan tinggi ini dipersiapkan untuk amanah besar dan luas. Mungkin sebesar dan seluas umat. Dan amanah ini juga akan unik, sesuai misi penciptaan kita. Every task for every single person.

Jadi saya yakin, akan datang waktunya Allah menagih kecerdasan ini, untuk digunakan bagi kebaikan lebih banyak orang, untuk kebaikan umat. Nah, waktunya kapan ? biar Allah yang tentukan.

Allah Maha Tahu apa seorang hamba sudah siap dibawa ke amanah besarnya. Allah Maha Tahu, apa saja proses yang harus dilalui sampai seorang hamba siap menjalani misi penciptaannya. Maka pastikan, selama belum sampai ke amanah misi penciptaan kita, kita selalu meng-up grade diri kita menjadi lebih baik dan lebih cerdas.

Jika saat ini, misalnya, pesan dari Allah adalah : fokus dengan yang di rumah dulu. Maka yakinlah panggilan itu akan datang kok. Hidup kita masih panjang. Dan ketika panggilan itu datang, kita telah jadi orang yang berbeda dari kita sekarang. Ketika amanah itu datang pada kita, kita akan sangat bersyukur bahwa kita pernah dibina oleh Allah sebagai ibu rumah tangga di rumah, sehingga kita punya kekuatan-kekuatan yang tidak akan pernah kita punya jika kita tidak pernah jadi ibu rumah tangga.

Kehidupan rumah tangga, sebenarnya memberikan kesempatan seorang ibu melihat dirinya apa adanya, lepas dari penilaian kinerja perusahaan. Ini berarti juga kesempatan mengasah banyak sifat asli dalam diri kita. Jadi jika saat ini, misalnya, pesan Allah adalah : fokus di rumah, maka seorang ibu punya kesempatan memperbesar kapasitas keikhlasan, empati, kesigapan, termasuk iman.

Sehingga, pada saatnya amanah besar itu datang, kita akan tahu bagaimana mendahulukan kepasrahan pada Allah lalu diikuti dengan sebaik-baiknya ikhtiar.

 

... bersambung ke [Renungan]  Ibu : Bekerja atau di Rumah ? (part 3 of 3)